Wali Kota Gaza, Yahya Al-Sarraj, memperingatkan memburuknya bencana kemanusiaan akibat badai musim dingin yang melanda Gaza di tengah blokade dan agresi Israel. Layanan kota dan tim penyelamat kewalahan karena lebih dari 85 persen kendaraan dan peralatan rusak atau hancur, ditambah kelangkaan bahan bakar, alat berat, dan perlengkapan dasar.
Banjir, sistem drainase yang tersumbat, serta tenda pengungsian yang rapuh membuat ribuan warga, terutama pengungsi, tidak terlindungi dari dingin dan hujan. Empat orang, mayoritas perempuan dan anak-anak, terbunuh akibat runtuhnya rumah rusak, termasuk seorang bayi yang meninggal karena kedinginan di tenda di Deir al-Balah.
Kondisi kesehatan juga kian kritis. Kekurangan obat, tenaga medis, dan bahan bakar membuat penyakit yang seharusnya bisa ditangani menjadi mematikan. Layanan darurat tak mampu merespons banyaknya permintaan bantuan.
Krisis ini berlangsung di bawah pembatasan ketat Israel terhadap masuknya bahan bakar, obat-obatan, dan material hunian. Sekitar 2,4 juta warga Palestina hidup dalam kondisi katastrofik meski fase awal gencatan senjata telah berlaku. WHO mencatat 18.500 orang, termasuk 4.000 anak, masih membutuhkan evakuasi medis segera.
Al-Sarraj mendesak tindakan internasional segera untuk menghentikan penderitaan warga sipil, membuka akses bantuan penyelamat nyawa, dan mencegah cuaca ekstrem merenggut lebih banyak korban.
Sumber: Palinfo








