Dunia baru saja merayakan Hari Air pada 22 Maret lalu yang mengangkat masalah air tanah sebagai isu yang diangkat pada Hari Air Sedunia 2022. Dalam laman World Water Day tertulis, “Air tanah mungkin tidak terlihat, tetapi tidak boleh hilang dari pikiran.” Hal ini menunjukkan urgensi air tanah sebagai kelangsungan bagi umat manusia. Namun, akibat perubahan iklim dan ulah umat manusia, kondisi air tanah di bumi semakin kritis, sehingga diperlukan kerja sama yang baik untuk mengelola hal itu.
Ide peringatan Hari Air ini dimulai pada 1992 saat konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro. Pada tahun yang sama, PBB mengadopsi resolusi yang menyatakan tanggal 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia. PBB menjadikan tahun 2018 hingga 2028 sebagai Dekade Aksi Internasional tentang Air untuk Pembangunan Berkelanjutan. Menurut PBB, hal ini dilakukan karena air dan sanitasi merupakan kunci untuk pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan kelestarian lingkungan.
Namun, jauh dari upaya internasional untuk mengelola air secara baik agar penduduk dunia mendapatkan kesejahteraan, di Palestina, penjajah Israel menggunakan air untuk eksistensi penjajahan yang dilakukannya. Berdasarkan laporan dari Adara Relief dalam Adara Report: Krisis Air Palestina, Upaya Sistematis Zionis Memutus Akses Air untuk Meruntuhkan Kedaulatan,[1] Israel secara sistematis menghilangkan akses penduduk Palestina terhadap akses air, yang bertentangan dengan hukum internasional.
Israel melakukan apartheid air dengan memutus akses warga Palestina untuk mendapatkan air bersih dan melakukan pengairan untuk lahan pertanian mereka. Tembok rasis yang dibangun Israel di wilayah Tepi Barat tidak hanya ditujukan untuk membatasi akses penduduk Palestina tetapi juga sebagai bagian untuk memutus aliran air. Banyak petani yang lahan pertaniannya mengalami kekeringan akibat hal ini. Sehingga penduduk Palestina tidak hanya kesulitan mengakses air minum tetapi juga dimatikan perekonomiannya karena tidak dapat bertani.
Sementara itu di Jalur Gaza, pada 2015 sebanyak 95% – 97% telah terkontaminasi air asin. Hanya 5% dari penduduk Gaza yang memiliki akses terhadap air bersih, sisanya harus membeli air. Serangan Israel pada 2021 kemarin juga ikut memperparah krisis air di Gaza karena Israel melakukan penghancuran terhadap sumber-sumber air dan pengolahan limbah air di Gaza.
Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, pada tahun ini, Otoritas Air Gaza telah membangun pabrik desalinasi di tiga tempat di Gaza sehingga 35% penduduk Gaza dapat minum melalui air keran. Ini tentunya tidak cukup, karena masih ada 65% penduduk yang tidak bisa mengakses air bersih.
Oleh karenanya, momen Hari Air harus juga menjadi perhatian bagi bangsa-bangsa dunia bahwa ada sebuah negara yang dijajah tidak hanya tanahnya, tetapi juga air-nya. Israel secara sistematis melakukan pemutusan terhadap akses air bagi penduduk Palestina. Keadaan ini tidak hanya bertentangan dengan hukum internasional tetapi juga menjadi bagian dari perampasan kedaulatan Palestina.
Hari Air harus menjadi momen bagi seluruh bangsa untuk menyuarakan apartheid air yang dialami oleh Palestina. Mereka tidak dapat mengakses air bukan karena ketiadaan air, melainkan karena mereka bangsa Palestina. Air mereka dirampas, tempat penampungan airnya dihancurkan, dan ironinya jika ingin menikmati air bersih, mereka harus membeli kepada penjajah. Apalah arti sebuah bangsa jika tanah dan air mereka dirampas.
Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P.
Penulis merupakan Ketua Departemen Resource Development and Mobilization (RDM) Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.
[1] Lihat lebih lengkap mengenai permasalahan krisis air yang dialami Palestina akibat penjajahan yang dilakukan Israel dalam: https://adararelief.com/adara-report-agustus-2021/
Sumber tulisan :
https://adararelief.com/adara-report-agustus-2021/
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







