Di atas sebuah bukit kecil di kawasan al-Daraj, Kota Gaza, sisa-sisa Istana Pasha terbentang seperti ingatan yang terluka. Dahulu tempat itu merupakan pusat administrasi dan kebudayaan yang ramai, kini bangunannya tinggal puing akibat agresi genosida Israel.
Para pekerja Palestina bergerak hati-hati di antara reruntuhan, menggunakan kuas kecil dan tongkat kayu. Setiap batu yang mereka angkat, setiap pecahan tembikar yang mereka temukan, menjadi penegasan bahwa sejarah Gaza masih hidup—sebuah bentuk perlawanan terhadap upaya penghapusan memori kolektif.
“Setiap batu punya cerita. Istana ini bukan sekadar bangunan, ini memori seluruh kota,” ujar Hamouda al-Dohdar, pakar warisan budaya Gaza yang memimpin proses restorasi.
Dibangun pada abad ke-13 pada masa Sultan Mamluk al-Zahir Baybars, Pasha’s Palace menjadi pusat administratif dan kediaman para gubernur dan komandan. Napoleon Bonaparte bahkan tercatat pernah tinggal di sana selama kampanye militernya di Levant akhir abad ke-18.
Sebelum perang, istana ini berfungsi sebagai museum arkeologi dengan lebih dari 17.000 artefak dari era Romawi, Bizantium, Islam, hingga Ottoman. Namun sebagian besar artefak tersebut hancur atau dijarah setelah serangan militer Israel. “Hanya 20 artefak yang tersisa,” kata al-Dohdar.
Antara 2023–2025, lebih dari 208 situs budaya dan bersejarah di Gaza rusak atau hancur, termasuk Masjid Agung Omari, Hammam al-Samra, dan Biara Saint Hilarion.
Arkeolog Nariman Khalla menegaskan bahwa kerusakan ini bersifat sengaja: “Ini bukan kerusakan sampingan. Ini upaya menghapus identitas sejarah kami.”
Meski lingkungan al-Daraj porak-poranda, warga memilih menjaga istana tersebut. “Kami kehilangan rumah, tapi tidak boleh kehilangan identitas,” kata Abu Mohammed al-Hattab, 63 tahun, yang berjaga setiap malam bersama tetangga untuk melindungi istana dari penjarahan.
Umm Osama Sheashaa, yang tinggal di seberangnya sejak kecil, mengingat malam-malam pertamanya berjaga: “Rumah bisa dibangun kembali, sementara sejarah tidak.”
Tim restorasi yang didukung para ahli dari Bethlehem Centre for Cultural Heritage Preservation, telah mengumpulkan sekitar 10.000 batu yang masih layak digunakan. Namun tantangannya besar: tidak ada mesin modern, bahan bangunan langka, dan struktur dinding yang masih rawan runtuh.
“Kami bekerja perlahan karena setiap artefak tak tergantikan. Ini bukan sekadar renovasi, ini perlawanan,” kata Tariq Rajab, 42 tahun.
Bagi banyak warga, menjaga istana berarti menjaga diri mereka sendiri. “Jika kami menyerah, kami kehilangan sebagian dari diri kami,” ujar Abu Mohammed al-Aqad.
Kerusakan di Istana Pasha mencerminkan kerusakan warisan Gaza secara keseluruhan yaitu masjid tua, monumen Bizantium, hingga hammam (tempat mandi) bersejarah. Bagi warga, setiap situs bukan sekadar arsitektur, tetapi penanda identitas di kota yang diserang dari segala arah.
“Setiap batu yang kembali ke tempatnya adalah bukti bahwa budaya kita tetap hidup,” kata Khalla.
Kini, di tengah puing, Pasha’s Palace berdiri kembali—perlahan, namun penuh perlawanan. Bukan lagi hanya saksi sejarah, istana ini menjadi simbol keteguhan sebuah masyarakat untuk mempertahankan memori mereka dari upaya penghapusan.
Sumber: The New Arab








