Sudah 22 tahun sejak dimulainya Intifada Kedua ketika Ariel Sharon menyerbu dan menodai Masjid al-Aqsa pada September 2000. Pada hari ketiga, Muhammad Al-Durra (12), ditembak mati oleh tentara Israel di Gaza. Negara-negara Arab terkejut, dan orang-orang turun ke jalan memegang gambar anak laki-laki itu dan mengutuk Israel atas kejahatannya. Saat ini, bangsa-bangsa Arab tidak lagi digoyahkan oleh ratusan Muhammad Al-Durra lainnya di Palestina, karena sudah ada ribuan anak yang bernasib sepertinya karena rezim apartheid Israel.
Itulah sebabnya kematian Rayan Suleiman (7) minggu lalu tidak menarik simpati dan perhatian yang sama dari negara-negara Arab seperti ketika kasus Muhammad Al-Durra. Sayangnya, ini mendorong Zionis untuk melakukan lebih banyak lagi kejahatan terhadap anak-anak Palestina. Ratusan anak-anak Palestina telah terbunuh dan menambah catatan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan dari pasukan pendudukan Zionis.
Baca juga: Tentang Rayyan yang Jantungnya Berhenti Berdetak dan Nasib Anak-Anak Palestina di Bawah Penjajahan
Sayangnya, ini adalah pemandangan yang akrab: Tentara bersenjata menyerbu rumah dan sekolah, mengejar anak-anak dan memperlakukan mereka dengan kebrutalan yang luar biasa. Seluruh dunia menonton di televisi dan media sosial, tetapi tidak melakukan apa-apa. Ketika berbicara tentang anak-anak Arab, khususnya Palestina, masyarakat internasional tidak memiliki hati nurani; justru melindungi negara pendudukan. PBB tidak mampu meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatannya, bahkan menolak untuk menambahkan Israel ke dalam daftar hitam negara yang melanggar hak-hak anak di daerah konflik pada 2012, meskipun Israel telah melakukan pelanggaran berat terhadap anak-anak Palestina.
Pada Hari Anak Sedunia 20 November 2021, Klub Tawanan Palestina mengatakan bahwa Zionis telah menangkap 1.149 anak-anak Palestina sejak awal tahun. Lembaga tersebut juga menunjukkan bahwa sejak 2000, Israel telah menangkap setidaknya 19.000 anak-anak Palestina. Selain itu, pada 2020, Defense for Children International mencatat sekitar 500 dan 700 anak Palestina menghadapi persidangan setiap tahun tanpa keadilan. Sementara menurut statistik resmi Palestina, sekitar 2.230 anak telah dibunuh oleh orang Israel sejak 2000, kebanyakan dari mereka merupakan korban agresi Israel di Gaza selama empat serangan militer terakhir.
Rayan Sulaiman, dengan demikian, bukanlah yang pertama dan tidak akan menjadi anak Palestina terakhir yang dibunuh oleh pendudukan Israel. “Negara” pemukim-kolonial akan terus membunuh lelaki, perempuan, dan anak-anak Palestina selama masyarakat internasional mempertahankan bias pro-Israel dan menutup mata terhadap kejahatan otoritas pendudukan.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








