Namanya Palestina. Sebuah negeri yang dikenal dengan gempuran bom dan serangan dalam perjalanannya untuk menjadi Negara yang merdeka melawan Zionis Israel. Di balik itu, Palestina juga memiliki keindahan lain. Keindahan yang bersembunyi dalam riuh gempuran di negeri itu. Keindahan yang disebut kebudayaan—yang juga dimiliki seluruh Negara di dunia.
Sebagai sebuah bangsa, Palestina memiliki berbagai sejarah dan kebudayaan yang kaya. Kebudayaannya terbentuk secara turun temurun dari hasil nilai-nilai yang hidup ditengah masyarakat Palestina. Kebudayaan ini dapat muncul dari keberagaman masyarakatnya maupun cara hidupnya. Seperti bangsa-bangsa lainnya, Palestina memiliki berbagai warisan kebudayaan yang diturunkan dari generasi-generasi sebelumnya, contohnya pakaian tradisionalnya.
Setiap Negara atau bangsa memiliki pakaian adat atau tradisionalnya sendiri. Misalnya, Korea dengan hanbok, Jepang dengan kimono, atau Indonesia yang memiliki berbagai pakaian adat yang berbeda dari berbagai daerahnya. Begitu pula dengan Palestina yang juga memiliki pakaian tradisional dan adatnya tersendiri.
pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, dikatakan bahwa ada pelancong mancanegara yang mengunjungi Palestina. Kepulangan mereka dari sana meninggalkan komentar-komentar bagus tentang pakaian tradisional yang dikenakan oleh wanita-wanita Palestina, terutama pakaian yang dikenakan oleh para fellaheen atau wanita desa. Pakaian ini disebut thobe atau “thoub” dalam bahasa Arab yang berarti jubah sebagai pakaian dasarnya.
Dulu, pembuatan pakaian thobe ini dilakukan para petani wanita pada waktu senggangnya. Pada awal kemunculan thobe, thobe kebanyakan ditemukan di desa-desa sebagai produsen pakaian tersebut. Pembuatan satu pakaian thobe dengan motif sulaman khusus membutuhkan waktu berbulan-bulan. Tak heran jika pakaian thobe ini bahkan dapat terjual hingga ribuan dollar.
Uniknya, meski sama, setiap desa di Palestina memiliki pola, penggunaan warna, serta struktur yang berbeda. Sebut saja sekitar tahun 1948, ada sekitar 800 desa yang berpenghuni dimana memiliki tipikal thobe yang berbeda-beda pula. Misalnya saja, jahitan tiga dimensi adalah untuk kelas atas di Bethelem, kemudian thobe yang bersaku-saku baju besar adalah milik perempuan suku pengembara Beduoin, dan thobe bermotif dahan berwarna oranye miliki Kota Jaff.
Selain itu, pola-pola yang ada pada thobe juga dapat menggambarkan posisi sosial seorang wanita. Contohnya, pola berwarna merah untuk pengantin, pola berwarna biru untuk janda, dan pola berwarna biru dengan ornamen jahitan warna warni untuk janda yang ingin menikah lagi. Pola-pola pada thobe ini juga dapat menggambarkan status ekonomi seseorang atau daerah asal mereka.
Desain pada thobe juga dapat mengekspresikan berbagai peristiwa yang pernah terjadi di Palestina. Misalnya pada saat para perempuan Palestina menyulam thobe dengan motif peta serta warga Negara mereka atas unjuk rasa mereka saat para tentara Israel merampas bendera Palestina. Sehingga dapat dikatakan bahwa thobe memiliki makna-makna tertentu pada motif, pola, dan desainnya sebagai pakaian tradisional wanita Palestina. Selain itu, pola-pola motif ini juga memiliki nama yang biasanya dinamai nama hal-hal di alam sekitar dengan makna-makna tertentu. Misalnya, motif telapak tangan dan cemara berarti ada hubungannya dengan keberadaan pohon kehidupan yang hidup ribuan tahun lamanya. Ada pula pola-pola yang memiliki arti sejarah dan politik. Contohnya, tenda Pasha atau khiyam al-basha.
Pada masa lalu, sulaman yang berasal dari Palestina umumnya memadukan pola geometris dengan motif-motif seperti pohon atau bunga. Pada akhir tahun 1930-an, motif-motif pakaian Palestina ini terpengaruhi oleh buku dan majalah Eropa yang saat itu menyebarkan model baru yaitu motif lengkung seperti tanaman rambat, susunan dedaunan, serta motif pasangan burung yang kemudian menjadi sangat populer di wilayah Palestina tengah. Pada saat ini, pola ini diperbanyak menjadi berbagai variasi motif seperti motif binatang, namun sedikit motif manusia.
John Whitting, seseorang yang berasal dari MOIFA (Museum Of International Folk Art) memberikan pendapatnya mengenai desain asli dari pakaian tradisional Palestina bahwa pakaian yang lebih penciptaannya dari tahun 1918 bukanlah desain asli Palestina, melainkan tercampur dengan pola-pola yang dibawa dari budaya lain. Sementara, pendapat lain mengatakan perubahan desain asli Palestina ini terjadi di akhir 1930-an karena percampuran budaya lain pula.
Hingga pada tahun 1948, terjadi peristiwa Eksodus Palestina yang juga disebut sebagai nakbah yang berarti malapetaka. Pada saat itu lebih kurang sebanyak 700 ribu warga Palestina meninggalkan tanah dan rumah mereka disebabkan Perang Arab-Israel 1948 baik secara paksa maupun sukarela. Peristiwa ini menyebabkan berbagai gangguan dalam kehidupan rakyat Palestina, termasuk pakaian tradisional Palestina sendiri. Peristiwa ini menyebabkan para wanita yang menyulam thobe tidak bisa lagi meluangkan waktu dan uang untuk melanjutkan kegiatannya menyulam pakaian ini. Sehingga, pada saat itu pembuatan pakaian ini memudar untuk beberapa waktu. Kemudian pada tahun 1960-an, pakaian berdesain baru mulai muncul di kamp-kamp pengungsian. Misalnya gaun yang memiliki enam pita lebar yang memiliki sulaman dari arah pinggangnya. Desain inilah yang kemudian menjadi pakaian bergaya Palestina yang kita kenali sekarang.
Keindahan thobe yang cantik memudar ditelan zaman secara perlahan. Meskipun masih ada, tetapi telah diketahui bahwa desain aslinya sudah tidak terdeteksi oleh zaman. PAda saat ini, pakaian produksi dari pabrik sudah menyebar di seluruh dunia menggantikan pakaian-pakaian yang terbuat dari sulaman tangan dengan berbagai mode yang dikatakan lebih kekinian. Hal ini, tentu dapat meningkatkan tingkat pengurangan produksi thobe yang sudah sangat berkurang dari waktu ke waktu. Selain itu, pada saat ini tanah Palestina masih memperjuangkan dirinya atas kemerdekaan. Dengan itu, seiring perjuangan hendaknya diiringi dengan pelestarian budaya seperti thobe yang dapat memudar tergerus waktu. Karena kebudayaan adalah identitas diri. Tidak ada yang lebih penting dari mengingatkan diri kita pada identitas diri saat berjuang.
Penulis: Rizka Khairani
***
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







