Indonesia sedang mempersiapkan pengiriman 1.000 tentara ke Gaza paling cepat pada April. Ribuan tentara tersebut merupakan bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional yang PBB amanatkan, kata seorang juru bicara militer pada Senin (16/02). Di samping itu, sebanyak 8.000 tentara akan Indonesia berangkatkan pada Juni. Namun, keputusan akhir akan menunggu perintah Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.
“Jadwal keberangkatan sepenuhnya bergantung pada keputusan politik negara dan mekanisme internasional yang berlaku,” kata juru bicara itu dalam pesan teks kepada kantor berita Reuters.
Kepala Staf Angkatan Darat Indonesia, Maruli Simanjuntak, sebelumnya memperkirakan bahwa antara 5.000 hingga 8.000 personel militer dapat dikerahkan oleh Indonesia. Namun, jumlah akhir tentara “masih dalam tahap negosiasi”.
Tentara Indonesia Tidak Akan Terlibat dalam Operasi Tempur di Gaza
Sebelumnya, pada Sabtu (14/02), Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan bahwa partisipasi militer Indonesia di Gaza sebagai bagian dari rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump tidak boleh diartikan sebagai normalisasi hubungan politik dengan Israel.
“Indonesia secara konsisten menolak semua upaya perubahan demografi atau pengusiran paksa atau relokasi rakyat Palestina dalam bentuk apa pun,” kata kementerian tersebut. “Pengerahan pasukan tersebut, yang memiliki mandat kemanusiaan dan non-tempur, hanya dapat terjadi dengan persetujuan Otoritas Palestina,” kata kementerian.
“Pasukan Indonesia tidak akan terlibat dalam operasi tempur atau tindakan apa pun yang mengarah pada konfrontasi langsung dengan kelompok bersenjata mana pun,” demikian bunyi pernyataan tersebut. “Pasukan Indonesia juga tidak akan memiliki mandat untuk melakukan demiliterisasi terhadap pihak mana pun,” tambah pernyataan itu.
Namun, mandat pasukan stabilisasi mencakup memastikan “proses demiliterisasi Jalur Gaza” dan “pelumpuhan permanen senjata dari kelompok bersenjata non-negara”. Resolusi tersebut memberi wewenang kepada pasukan untuk “menggunakan semua tindakan yang mereka perlukan untuk melaksanakan mandatnya”.
Indonesia mengonfirmasi pekan lalu bahwa Presiden Prabowo Subianto akan menghadiri pertemuan perdana para pemimpin “Dewan Perdamaian” Trump. Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan bahwa Prabowo akan menggunakan forum pada 19 Februari untuk mengadvokasi perlindungan bagi warga Palestina. Ia juga akan mendorong perdamaian berkelanjutan berdasarkan solusi dua negara, yang membayangkan pembentukan negara Palestina yang merdeka.
Prabowo juga rencananya akan menandatangani perjanjian tarif dengan Amerika Serikat selama kunjungan tersebut. “Kami hanya mempersiapkan diri jika kesepakatan tercapai dan kami harus mengirim pasukan penjaga perdamaian,” kata Prabowo kepada wartawan. Presiden juga mengatakan bahwa ia akan berupaya untuk menegosiasikan biaya keanggotaan dewan sebesar $1 miliar.
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan bahwa partisipasi pasukan Indonesia di Gaza tidak bertujuan untuk memaksakan perdamaian, melainkan akan fokus pada tujuan kemanusiaan.
Sumber: Middle East Eye, The Palestine Chronicle








