Badan Pertahanan Sipil Gaza memperingatkan pada Kamis (29/01) bahwa Gaza berada di ambang kehancuran karena menghadapi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menyerukan intervensi internasional yang mendesak karena kondisi kehidupan yang memburuk.
Juru bicara Pertahanan Sipil Mahmoud Bassal mengatakan bahwa Gaza mengalami kehancuran total. Di Gaza, tidak ada tempat berlindung; jalanan dan daerah permukiman berada di bawah ancaman pengeboman kapan saja, sementara rumah sakit beroperasi di ambang kehancuran.
Bassal menekankan bahwa situasi tersebut membutuhkan tindakan internasional dan keterlibatan lembaga kemanusiaan untuk menyelamatkan warga yang terluka, sakit, anak-anak, dan keluarga pengungsi. Saat ini, Israel terus memberlakukan pembatasan ketat terhadap bantuan dan pergerakan.
Dingin, Kelaparan, dan Keruntuhan Medis
Peringatan akan tiga krisis ini muncul di tengah gelombang cuaca dingin ekstrem yang berulang. Situasi semakin memburuk akibat kelangkaan bahan pemanas. Dampaknya terutama dirasakan oleh kelompok paling rentan, termasuk mereka yang mengalami luka-luka.
Kondisi tersebut diperparah oleh pembatasan Israel terhadap masuknya barang kebutuhan pokok, bantuan kemanusiaan, serta pasokan medis. Pada saat yang sama, perbatasan Rafah sebagian besar tetap tertutup, sehingga menghalangi pasien untuk bepergian dan memperoleh perawatan darurat di luar Gaza.
Sebuah sumber di Kompleks Medis Nasser melaporkan bahwa seorang warga Palestina terbunuh akibat tembakan Israel di luar area penempatan pasukan Israel di Khan Yunis. Mereka menggarisbawahi masih adanya bahaya berkelanjutan terhadap warga sipil meskipun ada klaim de-eskalasi.
Trauma Psikologis Jangka Panjang
Psikiater Palestina, Dr. Samah Jabr, memperingatkan bahwa tindakan Israel yang secara sistematis menyebabkan kelaparan dan genosida di Gaza telah menimbulkan kerusakan psikologis yang tidak akan berakhir dengan gencatan senjata.
Berbicara kepada Anadolu Agency, Jabr mengatakan bahwa trauma akibat kelaparan berkepanjangan, pengungsian, pengeboman, dan kehilangan dapat berlangsung selama tiga atau empat generasi. Trauma tersebut tertanam dalam ingatan kolektif warga Palestina.
Dia menekankan bahwa kekurangan gizi di Gaza sudah ada sebelum fase genosida saat ini. “Kelaparan pada saat ini bukanlah konsekuensi dari ketidaksengajaan akibat genosida, melainkan tindakan sengaja yang bertujuan untuk menghancurkan ketahanan kolektif,” tambahnya.
Jabr mencatat bahwa memisahkan penyebab trauma psikologis di Gaza hampir tidak mungkin bisa karena dampak yang tumpang tindih dari kehancuran, kelaparan, pengungsian, dan kesedihan.
Seruan Internasional untuk Mencabut Pembatasan Bantuan
Seiring memburuknya kondisi kemanusiaan, Belgia, Kanada, Denmark, Prancis, Islandia, Irlandia, Jepang, Norwegia, Portugal, Spanyol, dan Inggris menegaskan kembali dukungan mereka untuk Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA). Mereka juga menggarisbawahi peran penting lembaga tersebut dalam menyalurkan bantuan.
Menteri luar negeri negara-negara itu mendesak Israel untuk sepenuhnya menghormati komitmen dalam memfasilitasi akses kemanusiaan ke Gaza. Mereka menekankan pentingnya perluasan jalur pengiriman bantuan yang aman. Selain itu, mereka menyerukan pembukaan kembali perbatasan—termasuk mengizinkan pergerakan masuk dan keluar melalui Rafah.
Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares menekankan bahwa masuknya bantuan kemanusiaan secara segera dan tanpa hambatan harus menjadi prioritas utama saat ini.
Sejak Mei 2024, Israel telah menduduki sisi Palestina dari penyeberangan Rafah sebagai bagian dari genosida di Gaza.
Serangan Berlanjut Meskipun Ada Gencatan Senjata
Menurut laporan setempat, pasukan pendudukan Israel terus melanggar gencatan senjata yang kini telah berlangsung selama 111 hari. Pasukan Israel menghancurkan rumah-rumah penduduk di Rafah. Mereka melepaskan tembakan di dekat poros Morag di utara kota, dan melakukan tembakan tank besar-besaran di sebelah timur Khan Yunis. Di Gaza tengah, helikopter Israel menembaki daerah-daerah di sebelah timur kamp pengungsi al-Bureij.
Sejak pengumuman gencatan senjata pada 11 Oktober 2025, setidaknya 492 warga Palestina terbunuh, 1.356 terluka, dan 715 jenazah warga Palestina ditemukan dari reruntuhan. Secara keseluruhan, jumlah korban terbunuh sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi 71.667 dan 171.343 terluka, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Sumber: The Palestine Chronicle








