Jalur Gaza merupakan daerah datar dengan garis pantai yang relatif luas dan memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Curah hujan tahunan rata-rata di Jalur Gaza adalah 365 mm/tahun dan sejak 2008, fluktuasi dan variasi curah hujan telah menyebabkan kejadian banjir yang ekstrem. Sementara itu, terdapat lebih dari 280.000 warga Gaza yang tinggal di 360 daerah banjir dan terkena dampak banjir tahunan yang intensitasnya bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain.
Pada 2021, lebih dari 8.500 keluarga di Gaza terkena dampak banjir yang terus terjadi selama 3 tahun terakhir. Sebanyak 1.300 keluarga bahkan harus menghadapi kerusakan yang terjadi pada rumah dan bangunan-bangunan publik, membuat mereka kesulitan untuk beraktivitas dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Curah hujan tahunan Gaza
Sumber: file:///C:/Users/hp/Downloads/Telegram%20Desktop/WASHCLUSTERFLOOD_080921.pdf
Namun demikian, upaya pencegahan banjir sulit dilakukan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor: pertama tentu saja blokade yang menyebabkan pembatasan persediaan material dan peralatan konstruksi vital seperti pipa, pompa air, dan alat berat lainnya. Kedua, keterbatasan kemampuan finansial kota dan teknis penyedia layanan—yang tentu saja merupakan imbas dari blokade. Ketiga, serangan yang terus-menerus dilancarkan oleh Israel terhadap Gaza telah merusak infrastruktur kota dan memperbaikinya membutuhkan banyak proses yang berbelit-belit.
Pada awal 2022, musim dingin yang buruk melanda Kota Gaza, menambah kesulitan warga yang belum pulih akibat blokade dan serangan Israel pada Mei 2021 lalu. Hujan lebat yang terus mengguyur kota telah menyebabkan banjir besar sejak 15 Januari 2022. Banyaknya infrastruktur yang rusak, buruknya sistem pembuangan air, dan dipersulitnya akses terhadap peralatan konstruksi vital, menambah kerentanan Gaza dalam menghadapi curah hujan yang sangat tinggi.
Pejabat Palestina dari The Gaza Water Utility mengatakan bahwa Israel telah menahan suku cadang pengganti penting untuk sistem air dan pembuangan di Jalur Gaza. Dahulu, pengiriman barang hanya membutuhkan waktu kurang dari sebulan untuk tiba di Gaza, kini memakan waktu hingga lima bulan. Hal ini membuat air limbah dibuang langsung ke laut, kebocoran air dari pipa meningkat, dan limpahan air hujan menyebabkan peningkatan insiden banjir.[1] Kota Nuseirat, di Jalur Gaza tengah, juga telah memperingatkan terjadinya banjir setelah Otoritas Israel memutuskan untuk membuka bendungan penampung air hujan, di perbatasan timur Jalur Gaza.
Banjir telah membuat warga kesulitan untuk beraktivitas. Di wilayah Jabalia, banjir memaksa warga setempat menggunakan papan dayung agar bisa berpindah tempat. Sementara itu, tim pertahanan sipil membantu menyelamatkan warga yang terdampar dan terjebak banjir, baik yang di dalam rumah maupun di kendaraan. Terdapat 152 orang yang telah diselamatkan oleh tim pertahanan sipil dalam dua hari.

Tim pertahanan sipil membantu warga setempat dengan papan dayung
Sumber: Storyful

Anggota penyelamat Palestina mengevakuasi warga menggunakan perahu
Sumber: ctvnews.ca
Selain merendam kawasan perkotaan, banjir juga merusak lahan pertanian stroberi di Gaza dan mengakibatkan banyak kerugian. Stroberi merupakan tanaman musim dingin dan salah satu hasil pertanian terbaik yang dimiliki Gaza.
Pada Kamis (20/1), Menteri Pertanian Palestina melaporkan bahwa Israel telah melubangi bendungan karena akan digunakan untuk “mengairi pertanian”. Hal tersebut mengakibatkan peternakan dan pertanian di Gaza terancam rusak karena kapan saja bisa terendam banjir. Salem Quta, salah satu petani yang terkena dampak banjir mengatakan, “Sekitar 400 dunam tanah saya terendam banjir, sementara 150 dunam lainnya rusak karena aliran dari air hujan.

Upaya memblokir air ke lahan pertanian dengan buldoser
Sumber: https://twitter.com/Forever__Pal06/status/1482920617628561408


Para pedagang berjualan di tengah arus air
Sumber: AccuWeather

Para pelajar berjalan sepulang sekolah di tengah banjir
Sumber: https://twitter.com/qudsn/status/1482300850970181633
Banjir seperti sudah menjadi acara tahunan bagi warga Gaza. Warga sudah sering mengeluh akan hal ini tetapi perbaikan juga sulit dilakukan dengan adanya faktor yang belum bisa teratasi. Pasalnya, banjir di Gaza bukan saja diakibatkan dari hujan air yang meluap melainkan juga akibat “hujan” serangan dan pengepungan yang merusak kota.
Mari bantu saudara-saudara Palestina dalam menghadapi musim dingin, untuk menghangatkan mereka dan melindungi mereka dari gigilnya udara musim dingin di Palestina.
Vannisa Najchati Silma, S.Hum.
[1] https://youtu.be/GLvtKs6PyYk
Sumber :
https://www.jpost.com/israel-news/article-692644
https://twitter.com/QudsNen/status/1482326025954639872?t=yyauhCS0d-WvilBP2s-IBA&s=19
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.








Nice reading!
Nice reading!