Pada bulan Juli, ada satu hari penting yang seringkali terlewatkan begitu saja. Satu hari yang sering luput dari perhatian tersebut adalah Hari Peradilan Pidana Internasional atau Hari Keadilan Internasional yang jatuh pada tanggal 17 Juli setiap tahunnya. Meskipun merupakan hari yang penting dan bersejarah, belum banyak orang yang memiliki pengetahuan tentang hari ini, sebab peringatannya tidak semeriah hari-hari besar tahunan lainnya. Barangkali hal ini juga yang menjadikan keadilan masih belum merata di beberapa belahan dunia, termasuk di Palestina.
Ironisnya, meski bulan Juli identik dengan Hari Keadilan Internasional, realita yang sangat kontradiktif terjadi di Palestina. Baru di paruh tahun 2023, namun kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Palestina justru semakin lama semakin meningkat terlebih di bulan Juli. Pada awal bulan ini, kota Jenin menjadi saksi pembantaian brutal yang disebut sebagai serangan terbesar di Tepi Barat sejak tahun 2005. Baru beberapa pekan setelah berakhirnya agresi Jenin, keluarga di Al-Quds (Yerusalem) yang telah tinggal selama 70 tahun dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka tanpa alasan yang kuat. Dua kasus tersebut hanya sekelumit di antara ribuan kasus ketidakadilan yang setiap harinya melanda Palestina tanpa henti tanpa jeda selama bertahun-tahun, bahkan masih berlangsung saat Anda membaca tulisan ini.
Baca juga “Ironi Hari Keadilan Internasional; Palestina Belum juga Mendapatkan Keadilan” disini
Anak-Anak Palestina Tidak Mengenal Keadilan Sejak Lahir

Di lantai pertama sebuah sekolah yang dikelola oleh PBB di Jenin, sekelompok anak perempuan berkumpul di satu ruangan kelas. Mereka berkumpul di sebuah meja yang terdapat mawar merah dan foto seorang anak perempuan di atasnya. Meja itu tadinya adalah milih Sadil Naghnaghieh, anak perempuan berusia 14 tahun yang tewas ditembak oleh pasukan pendudukan Israel pada awal bulan ini.
Uhmud Ahmad, salah satu guru yang mengajar di sekolah untuk pengungsi Palestina tersebut menggambarkan bahwa lebih sulit mengajari anak-anak di Palestina untuk menghargai hidup mereka dibandingkan mengajari mereka matematika atau fisika. “Kami mencoba memberitahu mereka tentang masa depan, tentang menjadi ibu, dokter, insinyur – untuk membuat mereka mengerti bahwa mereka dapat memiliki peran [dalam masyarakat].”
Akan tetapi, tampaknya usaha Ahmad belum membuahkan hasil yang diharapkan, mengingat situasi di Jenin yang masih terguncang akibat trauma sejak agresi terakhir baru-baru ini. “Bagaimana saya bisa membayangkan akan jadi apa saya dalam 10 tahun ketika saya tidak yakin akan bangun besok?” kata Salma Firaz, salah satu anak perempuan berusia 15 tahun yang bersekolah di sana, sekaligus juga teman sebangku Sadil yang tentunya masih berusaha menerima kepergian teman tersayangnya di usia yang masih sangat belia.
Pada awal bulan Juli, Jenin telah menjadi sasaran serangan besar-besaran pasukan Israel. Pada tanggal 3 hingga 5 Juli 2023, 1.000 pasukan elit khusus Israel disertai dengan 150 kendaraan lapis baja (termasuk tank dan buldoser) menyerbu kota dan kamp pengungsian Jenin. Para penembak jitu ditempatkan di banyak titik, bahkan tak sedikit yang mengusir penduduk setempat untuk menjadikan rumah mereka sebagai pangkalan militer. Serangan semakin diperparah dengan penggunaan helikopter tempur dan pesawat pengintai tak berawak yang dilaporkan telah meluncurkan sekitar 15 serangan udara.
Serangan tersebut menewaskan 12 orang, termasuk di antaranya 5 anak-anak. Sedangkan 120 lainnya menderita luka-luka dengan 20 orang dilaporkan masih dalam kondisi kritis. Serangan besar-besaran tersebut juga mengakibatkan 900 rumah menjadi tidak layak huni sehingga lebih dari 3.000 orang terpaksa mengungsi. Fasilitas umum seperti saluran air, listrik, serta jaringan internet menjadi tidak berfungsi. Tak hanya itu, Israel juga terus melarang ambulans dan para pekerja untuk melakukan tugas mereka merehabilitasi kota.
Serangan mematikan yang tidak pandang bulu tersebut mendapat dukungan penuh oleh Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett. Mengenai korban anak-anak, ia mengatakan bahwa meskipun masih anak-anak, seluruh korban yang tewas dalam agresi Jenin adalah “militan” dan “teroris”. Ia mengatakan, “Sebenarnya, 11 orang yang tewas di sana adalah militan. Fakta bahwa ada teroris muda yang memutuskan untuk mengangkat senjata adalah tanggung jawab mereka. Jenin telah menjadi pusat teror. Semua warga Palestina yang tewas adalah teroris dalam kasus ini.”
Faktanya, anak-anak di Jenin adalah anak-anak yang sudah tidak membayangkan masa depan, sama seperti Salma Firaz. Mereka tidak berani berharap untuk bisa menjadi dewasa, sebab mereka bahkan tidak yakin masih bisa terbangun lagi esok pagi. Israel akan selalu menjadi playing victim, seolah-olah menjadi pihak yang paling tersakiti, bahkan oleh anak-anak yang belum lulus sekolah dasar.
LSM Pertahanan untuk Anak Internasional-Palestina (DCIP) melaporkan bahwa sejak awal tahun 2023, Israel telah membunuh 35 anak Palestina, 26 anak ditembak mati, sedangkan 2 anak dibunuh dengan teknologi pesawat tak berawak di Tepi Barat. Jika berbicara soal keadilan, maka dasar hukum apa yang memperbolehkan untuk membunuh anak-anak, terutama yang masih berusia di bawah 17 tahun, dengan merekrut penembak jitu dan tentara yang menggunakan senjata militer yang lengkap?
“Sejak kami masih kecil, ketika kami melihat tank [militer], kami biasa melompat ke atasnya, mencoba merusaknya atau melempar kaleng cat atau minyak.” kata Abu Al-Ezz (32), seorang mantan pelatih gym. Ia menceritakan pengalaman masa kecilnya bersama teman-temannya, untuk mengenang salah satu temannya yang tewas dibunuh oleh tentara Israel. “Hidup saya akan sederhana… [tetapi] kematiannya sangat memengaruhi saya,” kata Abu al-Ezz. “Tidak mungkin Israel akan memberi kita pilihan apa pun kecuali perlawanan bersenjata,”
Ironisnya, saat dunia internasional mendiamkan para pimpinan Israel yang membuat berbagai alasan pembenaran untuk membunuh anak-anak, pada saat yang sama Israel justru menangkap ratusan anak-anak Palestina hanya karena alasan sepele, salah satunya melempar batu untuk mempertahankan diri. Save The Children melaporkan bahwa berdasarkan hasil survei terhadap mantan tawanan anak di Tepi Barat, alasan utama yang membuat mereka ditangkap rata-rata adalah pelemparan batu yang bisa membuat anak-anak dipenjara hingga 20 tahun. Antara melempar batu dan membunuh anak-anak terlihat jauh sekali perbedaan sanksi yang dikenakan, terlepas dari usia pelaku. Jadi coba katakan, bentuk keadilan macam apa yang dipraktekkan di sini?
Baca juga “Nasib Tawanan Anak Palestina dalam Tahanan Militer Israel” disini
Baru-baru ini, laporan PBB juga menunjukkan bahwa setiap tahunnya Israel menahan sekitar 500 hingga 1.000 anak-anak Palestina di tahanan militer mereka. Namun penelitian tersebut menyebutkan bahwa Israel tidak hanya menahan, melainkan juga memukuli, memborgol, menutup mata, bahkan melakukan kekerasan seksual serta pelecehan fisik dan verbal terhadap anak-anak.
Hasil wawancara Save The Children juga mendukung fakta tersebut dengan rincian 86 persen dari 228 mantan tawanan anak yang disurvei telah dipukuli dalam tahanan, dan 69 persen digeledah. Laporan menambahkan bahwa 42 persen terluka pada saat penangkapan, termasuk luka tembak dan patah tulang. Mereka juga diinterogasi di lokasi yang tidak diketahui tanpa kehadiran wali atau pengacara dan seringkali tidak diberi makan, minum, dan waktu untuk tidur. Selain itu, mereka juga sering ditolak aksesnya ke penasihat hukum.
Jason Lee, Direktur Save the Children di wilayah Palestina mengatakan anak-anak Palestina adalah satu-satunya di dunia yang mengalami penuntutan sistematis di pengadilan militer. Ia menambahkan bahwa anak-anak yang pernah menjadi tawanan rata-rata mengalami trauma yang ditandai dengan mimpi buruk dan insomnia, dan yang paling parah adalah mereka kehilangan harapan akan masa depan, lagi-lagi sama seperti kasus Salma Firaz. Maka jangan pernah mengajarkan tentang keadilan kepada anak-anak Palestina, sebab selagi keadilan itu belum ditegakkan di tanah mereka, itu hanya akan menjadi harapan yang perlahan menguap, sama seperti harapan anak-anak Palestina terhadap masa depan mereka.
Lansia Palestina dan Harapan Akan Keadilan yang Memudar

“Mereka [pasukan Israel] tidak mengenal demokrasi… Mereka adalah penjahat, pencuri yang telah mengambil segalanya dari kami,” kata Nora Sub Laban (68), saat menyaksikan rumahnya disita oleh polisi Israel. Suaminya, Mustafa Sub Laban (72), saat itu sedang berada di dalam rumah ketika polisi Israel datang pada tanggal 11 Juli untuk menyita rumah yang telah ditempati keluarganya selama 70 tahun.
Menurut media lokal, saksi mata melaporkan bahwa pasukan Israel, yang diperkuat dengan unit pasukan khusus, mendirikan pos pemeriksaan militer di sekitar lingkungan tersebut dan mengepung rumah keluarga Sub Laban sebelum menyerbunya. Video yang dibagikan secara online menunjukkan anggota keluarga didorong keluar ke jalan, berteriak dan menangis dalam kesusahan.
“Mereka telah mencuri rumah, tanah, pemuda, anak-anak, wanita. Mereka telah mencuri segalanya. Seluruh dunia menyaksikan apa yang mereka lakukan di Huwwara, Jenin, Nablus, Silwan dan di Sheikh Jarrah, serta di Kota Tua Al-Quds dan Masjid al-Aqsa,” kata Nora sambil duduk di luar rumahnya. “Saya dikelilingi oleh pemukim Israel, kami adalah satu-satunya orang Arab yang tersisa di rumah ini. Mereka membenci kami. Anda dapat melihat salah satu pemukim menari di sekitar sini, senang bahwa mereka mengambil rumah kami dari kami.”
Members of Palestinian family Sub Laban outside their home in occupied Jerusalem’s Old City as colonial Israeli settlers take over the home this morning. pic.twitter.com/f8VFqQtG2z
— PALESTINE ONLINE ???????? (@OnlinePalEng) July 11, 2023
Rumah keluarga Sub Laban telah disewa dari Yordania sejak 1953 dan tunduk pada aturan penyewaan yang dilindungi. Selama lebih dari 45 tahun, rumah tersebut telah menghadapi tuntutan hukum berulang dan pelecehan terhadap keluarga oleh otoritas pendudukan Israel. Pada tahun 2010, asosiasi pemukim Galicia mengklaim bahwa rumah keluarga Sub Laban adalah sumbangan Yahudi sehingga pengadilan Israel memutuskan untuk mengakhiri sewa yang dilindungi dan mengusir keluarga Sub Laban dari rumah mereka. Pengadilan sebelumnya telah mengusir anggota keluarga lainnya pada tahun 2016 dan melarang anak-anak keluarga tersebut untuk tinggal bersama orang tua mereka, yang menyebabkan keluarga tersebut berpisah.
Telah berjuang mempertahankan rumah mereka selama puluhan tahun, anak-anak dari keluarga Sub Laban sudah sangat akrab dengan lokasi pengadilan dan aturan-aturannya yang sangat jauh dari kata adil. “Bayangkan sebuah keluarga yang orang tuanya selalu pergi ke pengadilan Israel dan mereka menyerahkan semua uang kepada pengacara hanya untuk melindungi harta benda mereka,” Ahmad Sub Laban, putra Mustafa dan Nora, mengatakan. “Saya ingat ketika saya masih kecil, orang tua saya selalu pergi ke pengadilan. Itu mengerikan, sepanjang waktu.”
Ketika penduduk Palestina diusir dari rumah-rumah mereka, pemukim Israel dengan mudahnya bisa membangun rumah atau bahkan merebut rumah milik warga Palestina yang sebelumnya telah diusir, meskipun PBB dan lembaga internasional telah menetapkan bahwa permukiman Israel dan para pemukim yang tinggal di dalamnya adalah ilegal. Tapi pada kenyataannya, pada saat ini lebih dari 700.000 pemukim ilegal telah menetap di lebih dari 250 permukiman ilegal yang didirikan di atas tanah Palestina. Sistem hukum macam apa yang mengizinkan sekelompok tentara mengusir warga sipil dari rumah mereka untuk menyerahkannya ke pihak baru yang bahkan baru pertama kali datang ke daerah tersebut?
Pembantaian anak-anak di Jenin dan pengusiran keluarga Sub Laban pada bulan Juli ini baru dua kasus di antara ribuan kasus ketidakadilan lainnya yang setiap detiknya selalu terjadi di Palestina. Dari anak-anak hingga lansia, tidak ada yang luput dari ketidakadilan selagi Zionis Israel masih menduduki tanah Palestina. Sebab selagi tanah Palestina masih terjajah, para penjajah akan terus membuat aturan-aturan diskriminatif yang sangat jauh atau bahkan bertolak belakang dari kata adil itu sendiri.
Maka sesungguhnya masalah di Palestina adalah masalah dunia yang tentunya kita pun dituntut untuk terlibat. Mengapa? Sebab di dalam Pancasila kita telah menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan keadilan tepatnya di sila ke-2 dan ke-5. Dua hal yang menjadi hak dasar manusia tersebut hingga saat ini sama sekali belum ditegakkan di Palestina. Oleh karena itu, jika kita mengaku menghormati dasar-dasar negara, sudah sepantasnya kita tidak menutup mata dan pura-pura tidak menyadari ketidakadilan yang faktanya telah jelas ditunjukkan ke hadapan kita.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.aljazeera.com/news/2023/7/5/why-did-israel-use-helicopter-gunships-on-jenin-refugee-camp
https://www.aljazeera.com/news/2023/7/4/no-mercy-palestinians-describe-israels-deadly-raid-on-jenin
https://www.aljazeera.com/news/2023/7/14/why-do-some-palestinian-teens-in-jenin-dream-of-martyrdom
https://www.aljazeera.com/news/2023/7/10/palestinian-children-abused-in-israeli-detention-ngo
https://www.#/20230711-palestinian-sub-laban-family-evicted-from-jerusalem-home-as-settlers-move-in/
https://www.#/20230618-jerusalem-family-defies-israeli-forced-eviction-order/
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








