“Saya masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kami selamat dari bom hanya agar anak-anak saya meninggal akibat badai,” demikian Mohammed Nassar, ayah yang sedang berduka itu menuturkan. Dua anaknya, Lina (18) dan Ghazi (15), meninggal setelah rumah mereka di Sheikh Radwan runtuh akibat badai. Sebelumnya, Nasser membawa keluarganya mengungsi berkali-kali untuk menghindari serangan Israel, demi menjaga keselamatan anak-anaknya. Ia berhasil menyelamatkan anak-anaknya dari bom Israel, namun tidak luput dari perenggut nyawa lainnya: musim dingin di Gaza.
Musim dingin yang disertai badai di Gaza telah menjadi ancaman yang mengerikan bagi penduduk Gaza. Di tengah rumah-rumah yang runtuh, tenda-tenda tak layak huni, juga minimnya kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan, musim dingin telah menjadi waktu-waktu yang kritis bagi penduduk Gaza. Tanpa adanya bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk, tubuh-tubuh yang menggigil kedinginan di Gaza akhirnya satu per satu meregang nyawa, terutama bayi dan anak-anak.
Di penghujung tahun ini, tak ada kehangatan di Gaza. Dua tahun menghadapi genosida brutal, kemudian menjalani gencatan senjata yang hanya basa-basi, Gaza kini masih berada di garis tipis antara hidup dan mati. Setiap waktu yang berjalan bagaikan tebasan pedang, membuat penduduknya semakin menderita. Di tengah badai yang berlangsung di Gaza, korban-korban yang berjatuhan telah menjadi suara terkuat bagi dunia, bahwa gencatan senjata tidak membuat Gaza lantas menjadi baik-baik saja.
Puluhan Nyawa Melayang dalam Kedinginan

“Sebelum genosida, saya menyukai musim dingin,” kenang Nesma Hassan (28), seorang ibu yang tinggal di lingkungan al-Karama di utara Kota Gaza. “Itu adalah waktu kehangatan dan kebersamaan keluarga. Sekarang saya hanya menunggu musim dingin berakhir, takut bagian rumah lainnya akan runtuh menimpa kami.” Sejak suaminya, Ali, meninggal tahun lalu, Nesma menjadi ibu tunggal untuk putrinya yang berusia empat tahun. Kini. mereka hidup penuh kesulitan di reruntuhan rumah mereka di tengah banjir.
“Kami mencoba mempersiapkan diri untuk musim dingin,” kata Nesma. “Kami membeli kayu, terpal, dan lembaran plastik. Namun ketika hujan mulai turun, angin menerbangkan semuanya.” Air merembes ke setiap sudut rumah, termasuk dua ruangan yang tersisa. “Kami menghabiskan sepanjang malam untuk mengeluarkan air,” katanya. “Perabotan dan kasur basah kuyup. Hujan terlalu deras untuk dikendalikan.”
Sejak 11 Desember, Reliefweb melaporkan bahwa curah hujan lebat telah mengakibatkan banyak korban jiwa di Gaza. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa ribuan keluarga berlindung di tenda-tenda yang hanya memberikan sedikit perlindungan dari musim dingin yang keras. Risiko infeksi pernapasan akut, hepatitis, dan penyakit diare terus meningkat akibat paparan cuaca dingin serta air dan sanitasi yang tidak memadai.
Pada pertengahan Desember, Klaster Manajemen Lokasi (SMC), sebuah badan koordinasi kemanusiaan di bawah naungan PBB yang mendukung korban yang terdampak bencana alam dan pengungsi internal, melaporkan kondisi yang memburuk di seluruh Jalur Gaza akibat curah hujan lebat dan suhu dingin. Sekitar 465 keluarga (lebih dari 2.700 orang) saat ini berlindung di tenda-tenda darurat di dalam tempat perlindungan darurat. SMC melakukan pemantauan dan pelaporan harian terhadap insiden terkait banjir di seluruh lokasi yang dikelola. Hingga 14 Desember, tercatat 61 lokasi banjir yang berdampak pada sekitar 30.000 orang.
Skala banjir musim dingin tahun ini sangat parah, dengan kerusakan yang meluas, memengaruhi ratusan ribu orang di daerah berisiko tinggi; namun, angka sebenarnya mungkin lebih tinggi karena cakupan pemantauan yang terbatas. Dari lokasi yang terdampak, 26 berada di Deir al Balah, 25 di Khan Younis, dan 10 di Kota Gaza. Kerusakan yang dilaporkan termasuk tenda yang sobek yang memengaruhi 39 keluarga, hancurnya 32 tenda akibat angin kencang, dua laporan cedera, dan pengungsian 16 keluarga.
Media Palestina Wafa menyebutkan bahwa sebanyak 25 orang telah menjadi korban jiwa akibat musim dingin di Gaza pada tahun ini, termasuk enam anak, dua di antaranya adalah bayi yaitu Saeed Asaeed Abdeen yang baru berusia satu bulan dan Mohammed Khalil Abu al-Khair yang baru berusia dua minggu. Mazen al-Najjar, Wali Kota Jabalia, memperingatkan bahwa “Cuaca ekstrem datang ketika para pengungsi sudah hidup dalam kondisi yang sangat buruk.” Lebih dari 90% bangunan dan jalan di Jabalia dan Jalur Gaza utara hancur, memaksa warga Palestina untuk tinggal di tenda-tenda usang, kata wali kota. Dia menambahkan bahwa infrastruktur di daerah tersebut telah runtuh sepenuhnya, yang berarti jalanan dapat terendam banjir dengan cepat dan saluran pembuangan dapat meluap pada dini hari saat cuaca buruk.
“Saya menghabiskan malam dengan menahan tenda menggunakan tangan saya sendiri saat hujan deras menerpa dari segala arah,” kata Saber Dawas, seorang kepala keluarga yang tinggal di tenda darurat di Stadion al-Yarmouk di Gaza tengah. Sejak musim dingin tiba, Saber hidup dalam kekhawatiran. Tenda mereka yang rapuh hanya memberikan sedikit perlindungan dari hujan atau angin, dan dia tahu tenda itu bisa roboh kapan saja. “Rasanya seperti aku tidak melakukan apa pun. Tenda itu roboh menimpa kami beberapa jam setelah hujan turun.”
Dua minggu sebelumnya, air hujan telah membanjiri tenda mereka, hingga mencapai hampir 30 cm. Saber dan istrinya memiliki tujuh anak perempuan, dan hampir semuanya sakit flu selama beberapa hari akibat cuaca dingin. Saber pun meminjam uang dari salah satu kerabatnya untuk membeli terpal plastik dan memperkuat tenda dengan tiang kayu. Namun ketika badai kembali melanda Gaza, upayanya terbukti sia-sia.
Putri-putrinya menggigil sepanjang malam saat air membasahi segala sesuatu di dalam rumah. “Semua pakaian, selimut, dan makanan kami basah kuyup,” katanya. “Saya tidak tahu harus berbuat apa atau ke mana harus membawa keluarga saya.” “Apakah seperti inilah gencatan senjata? Bukannya berada di rumah, kami malah mati kedinginan di tenda-tenda rapuh.”
Bukan Musibah, Tapi Bencana yang Disengaja

Pada pertengahan Desember, Amnesty International menyatakan bahwa banjir yang mengakibatkan kerusakan terhadap ribuan tenda dan rumah penduduk di Gaza dipicu oleh pembatasan berkelanjutan Israel terhadap masuknya pasokan penting untuk memperbaiki infrastruktur vital. Meski gencatan senjata telah berlangsung selama dua bulan, namun Israel hanya mengizinkan pasokan yang sangat terbatas bagi penduduk Gaza yang kekurangan hampir segalanya dan hidup dalam kemiskinan ekstrem di tengah kehancuran total. Ini merupakan indikasi lebih lanjut bahwa Israel terus dengan sengaja menyebabkan kehancuran fisik terhadap penduduk Gaza, suatu tindakan yang dilarang berdasarkan Konvensi Genosida.
“Tanda-tandanya sudah terlihat; ini bukan kecelakaan, ini adalah tragedi yang sepenuhnya dapat dicegah. Pemandangan mengerikan berupa tenda-tenda yang terendam banjir dan bangunan-bangunan yang runtuh di Gaza dalam beberapa hari terakhir bukan semata-mata akibat ‘cuaca buruk’. Itu adalah konsekuensi yang dapat diprediksi dari genosida yang terus dilakukan Israel dan tindakan yang disengaja untuk menghalangi masuknya hunian darurat ataupun material bangunan bagi para pengungsi,” kata Erika Guevara Rosas, Direktur Senior Riset, Advokasi, Kebijakan, dan Kampanye Amnesty International.
“Badai dahsyat dalam beberapa hari terakhir telah menambah penderitaan pada penduduk yang sudah trauma dan memperparah penderitaan warga Palestina yang masih terguncang akibat dua tahun pengeboman tanpa henti dan pengungsian paksa. Kesadaran bahwa bencana sebesar ini sebenarnya dapat dicegah jika Israel mengizinkan masuknya alat-alat dan material lainnya untuk perbaikan infrastruktur, sangatlah menyedihkan. Israel harus segera mencabut blokade kejamnya terhadap Gaza dan memastikan akses tanpa hambatan untuk barang-barang penting, material perbaikan, dan pasokan kemanusiaan.”
Di tengah kehancuran ini, banyak komentator media Israel secara terbuka merayakan dampak badai musim dingin di Gaza. Seorang panelis di Channel 14 mengatakan dia tidak keberatan jika tenda-tenda di Gaza hancur atau jika warga Palestina kembali mengungsi. Dia menyebut badai itu sebagai “pembersihan”, bukan bencana kemanusiaan. “Saya rasa tidak akan ada satu pun tenda yang tersisa pada pagi hari,” katanya, sebelum menambahkan, “Dan saya tidak masalah jika orang-orang tidak ada di sana.” “Apa yang terjadi sekarang adalah pembersihan. Tuhan telah memberi mereka hukuman, dan sekarang Dia menyapu Gaza dengan air.”
Penduduk Gaza telah mengalami beberapa kali pengungsian, menderita di tengah kehancuran atau kerusakan. Setidaknya 81% bangunan di seluruh Gaza telah hancur, ditambah 53.000 tenda pengungsian yang terendam banjir, tersapu oleh arus deras atau rusak diterjang angin kencang. Dan kini, setelah hampir 58% dari total wilayah Gaza ditetapkan sebagai zona terlarang, sebagian besar warga Palestina tinggal di tenda-tenda tak layak huni atau tempat penampungan yang rusak. Mereka berjuang untuk hidup di tengah saluran pembuangan yang meluap dan digenangi air banjir, terpapar dingin dan angin kencang, tanpa perawatan medis yang memadai atau bahan-bahan yang diperlukan untuk bertahan di musim dingin.
Menurut laporan darurat yang diterbitkan oleh koalisi organisasi kemanusiaan yang beroperasi di Gaza, bantuan dan pasokan penting senilai hampir US$50 juta telah diblokir agar tidak masuk ke Gaza sejak gencatan senjata, dan setidaknya 124 permintaan dari LSM untuk membawa bantuan ke Gaza telah ditolak. Menurut UNRWA, Israel terus mencegah badan tersebut untuk membawa masuk tempat penampungan atau hunian darurat dan perlengkapan penting lainnya bagi para pengungsi di Gaza.
Padahal, sejak awal Desember, UNRWA melaporkan bahwa mereka memiliki cukup paket makanan untuk 1,1 juta orang dan perlengkapan tempat penampungan. Namun, bantuan kemanusiaan ini ditolak oleh Israel, yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kewajibannya berdasarkan hukum internasional.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, memperingatkan bahwa ribuan bangunan yang hancur sebagian, berisiko runtuh akibat hujan dan angin. “Rumah-rumah ini menimbulkan bahaya besar bagi kehidupan ratusan ribu warga Palestina yang tidak memiliki tempat berlindung,” kata Basal. “Kami telah berulang kali memperingatkan dunia, tetapi tidak ada hasilnya.”
Di Tengah Badai, Gaza Membutuhkan Hangatnya Rasa Kemanusiaan

Di negara-negara lain, musim hujan yang disertai hujan deras atau badai merupakan siklus tahunan yang hampir selalu bisa ditangani. Penduduk hanya dihimbau untuk tetap tinggal di rumah, menyalakan penghangat ruangan, lalu musim dingin akan berlalu dengan aman. Tetapi tidak di Gaza. Di Jalur Gaza yang telah dibombardir dengan genosida selama dua tahun, musim dingin yang disertai badai merupakan vonis mati tanpa peringatan.
Di Gaza, penduduk yang telah kehilangan rumah, harus tinggal berdesakan di tenda-tenda tak layak huni yang sama sekali tidak bisa melindungi dari udara dingin dan genangan banjir. Sistem pembuangan limbah yang hancur membuat wabah penyakit menyebar, menjadi ancaman bagi bayi dan anak-anak yang sudah menderita akibat gizi buruk. Sementara itu, di perbatasan, ribuan truk yang membawa pakaian hangat, tenda, dan selimut tidak kunjung mendapat izin masuk, membuat penduduk Gaza terus menggigil kedinginan tanpa pakaian hangat dan alas kaki.
Di Jalur Gaza, badai tidak pernah berlalu begitu saja tanpa meninggalkan luka, tanpa merenggut banyak nyawa. Segala aspek kehidupan telah hancur, membuat kehadiran musim dingin sebagai ancaman tersendiri bagi penduduk Gaza. Badai dan musim dingin tidak pernah peduli apakah sedang terjadi genosida, gencatan senjata, atau krisis kemanusiaan. Akan tetapi, kita adalah manusia yang bisa memilih untuk peduli, apakah akan diam saja menyaksikan penduduk Gaza merenggut nyawa di tengah kedinginan, atau segera mengambil tindakan dan melakukan segala upaya yang kita bisa untuk membantu mereka.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Amnesty International
Reliefweb
TRT World
The Guardian
Al Jazeera
Middle East Eye








