Wahai Al-Quds, si cantik yang diselimuti kegelapan
Siapa yang membunyikan lonceng di Gereja Makam Kudus?
Pada Minggu pagi…
Siapa yang membawakan mainan untuk untuk anak-anak?
Pada malam natal…
Wahai Al-Quds, wahai kota kesedihan
Air mata yang deras mengalir dari kelopak mata
Siapa yang menghentikan agresi?
Terhadap dirimu, wahai permata agama-agama[1]
(Al-Quds, Nizar Qabbani)
Gereja Makam Kudus dan Sepenggal Kisah Panjangnya

Gereja Makam Kudus (The Church of the Holy Sepulchre) adalah sebuah gereja bersejarah yang terletak di barat laut Kota Tua Al-Quds (Yerusalem) di Palestina. Gereja Makam Kudus telah berdiri berabad-abad yang lalu, menjadi saksi dari berbagai macam peristiwa. Namun yang paling utama, gereja ini telah menjadi bukti dari toleransi dan kerukunan antara umat Kristiani dan Muslim yang telah terjaga sekian lama.
Gereja Makam Kudus diresmikan pada sekitar tahun 336 M, kemudian dibakar oleh Persia pada tahun 614 M. Setelah itu, gereja dipulihkan oleh Modestus, kepala biara Theodosius sekitar tahun 616–626 M, lantas dihancurkan kembali oleh khalifah al-Ḥākim bin Amr Allāh sekitar tahun 1009 M, lalu dipulihkan oleh Kaisar Bizantium, Konstantinus IX Monomachus.
Pada abad ke-12, Tentara Salib melakukan pembangunan kembali gereja secara umum dan sejak saat itu, perbaikan, restorasi, dan renovasi secara berkala dilakukan. Gereja yang sekarang berdiri sebagian besarnya diyakini merupakan hasil renovasi yang dikerjakan sekitar tahun 1810. Pada 2016, kuil yang melingkupi makam, yang diyakini sebagai tempat disemayamkannya jasad Kristus, atau yang dikenal juga sebagai Edicule, mengalami pemugaran yang signifikan. Setelah itu, area makam tersebut dibuka bagi peziarah untuk pertama kalinya setelah berabad-abad.
Gereja Makam Kudus terus dikenal sejak abad ke-4 dan diyakini oleh umat Kristiani sebagai lokasi Yesus Kristus meninggal, dikuburkan, dan nantinya dibangkitkan dari kematian. Di gereja tersebut, berbagai golongan umat Kristen, di antaranya Katolik Roma, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Suriah, Ortodoks Ethiopia, dan Ortodoks Koptik, saling berbagi untuk mengontrol bagian-bagian di dalam gereja dan mengadakan ibadah kebaktian secara teratur.
Di Gereja Makam Kudus terdapat area tempat batu Kalvari diletakkan, yang diyakini sebagai tempat terjadinya Penyaliban Kristus. Batu tersebut dilindungi kaca dan diletakkan di Altar Penyaliban yang mewah. Area tersebut merupakan lokasi spesifik yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang yang berziarah ke Gereja Makam Kudus.
Gereja ini juga dihormati sebagai lokasi tempat St. Helena, ibu Konstantinus Agung, menemukan salib yang diyakini sebagai Salib Sejati Penyaliban Kristus. Kapel St. Helena kemudian dibangun oleh Tentara Salib untuk menghormati beliau, dan di bawahnya terletak Kapel Penemuan Salib Sejati, yang menandai lokasi Salib tersebut ditemukan.
Di balik sejarahnya yang panjang dan kesuciannya bagi umat Kristiani, siapa sangka, gereja bersejarah ini memiliki fakta menarik, yaitu kuncinya dipegang oleh keluarga Muslim yang tinggal di Al-Quds (Yerusalem). Keluarga Muslim tersebut tidak hanya satu-dua tahun dipercaya untuk memegang kunci Gereja Makam Kudus, melainkan telah berlangsung selama ratusan tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi. Berikut adalah kisah mereka, dua keluarga Muslim penjaga kunci Gereja Makam Kudus.
Tugas Kehormatan dari Pembebas Baitul Maqdis

Setiap tahunnya, ribuan peziarah dari seluruh dunia berziarah ke Gereja Makam Kudus, terutama untuk melaksanakan ritual ketika hari Paskah. Akan tetapi, dari jumlah yang sangat banyak tersebut, hanya sedikit sekali orang yang menyadari pentingnya kehadiran Adeeb Joudeh, dan betapa pentingnya peran nenek moyangnya yang beragama Islam dalam sejarah panjang rumah ibadah umat Kristen ini.
Joudeh memperkirakan bahwa tanggung jawab besar tersebut dipercayakan kepada keluarganya sejak masa Shalahuddin al-Ayyubi, panglima Muslim yang membebaskan Al-Quds (Yerusalem) dari pasukan Salib pada tahun 1187 M. Mengenai hal ini, Reuters menjelaskan bahwa para peneliti berargumen kepercayaan tersebut diberikan Shalahuddin kepada keluarga Muslim karena memiliki dua tujuan. Pertama, untuk menegaskan dominasi umat Muslim terhadap kota tersebut, kedua untuk membantu mengatur pajak penduduk dari pengunjung yang dibayarkan di depan pintu gereja.
Greekreporter juga menambahkan bahwa Shalahuddin al-Ayyubi telah memercayakan tugas tersebut kepada keluarga Joudeh selama lebih dari 850 tahun. Kunci pertama Gereja Makam Kudus dilaporkan dibuat pada 15 Juli 1149 kemudian dititipkan oleh Sultan Ayyubiyah Shalahuddin kepada dua keluarga Muslim di Al-Quds (Yerusalem). Kemudian tepat pada 10 Februari 1187, Shalahuddin secara resmi menunjuk keluarga Joudeh al-Husseini sebagai satu-satunya penjaga kunci yang sah dan memberi wewenang kepada keluarga Nuseibeh untuk membuka dan menutup pintu gereja. Sejak saat itu, dua keluarga Muslim tersebut setiap harinya melaksanakan tugas yang telah dipercayakan kepada mereka.
Selain alasan-alasan yang telah dikemukakan sebelumnya, BBC juga mengungkapkan bahwa Shalahuddin al-Ayyubi memberikan kepercayaan tersebut kepada keluarga Muslim karena memiliki tujuan yang mulia. Shalahuddin telah belajar dari pengalaman sehingga beliau tidak ingin gereja bersejarah tersebut dirusak atau diperlakukan sewenang-wenang oleh oknum-oknum yang mengaku beragama Islam. Hal tersebut sudah pernah terjadi pada 1009 M, ketika Khalifah Fathimiyah bernama al-Ḥākim bin Amr Allāh memberikan perintah untuk membakar sejumlah gereja di Al-Quds (Yerusalem). Saat itu, Gereja Makam Kudus adalah salah satu dari gereja-gereja yang diperintahkan untuk dibakar, meskipun kemudian putra al-Hakim menyetujui pembangunan kembali gereja pada 1128 M.
Keluarga Joudeh telah memegang kunci Gereja Makam Kudus selama beberapa generasi. Di rumahnya, ketika sesi wawancara oleh CNN, Joudeh menunjukkan bahwa ia masih menyimpan binder berisi foto kakek dan kakek buyutnya yang juga pernah mengemban tugas suci tersebut. Keluarga Joudeh masih menyimpan rapi arsip kontrak bersejarah yang menganugerahkan pekerjaan mulia ini kepada keluarganya, yang ditulis di atas perkamen dan ditandatangani dengan tinta emas. Dokumen yang tertua tertanda tahun 1517, yang artinya sudah berusia lebih dari 500 tahun.
Joudeh menunjukkan dokumen-dokumen yang disebut Fermans atau dekrit kerajaan yang dikeluarkan oleh penguasa Ottoman (Utsmani) pada masa lalu, yang memberikan tanggung jawab untuk menjaga kunci gereja kepada keluarganya. “Ini adalah warisan keluarga. Sejujurnya, merupakan kehormatan besar bagi seorang Muslim untuk memegang kunci Gereja Makam Kudus, yang merupakan gereja terpenting dalam umat Kristen,” kata Joudeh sambil tersenyum. “Hanya itu yang kami miliki sebagai sebuah keluarga, dan ini merupakan suatu kehormatan. Bukan hanya bagi keluarga kami, ini merupakan kehormatan bagi seluruh umat Islam di dunia,” pungkas Joudeh.
Baca juga “835 Tahun Pembebasan Baitul Maqdis, Al-Quds Menanti Shalahuddin Selanjutnya”
Keluarga Joudeh, Penjaga Kunci Gereja Bersejarah

Joudeh menunjukkan bahwa ia selalu menjaga dan merawat dengan baik kunci Gereja Makam Kudus. Ia bahkan menyimpan dua buah kunci, meski salah satunya telah rusak karena usia. Kunci tersebut panjangnya 12 inci (30 cm) dan beratnya 250 gram (0,5 pon), dengan pegangan logam berbentuk segitiga dan ujung persegi. Kunci yang “baru” telah digunakan selama kurang lebih 500 tahun, sedangkan kunci yang lama telah rusak setelah digunakan selama berabad-abad. “Yang ini berumur 850 tahun,” kata Joudeh sambil menunjuk kunci yang lebih tua.
Joudeh menceritakan bahwa tugas menjaga kunci gereja ini dipercayakan ke tangan nenek moyang Joudeh sebagai upaya untuk menjaga netralitas Gereja Makam Kudus. Sebab, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, gereja bersejarah ini merupakan lokasi suci yang diklaim oleh berbagai golongan umat Kristen, seperti Ortodoks Armenia, Ortodoks Yunani, Katolik Roma, dan masih banyak lagi.
Untuk menjalankan tugas penting tersebut, Joudeh telah mempersiapkan diri dengan mempelajari kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai pemegang kunci gereja dari ayahnya, dan begitu pula ia akan mewariskannya kelak kepada putranya sebagai bagian dari tradisi turun-temurun. “Saya mulai mempelajarinya (tugas menjaga kunci) sejak saya berumur delapan tahun. Ini diturunkan dari ayah ke anak,” kata Joudeh. “Saya telah melakukan ini selama lebih dari 30 tahun dan saya merasa Gereja Makam Kudus adalah rumah kedua saya.”

Kesepakatan antara nenek moyang Joudeh yang beragama Islam dan umat Kristen di masa itu telah membantu membangun kerja sama yang membentuk toleransi dan kerukunan antaragama, kata Joudeh. “Apa yang kita wariskan kepada generasi mendatang bukan hanya kuncinya, tetapi juga cara kita menghormati agama lain.” Demikian Joudeh mengatakan.
“Bagi saya, bukti hidup berdampingan antara umat beragama Islam dan Kristen adalah Gereja Makam Kudus, saat Umar ibn Khattab mengambil kunci Al-Quds (Yerusalem) dari Patriark Sophronius dan memberikan keamanan dan keselamatan kepada umat Kristen di wilayah tersebut. Kami hidup berdampingan dan mewariskan perdamaian dan cinta, yang merupakan wujud agama Islam yang sebenarnya.”
Kalimat Joudeh merujuk pada sejarah yang terjadi kurang lebih 1.400 tahun lalu, ketika Umar bin Khattab, seorang Khalifah Muslim, membuat perjanjian dengan Sophronius, seorang Kristen, untuk memberikan hak beribadah secara bebas kepada umat Kristen di Al-Quds (Yerusalem). Bagi Joudeh, kisah tersebut masih hidup hingga saat ini, dan merupakan kewajiban bagi dirinya dan keluarganya untuk meneruskannya.
Baca juga “Masjid Agung Omari, Simbol Keagungan dan Persilangan antar-Peradaban di Gaza”
Keluarga Nuseibeh, Pembuka dan Penutup Pintu Gereja Suci

Joudeh tidak memikul kewajiban mulia sebagai penjaga kunci gereja sendirian. Meskipun dia bertugas menjaga dan memegang kunci gereja, ada satu keluarga Muslim lain yang juga bertugas untuk membuka pintu dan mengizinkan umat Kristen memasuki gereja. Tanggung jawab itu kini berada di tangan Wajeeh Nuseibeh, sebagai perwakilan dari keluarga Nuseibeh.
Setiap harinya, mereka sudah mengetahui tugas dan rutinitas masing-masing. Perwakilan keluarga Joudeh dan Nuseibeh akan datang ke gereja pagi-pagi sekali untuk membuka pintu gereja pukul 4 pagi. Nuseibeh kemudian mengambil kunci dari Joudeh, dan menaiki tangga kayu kecil untuk membuka kunci atas, kemudian dia turun dari tangga untuk membuka kunci bawah. Saat pintu dibuka oleh Nuseibeh, pendeta dari golongan Katolik Roma, Ortodoks Yunani, atau Ortodoks Armenia – yang bergiliran secara bergantian– akan membuka pintu lainnya dari dalam, sementara pendeta dari golongan lain mengawasi.
Seluruh proses tersebut kemudian diulangi setiap jam 7 malam ketika gereja akan ditutup. Pukul 6.30, suara dentang keras akan memecah keheningan gereja, ketika perwakilan keluarga Joudeh mengetuk pintu dan menutup salah satu pintu ganda sebagai persiapan dan peringatan bahwa gereja akan ditutup. Gereja kemudian dikunci oleh Nuseibeh, kemudian kuncinya diserahkan kembali ke Joudeh untuk dibawa lagi esok pagi saat waktu pembukaan pintu gereja. Di sela-sela waktu dari waktu pembukaan hingga penutupan pintu, perwakilan keluarga Joudeh dan Nuseibeh yang bertugas akan berjaga di bangku-bangku yang disediakan di dekat ruangan yang kerap dikunjungi oleh para peziarah.
Al-Quds, Tanah Kedamaian yang Menanti Kebebasan

Wahai Al-Quds, wahai kotaku
Wahai Al-Quds, wahai cintaku
Esok … Esok … Lemon akan berbunga
Benih-benih hijau dan zaitun akan berbahagia
Dan banyak mata tertawa
Merpati yang bermigrasi kembali
Ke langit yang suci
Anak-anak kembali bermain
Ayah dan anak kembali bersatu
Atas nama Tuhan yang Mulia
Wahai kotaku
Wahai kota kedamaian dan zaitun
(Al-Quds, Nizar Qabbani)
Hingga hari ini, waktu terus berjalan, roda kepemimpinan terus berganti, namun satu yang tidak berubah, yaitu tanggung jawab yang dipercayakan kepada dua keluarga Muslim ini untuk menjaga kunci Gereja Makam Kudus. Kedua keluarga Muslim tersebut telah berbagi tanggung jawab ini selama berabad-abad dan diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka turut mengambil peran penting untuk melindungi situs suci tersebut dan menjaganya agar tetap terbuka dan kondusif bagi umat Kristen yang berziarah.
Tugas dua keluarga Muslim tersebut yang telah mereka emban selama ratusan tahun lamanya adalah bukti nyata bahwa umat antaragama di Al-Quds (Yerusalem) selama ini telah hidup dalam kedamaian dan toleransi selama berabad-abad. Adapun yang menyebabkan Al-Quds (Yerusalem) bergolak seperti yang terjadi saat ini bukanlah perihal konflik antaragama, melainkan berkumpulnya orang-orang yang menjadikan kebencian dan dendam sebagai tuhannya, ego dan keserakahan sebagai kitab landasannya, lantas membenarkan pembunuhan dan penyiksaan sebagai ibadah harian mereka.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.britannica.com/place/Golgotha
https://edition.cnn.com/2016/03/26/middleeast/easter-muslim-keyholder/index.html
https://greekreporter.com/2023/04/16/muslim-families-keys-church-holy-sepulchre-jerusalem/
https://www.reuters.com/article/idUSKBN1DU17Z/
https://www.bbc.com/travel/article/20161121-a-1000-year-old-promise-of-peace
https://www.bbc.com/news/av/world-middle-east-39804743
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








