“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.”
Kalimat tersebut disampaikan oleh seorang seniman Gaza yang telah syahid, Dorgham Qreaiqea. Di Gaza yang hanya mengenal warna kelabu akibat asap dan hitam dari bekas-bekas pengeboman, Qorgham membawa warna-warna baru dengan karya seninya. Ia mengatakan bahwa “Layar lebih besar daripada genosida,” sebuah mantra yang menguatkan aksinya untuk mengenalkan seni melalui film kepada anak-anak Gaza, sebagai cara untuk melawan penjajahan dan pengepungan yang berkepanjangan.
Dorgham memang bukan “pahlawan” yang dikenal dunia karena wajahnya sering muncul di media, atau karena kisah-kisah heroiknya yang viral di mana-mana. Akan tetapi, ia adalah bagian dari perjuangan penduduk Gaza, melalui karya seni dan jasanya dalam memperkenalkan seni sebagai obat trauma bagi anak-anak Gaza. Selain Dorgham, masih banyak juga syuhada Gaza yang namanya kurang tersorot karena perjuangan mereka dari balik layar. Mereka yang menyobek senyap melalui tulisan, bersuara melalui goresan lukisan, serta melawan dengan pukulan dan tendangan yang penuh kekuatan, juga berhak diketahui kisahnya oleh dunia. Inilah kisah mereka, para akademisi, seniman, dan atlet dari Gaza yang telah berpulang sepanjang tahun 2025.
Akademisi Gaza, Lentera Pengetahuan yang Menerangi Gelapnya Genosida

Pada September 2025, Palestina kehilangan seorang akademisi, penulis, dan penyair yang meninggal akibat kelaparan di Jalur Gaza. Omar Harb merupakan seorang cendekiawan dalam bidang psikologi dan lulus dari universitas Al-Azhar yang bergengsi di Mesir. Beliau aktif berkontribusi dan secara teratur berpartisipasi dalam acara-acara regional.
Awalnya Harb memiliki berat badan hampir 120 kg, namun sejak Israel meluncurkan genosida di Gaza, beratnya terus menyusut hingga menyisakan 40 kg saja. Kesehatannya memburuk dari waktu ke waktu, terutama setelah istri, anak-anak, dan cucu-cucunya terbunuh. Harb sempat mendapatkan pemberitahuan bahwa ia akan dievakuasi pada Ramadan tahun lalu. Sayang, namanya tidak ditemukan dalam daftar pengungsi yang diperbolehkan menyeberang ke Mesir, hingga Harb meregang nyawa di Jalur Gaza karena kekurangan gizi.
Seniman Gaza, Dari Goresan Tangan, Tersirat Kisah Perjuangan
Dina Khaled Zaarab

Dina Khaled Zaarab merupakan seorang seniman Gaza yang meninggal setelah serangan udara Israel menargetkan kamp pengungsi di sebelah barat Khan Yunis di Gaza selatan, tempat dia dan keluarganya berlindung. Saat itu ia sedang bersama Lina, saudara perempuannya, dan Hasan, sepupunya. Mereka hanya mencari beberapa saat kedamaian dan ketenangan di tepi laut, sebelum serangan udara Israel menghantam mereka.
Dina berasal dari keluarga yang mencintai dan menghargai seni. Sejak kecil, Dina memiliki minat besar untuk menggambar dan bermimpi menjadi seniman yang diakui secara internasional. Dina dikenal sebagai seniman para syuhada karena karya seninya berupaya untuk mengembalikan kenangan bersama orang-orang yang telah meninggal di Gaza akibat genosida. Ia memenangkan Penghargaan Pusat Hak Asasi Manusia Al Mezan pada tahun 2015 untuk gambar terbaik tentang hak-hak anak dalam konflik bersenjata.
Dorgham Qreiqea

Dorgham Qreiqea adalah seorang seniman Gaza yang menanam benih harapan di tengah puing-puing kehancuran. Melalui teater, film, lukisan, dan lagu, ia membawa senyuman ke wajah para pengungsi Palestina — terutama anak-anak — selama genosida. Pada Maret 2025, Dorgham dan Aya, istrinya, serta 26 anggota keluarganya terbunuh dalam serangan brutal Israel yang menargetkan rumahnya di lingkungan Shuja’iyya, Kota Gaza.
Dorgham memegang peran penting dalam proyek Banafsaj di Institut Tamer untuk Pendidikan Komunitas, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan pada 1989 untuk memperluas akses anak-anak Palestina terhadap buku, teater, dan pendidikan budaya lainnya.
Haya Murtaja

Haya Murtaja merupakan seorang jurnalis, penyanyi, dan pengisi suara yang memulai karier medianya dengan menirukan suara karakter kartun. Pada 2020, Haya meluncurkan saluran YouTube tempat dia memublikasikan karyanya, termasuk lagu, suara tiruan, dan wawancaranya di berbagai media. Pada Maret 2025, Haya sedang berada di al-Rimal, pusat perdagangan dan budaya di Kota Gaza, mencari kaus kaki dan aksesoris rambut untuk kedua putrinya Sham (5) dan Mariam (2) agar dapat dikenakan pada Hari Raya Idul Fitri. Nahas, serangan udara Israel menghantam daerah tempat ia berada, namun ia selamat dari serangan tersebut.
Akan tetapi, ketika serangan udara intensif Israel meningkat pada malam hari, jantung Haya tiba-tiba berhenti berdetak selama sekitar 25 menit. Suaminya, Mohammed, membawa Haya ke Rumah Sakit Al-Shifa, kemudian dokter memberikan kejutan listrik untuk menghidupkan kembali jantungnya. Haya kekurangan oksigen di otaknya, yang menyebabkan kejang dan membuatnya koma. Keesokan harinya, Haya seharusnya menjalani CT scan di Rumah Sakit Al Ahli Arab, tetapi ambulans dengan peralatan yang cukup lengkap untuk menopang kehidupan Haya, tidak tersedia. Ia tetap dalam keadaan koma selama hampir dua minggu sebelum meninggal pada 1 April, bertepatan dengan Idul Fitri.
Atlet Gaza, Melawan Keterbatasan dengan Pukulan dan Tendangan
Suleiman al-Obeid

Pada Agustus 2025, Palestina dan dunia kehilangan pemain sepak bola berbakat yang diberi julukan “Pele Palestina”. Suleiman al-Obeid, seorang pemain sepak bola berusia 41 tahun, terbunuh dalam serangan Israel di Gaza selatan ketika Israel menargetkan warga sipil yang sedang menunggu bantuan kemanusiaan.
Obeid memulai karier sepak bolanya dengan Klub Khadamat al-Shati, kemudian bermain untuk Markaz Shabab al-Am’ari di Tepi Barat dan melanjutkan di Klub Gaza Sport. Sepanjang kariernya, Obeid telah mencetak lebih dari 100 gol, menjadikannya salah satu bintang yang paling bersinar dalam dunia sepak bola Palestina.
Muhannad Fadl al-Lay

Pemain sepak bola Palestina, Muhannad Fadl al-Lay, terbunuh pada Juli 2025 setelah serangan pasukan Israel menghantam rumahnya di Kamp Pengungsi al-Maghazi di Gaza utara. Asosiasi Sepak Bola Palestina menyatakan bahwa: “Sebuah drone menembakkan rudal ke kamar Muhannad di lantai tiga rumahnya, menyebabkan pendarahan tengkorak yang parah dan mengakibatkan kematiannya.” Asosiasi tersebut mencatat bahwa ia berupaya melakukan perjalanan untuk bergabung dengan istrinya di Norwegia sebelum pecahnya genosida, tetapi ia dicegah untuk pergi dan tidak dapat bertemu keluarganya.
Lay adalah pemain untuk Klub Layanan Al-Maghazi dan tim nasional sepak bola Palestina. Lay memulai kariernya sebagai pemain di klub yang sama sebelum kemudian bergabung dengan tim junior dan menjadi bagian dari upaya untuk mencapai Liga Utama Palestina selama musim 2016/2017. Ia kemudian pindah ke Klub Pemuda Jabalia, bermain selama dua musim, sebelum akhirnya pindah ke Klub Olahraga Gaza.
Malak Musleh

Malak Tariq Ziyad Musleh adalah seorang perempuan muda yang mendobrak stereotip mengenai olahraga dan perempuan. Ia tertarik dengan olahraga tinju dan mulai berlatih sejak usia 12 tahun dan menjadi petinju di Pusat Tinju Perempuan Palestina. Perjalanannya dalam mengejar impian sebagai atlet internasinal terpaksa terhenti setelah ia terbunuh dalam pengeboman Israel di Kafe al-Baqa di pantai Kota Gaza pada Juli 2025.
Musleh pernah berpartisipasi dalam turnamen King’s Club pada 2020. “Sejak dulu saya sering menonton tinju di YouTube. Saya selalu bertanya-tanya mengapa kami tidak memiliki olahraga seperti ini. Oleh karena itu, ketika akhirnya ada klub tinju, saya pun mencobanya,” kata Musleh ketika diwawancara. “Impian saya adalah mengibarkan bendera Palestina dan berpartisipasi dalam kejuaraan lokal dan internasional serta membuat dunia melihat bahwa ada orang-orang di Palestina yang memiliki kemampuan luar biasa,” kata Musleh.
Raga Mereka Telah Berpulang, Tapi Tidak dengan Perjuangan

Biro Pusat Statistik Palestina menyatakan bahwa 2025 tercatat sebagai tahun terburuk dari segi kemanusiaan dan demografi warga Palestina. Dalam laporan akhir tahun, biro tersebut menyatakan bahwa pembunuhan massal, pengusiran paksa, dan penghancuran infrastruktur dasar yang meluas menyebabkan kerusakan serius dan jangka panjang terhadap stabilitas penduduk, kondisi ekonomi dan sosial, serta hak asasi manusia di seluruh wilayah Palestina.
Sejak genosida dimulai pada Oktober 2023 hingga penghujung tahun 2025, Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan bahwa 72.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa mereka. Di antara para korban terdapat 18.592 anak-anak dan sekitar 12.400 perempuan, sementara sekitar 11.000 orang masih hilang. Populasi Gaza menurun sekitar 254.000 jiwa, atau 10,6% dibandingkan perkiraan sebelum genosida, menandai penurunan demografis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Secara statistik, jumlah warga Palestina di Gaza memang mengalami penurunan yang signifikan. Akan tetapi, yang tak terlihat, para syuhada sebenarnya tidak benar-benar mati. Raga mereka memang telah berpulang, tetapi mereka masih memiliki generasi penerus, tulisan-tulisan, serta rekaman suara dan video mereka dapat dibaca dan disaksikan oleh dunia. Nama dan kisah dari mereka yang telah tiada tidak dapat dituliskan seluruhnya di sini, namun mereka akan selalu diingat. Pemikiran mereka akan abadi sepanjang masa, menggemakan perlawanan yang tidak akan pernah berhenti sebelum Palestina memperoleh kemerdekaan.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Al Jazeera
Middle East Eye
The Palestine Chronicle
The Guardian
Wafa
TRT World
Anadolu Agency
Haaretz
The New Arab
+972 Magazine
Electronic Intifada







