“Saya telah menghadapi kematian bersama anak-anak saya berkali-kali, tidak hanya akibat rudal dan api, tetapi juga akibat penyakit, kelaparan, teriknya musim panas, serangga, gigilnya musim dingin, dan kurangnya kebersihan.” Amal Mehanna, seorang ibu tunggal dari tiga anak, mengatakan bahwa tibanya musim dingin telah membuat dirinya dan anak-anaknya ketakutan. Mereka telah kehilangan rumah yang terletak di lingkungan al-Karama di barat laut Kota Gaza akibat serangan Israel, dan kini terpaksa menghadapi musim dingin hanya dengan tenda yang dilapisi kain tipis, tanpa pakaian hangat atau selimut. Selain suhu ekstrem, hal lain yang membuat mereka takut adalah wabah penyakit yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan akibat dua tahun genosida di Gaza.
Musim dingin yang hadir di tengah kerusakan lingkungan yang parah telah menjadi mimpi buruk bagi penduduk Gaza. Jangan bayangkan musim dingin di Gaza layaknya di negara-negara Eropa yang diisi dengan permainan salju, cokelat panas, dan penghangat ruangan. Di Jalur Gaza, penduduknya nyaris tidak memiliki apa pun untuk melindungi diri mereka dari angin dingin dan derasnya hujan akibat blokade ketat yang diberlakukan Israel. Kondisi mereka yang sudah sulit diperparah dengan polusi udara, pencemaran air, juga sampah dan limbah yang bocor ke jalanan. Gencatan senjata juga tidak banyak membantu, sebab Israel masih membatasi izin masuk untuk alat-alat berat yang digunakan untuk mengevakuasi sampah reruntuhan yang memenuhi Jalur Gaza.
Kondisi yang terjadi di Gaza bukan sekadar bencana lingkungan biasa. Para peneliti dan organisasi lingkungan menyebutnya sebagai ecocide, yang mencakup kerusakan yang terjadi pada lingkungan akibat tindakan yang disengaja atau kelalaian, dan berpotensi termasuk dalam kejahatan perang. Abeer al-Butmeh, koordinator Jaringan LSM Lingkungan Palestina mengatakan, “Masyarakat Palestina memiliki hubungan yang kuat dengan tanah. Mereka sangat terhubung dengan tanah mereka dan juga dengan laut. Pendudukan Israel telah merusak seluruh elemen kehidupan dan seluruh elemen lingkungan di Gaza – mereka telah menghancurkan pertanian dan satwa liar. Yang terjadi, tentu saja, adalah ecocide.”
Gaza Bukan Tempat Sampah Raksasa

“Hidup ini bukan hidup,” Abu Diab, ayah dari tiga anak perempuan yang masih kecil, memulai kalimatnya. “Polusi ada di mana-mana; di udara, di air yang kami gunakan untuk mandi dan minum, di makanan yang kami santap, juga di lingkungan sekitar kami,” tambahnya. Abu Diab dan tiga putrinya, bersama 20 anggota keluarga lainnya tinggal di sebuah bangunan gudang yang bobrok di Rafah. Mereka tidak memiliki air bersih, tidak ada bahan bakar, dan hidup dikelilingi oleh limbah yang terus mengalir dan sampah yang terus menumpuk tanpa bisa diolah akibat genosida yang berlangsung.
Seperti jutaan penduduk Gaza lainnya, Abu Diab dan keluarganya tidak memiliki banyak pilihan. Di jalan-jalan kota, kebun buah dan zaitun telah rata dengan tanah, lahan pertanian hancur oleh buldoser dan ledakan bom, membuat udara yang mereka hirup dipenuhi polusi, sementara air telah tercemar oleh zat-zat berbahaya. Bagi jutaan penduduk Gaza yang telah menderita akibat dua tahun genosida, kerusakan lingkungan telah membuat kondisi mereka menjadi lebih buruk lagi. Kalau pun genosida dan pengeboman telah sepenuhnya berhenti, kerusakan lingkungan telah menimbulkan ancaman lain yang membahayakan jiwa mereka.
Sebuah penelitian yang dibagikan secara eksklusif melalui The Guardian menyebutkan bahwa bahwa dampak iklim jangka panjang dari penghancuran, pembersihan, dan pembangunan kembali Gaza diperkirakan dapat mencapai 31 juta ton zat setara karbon dioksida (tCO2e). Angka ini lebih besar daripada gabungan emisi gas rumah kaca tahunan Kosta Rika dan Estonia pada tahun 2023. Penelitian itu menambahkan bahwa sebanyak 50% emisi dihasilkan oleh pasokan dan penggunaan senjata, tank, dan persenjataan lainnya oleh militer Israel (IDF) selama genosida Gaza.
Penelitian tersebut juga merinci bahwa hampir 30% gas rumah kaca yang dihasilkan berasal dari pengiriman 50.000 ton senjata dan perlengkapan militer lainnya oleh AS ke Israel, sebagian besar menggunakan pesawat kargo dan kapal dari gudang di Eropa. Sementara itu, sebanyak 20% lainnya berasal dari misi pengintaian dan pengeboman pesawat Israel, tank dan bahan bakar dari kendaraan militer lainnya, serta CO2 yang dihasilkan dari produksi senjata-senjata dan peledakan bom dan artileri.
He Yin, seorang asisten profesor geografi di Kent State University di AS, telah menganalisis citra satelit yang menunjukkan bahwa 48% tutupan pohon di Gaza telah hilang atau rusak antara 7 Oktober hingga 21 Maret 2024. Selain kerusakan langsung akibat serangan militer, kurangnya bahan bakar telah menyebabkan penduduk Gaza harus menebang pohon untuk dijadikan bahan bakar, baik untuk memasak maupun memanaskan ruangan. Penduduk Gaza juga menanggung dampak kesehatan akibat polusi udara yang disebabkan oleh penggunaan kayu atau plastik untuk membuat api, bahan bakar mobil yang menggunakan lelehan plastik, dan asap yang ditinggalkan oleh pengeboman itu sendiri.
Analisis satelit independen oleh Forensic Architecture (FA), kelompok penelitian berbasis di London yang menyelidiki kekerasan negara, menemukan hasil serupa. Sebelum 7 Oktober, lahan pertanian dan kebun buah-buahan di Gaza mencakup sekitar 170 km persegi (65 mil persegi), atau 47% dari total luas wilayah Gaza. Berdasarkan data satelit, FA memperkirakan bahwa pada akhir Februari 2024 saja, aktivitas militer Israel telah menghancurkan lebih dari 65 km persegi, atau 38% dari luas wilayah tersebut. Selain lahan pertanian, lebih dari 7.500 rumah kaca membentuk bagian penting dari infrastruktur pertanian wilayah tersebut. Namun demikian, hampir sepertiganya telah hancur; 90% di utara Gaza hingga sekitar 40% di sekitar Khan Younis.
Akan tetapi, biaya iklim yang paling signifikan diperkirakan akan berasal dari pembangunan kembali Gaza, yang telah dihancurkan Israel hingga menghasilkan sekitar sekitar 60 juta ton puing beracun. Biaya karbon yang dikeluarkan untuk mengangkut puing-puing dan kemudian membangun kembali 436.000 apartemen, 700 sekolah, masjid, klinik, kantor pemerintah, dan bangunan lainnya, serta lima km jalan di Gaza, diperkirakan akan menghasilkan 29,4 juta ton eCO2.
Meningkatnya keberadaan polutan udara berbahaya telah menyebabkan peningkatan masalah pernapasan, termasuk hampir 1 juta penyakit pernapasan akut . Saat ini, penyakit pernapasan yang paling umum di Gaza adalah asma, penyakit paru obstruktif kronik, bronkitis, pneumonia, dan kanker paru-paru. Banyak pasien yang menderita penyakit pernapasan ini tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan karena runtuhnya sistem kesehatan, sedangkan Israel tidak mengizinkan mereka pergi ke luar negeri untuk berobat.

Pada September 2025, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperkirakan bahwa 250.000 bangunan yang dirusak atau dihancurkan oleh Israel di Gaza telah menghasilkan sekitar 61 juta ton puing. UNEP mengatakan bahwa sekitar 15 persen dari puing-puing tersebut berpotensi terkontaminasi asbes, limbah industri, atau logam berat jika aliran limbah tidak dipisahkan secara efektif sejak dini.
Selama dua tahun genosida, sebanyak 83 persen bangunan dan unit perumahan dilaporkan telah hancur, termasuk sekolah, universitas, rumah sakit, dan fasilitas lain yang biasanya digunakan penduduk untuk berlindung. Pemerintah Kota Gaza mengonfirmasi bahwa mereka telah berhasil membersihkan 400 jalan dan memindahkan 50.000 ton puing, sedangkan masih ada puluhan juta ton puing lagi yang harus dibersihkan dan membutuhkan bantuan alat berat tambahan.
Pada akhir Oktober lalu, juru bicara Pemerintah Kota Gaza, Asim al-Nabih, menyatakan bahwa lebih dari 250.000 ton sampah menumpuk di seluruh Kota Gaza di tengah krisis air dan kebocoran limbah, menciptakan ancaman serius bagi kesehatan dan lingkungan di Gaza. Ia menambahkan bahwa penumpukan sampah dalam jumlah besar ini berisiko menimbulkan penyebaran tikus dan serangga, serta memicu wabah penyakit. Kantor Media Pemerintah Gaza menambahkan bahwa serangan Israel telah menghancurkan lebih dari 700.000 meter jaringan pipa limbah, mengakibatkan kebocoran limbah mentah di jalan-jalan Kota Gaza.
Situasi semakin parah karena Israel juga telah menghancurkan 134 kendaraan dan lebih dari 85 persen alat berat dan mesin operasional milik pemerintah Kota Gaza. Selain itu, pasukan Israel juga melarang petugas kebersihan mengakses tempat pembuangan akhir utama di Juhor al-Dik, sebuah kota perbatasan di tenggara Gaza. Al-Nabih menegaskan bahwa tanpa adanya peralatan, petugas, dan bahan bakar yang dibutuhkan untuk melakukan pengolahan sampah di Juhor al-Dik, krisis lingkungan akan terus berlanjut dan penduduk terancam kehilangan nyawa akibat penyakit dan epidemi.
Kerusakan Lingkungan Mengundang Wabah Penyakit

Musim Dingin di Tengah Kerusakan Lingkungan Ancam Nyawa Penduduk Gaza

Ecocide yang dilakukan oleh Israel bukan hanya persoalan Israel yang membakar lahan pertanian dan mencabut pohon-pohon zaitun, tetapi juga dampak buruknya yang menimbulkan krisis kelaparan dan penyakit yang berkepanjangan di Gaza, dan ini merupakan kejahatan perang yang sangat nyata. Lingkungan yang dirusak oleh Israel telah membuat ibu yang sedang mengandung tidak mendapatkan nutrisi, anak-anak kecil terjangkit diare dan polio, dan orang tua mereka menderita penyakit kulit. Ecocide bukan hanya bencana bagi lingkungan, tetapi juga bencana yang menurunkan kualitas hidup penduduk Gaza dari generasi ke generasi.
Dengan parahnya kerusakan lingkungan yang terjadi, membangun kembali Gaza adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat besar. Meski tidak bisa dilakukan secara cepat, namun bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mulai bergerak. Ancaman terdekat yang mengintai penduduk Gaza saat ini adalah musim dingin. Banyak tenda di pengungsian telah terendam banjir, para penghuninya juga menggigil setiap hari di tengah cuaca ekstrem tanpa adanya baju hangat maupun selimut. Udara dingin yang menusuk tulang ini mengancam nyawa banyak orang, terutama bayi dan anak-anak.
Setiap tahunnya, Adara Relief International tidak pernah absen dalam membersamai penduduk Gaza melewati musim dingin. Pada musim dingin tahun ini, Adara ingin mengajak Sahabat Adara untuk menjadi bagian dari kebaikan dan memberi pelukan hangat dari Indonesia untuk saudara-saudara kita di Jalur Gaza. Sahabat Adara dapat memberikan donasi yang akan diproses menjadi pakaian-pakaian hangat yang akan dibagikan ke penduduk Gaza. Menghadapi musim dingin di tengah kerusakan lingkungan akan menjadi waktu-waktu yang berat bagi penduduk Gaza, namun semoga bantuan pakaian hangat dari Sahabat Adara akan menjadi tangan yang memeluk hangat mereka dari dinginnya udara di luar sana.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Middle East Monitor
Middle East Eye
Palestine News Network
The Conversation
The Guardian
The Palestine Chronicle
UNRWA
WHO








