Cuaca ekstrem berujung bencana banjir hingga longsor terjadi di berbagai daerah Indonesia dalam sepekan terakhir, bahkan beberapa di antaranya berujung maut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui bencana hidrometeorologi yang terjadi di Indonesia dalam rentang waktu 3–9 Oktober 2022 merupakan rekor bencana alam yang terjadi dalam waktu sepekan. Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menambahkan dalam sepekan terakhir terjadi 70 bencana di 18 provinsi atau 58 kabupaten/kota di Indonesia yang memakan 10 jiwa, seorang masih hilang, dan 151.156 orang terdampak dan mengungsi.
“Minggu ini kita rekor, dalam artian jumlah kejadian bencana kita sangat besar,” kata Abdul dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Senin (10/10). Bencana banjir menjadi bencana paling banyak memakan korban jiwa. Rincian untuk 10 korban jiwa, yakni tiga orang di Jakarta, seorang di Aceh Utara. Kemudian korban cuaca ekstrem di Cilacap memakan seorang korban jiwa, selanjutnya lima orang meninggal dunia akibat bencana cuaca ekstrem di Bali.
Adapun BNPB mencatat Kabupaten Bogor, Jawa Barat, memiliki frekuensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor tertinggi di Indonesia. “Kabupaten Bogor ini adalah daerah dengan frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi paling tinggi di Indonesia, tidak hanya di Jabodetabek,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, pada Selasa (11/10). Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan potensi cuaca ekstrem telah terjadi sejak 2 hingga 8 Oktober 2022. Namun, dinamika atmosfer itu diprediksi berlanjut hingga sepekan ke depan, yaitu mulai 9-15 Oktober 2022.
Di samping itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto juga melaporkan sebanyak 2.718 kali bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang periode 1 Januari hingga 9 Oktober 2022. “Sampai tanggal 9 Oktober 2022 tercatat jumlah kejadian bencana sebanyak 2.718 kejadian,” ujar Letjen Suharyanto saat konferensi pers, Senin (10/10).
Kejadian bencana alam yang mendominasi adalah cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 1.083 kali, tanah longsor 483 kali, cuaca ekstrem 867 kali. Sementara itu, gempa bumi terjadi sebanyak 21 kali, kebakaran hutan dan lahan 239 kali, serta gelombang pasang dan abrasi 21 kali. “Dampak bencana alam tersebut menimbulkan korban meninggal dunia 160 jiwa, hilang 28 jiwa, 790 luka-luka, serta penduduk yang terdampak dan mengungs sebanyak i 3.193.001 jiwa,” jelasnya.
Oleh karena itu Suharyanto meminta agar semua pihak waspada terhadap potensi kejadian bencana akibat cuaca ekstrem mengingat, puncak musim hujan seperti yang dilaporkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi pada November, Desember, dan Januari. “Artinya walaupun sekarang belum puncak hujan, korbannya sudah cukup banyak, baik yang meninggal maupun yang terdampak,” tutup Suharyanto.
Sumber:
https://nasional.sindonews.com
https://nasional.sindonews.com
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







