Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump telah mencabut beberapa pembatasan kecil yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Presiden Joe Biden terhadap Israel. Salah satu langkah awal Trump adalah mencabut sanksi terhadap 30 kelompok pemukim Israel yang sebelumnya diberlakukan sebagai upaya menekan Israel untuk menindak kekerasan terhadap warga sipil Palestina di Tepi Barat.
Langkah sanksi yang diterapkan Biden tahun lalu bertujuan menekan pemerintah Israel agar lebih serius menghentikan serangan pemukim terhadap warga Palestina. Namun, upaya ini gagal menghentikan kekerasan. Data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menunjukkan bahwa tahun 2024 mencatat jumlah kekerasan pemukim tertinggi dalam hampir dua dekade, dengan 4.250 warga Palestina kehilangan tempat tinggal dan 1.760 bangunan dihancurkan dalam sekitar 1.400 insiden di seluruh Tepi Barat.
Selain mencabut sanksi, Trump juga memerintahkan pembatalan penundaan pengiriman bom seberat 2.000 pon yang diberlakukan oleh Biden. Trump menyatakan bahwa bom-bom tersebut telah lama dibayar oleh Israel dan kini akan segera dikirim. Sebelumnya, Biden menahan pengiriman bom ini karena khawatir dampaknya pada warga sipil, terutama di Rafah, Gaza, yang menjadi target utama serangan Israel pada Mei 2024.
Bom seberat 2.000 pon mampu menembus beton dan logam tebal dengan radius ledakan yang luas, menyebabkan kekhawatiran akan dampak kemanusiaan yang besar. Meskipun Biden tetap mengirim senjata lain ke Israel dan bahkan mendorong dukungan kongres terhadap kesepakatan senjata besar, Israel terus mengkritik AS atas kebijakan yang dianggap menghambat operasi militernya di Gaza.
Dalam agresi yang berlangsung sejak Oktober 2023, lebih dari 47.000 warga Gaza terbunuh akibat serangan militer Israel, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Serangan tersebut juga memaksa hampir seluruh penduduk Gaza mengungsi dan menyebabkan krisis kelaparan yang parah. Meski begitu, Israel membantah tudingan genosida dan kejahatan perang lain yang ditujukan padanya, sementara AS terus memberikan bantuan miliaran dolar untuk mendukung sekutunya di kawasan tersebut.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








