Menurut Amnesty International, Israel telah menolak hak bagi perempuan Palestina di Jalur Gaza untuk hidup dan melahirkan dengan aman. Ini terjadi di tengah genosida yang Israel lancarkan di wilayah tersebut.
Amnesty International memperingatkan pada Selasa (10/03) bahwa perempuan dan anak perempuan di Gaza telah berada “di ambang batas”. Ini terjadi karena genosida Israel telah memicu serangkaian kesulitan, seperti pengungsian massal hingga kehancuran sistem perawatan kesehatan setempat.
Lembaga tersebut juga menyatakan bahwa perempuan hamil, serta perempuan yang membutuhkan perawatan untuk kanker dan penyakit lainnya, sangat terpukul akibat kurangnya layanan kesehatan yang memadai di wilayah tersebut.
Baca juga : “Jumlah Janda dan Perempuan Pengangguran Meningkat Akibat Genosida“
Pekan lalu, kantor kemanusiaan PBB (OCHA) mengatakan bahwa sektor kesehatan di Gaza masih “mengalami kendala signifikan”. Kendala ini terjadi akibat pembatasan pasokan dan peralatan medis, serta bahan bakar.
“Layanan kesehatan seksual dan reproduksi masih sangat terganggu karena infrastruktur yang rusak, kekurangan obat-obatan dan perlengkapan penting, serta kapasitas rujukan yang terbatas,” kata OCHA. Mereka mencatat bahwa sebanyak 180 perempuan melahirkan setiap hari di Gaza.
“Kekurangan tempat tidur yang parah berarti perempuan yang menjalani prosedur besar, termasuk operasi caesar, sering kali dipulangkan dalam hitungan jam dan kembali ke tempat penampungan yang penuh sesak. Akibatnya, hal tersebut meningkatkan risiko komplikasi dan infeksi,” kata lembaga tersebut.
Amnesty International juga menyampaikan hal yang sama. Mereka mengatakan bahwa para pekerja medis di Gaza melaporkan “peningkatan eksponensial dalam kondisi kesehatan ibu dan bayi baru lahir selama 29 bulan terakhir”. Kondisi ini merupakan akibat dari genosida yang Israel lancarkan di wilayah tersebut.
Kondisi tersebut termasuk kelahiran prematur, bayi dengan berat badan rendah, dan bayi yang menderita gangguan pernapasan. Selain itu, terjadi kekurangan gizi pada ibu hamil dan depresi pascapersalinan, kata kelompok hak asasi manusia tersebut.
“Keadaan pengungsian telah menyebabkan penyakit menular,” kata Dr. Nasser Bulbol, seorang ahli neonatologi di Rumah Sakit Al Helou di Kota Gaza, kepada Amnesty International. Ia juga mencatat bahwa telah terjadi peningkatan kehamilan berisiko tinggi karena kondisi di Jalur Gaza.
“Sebagian besar perempuan datang ke sini dalam keadaan stres, trauma, dan ketidakpastian. Ini terjadi setelah mereka mengalami beberapa kali pengungsian, kehilangan orang yang dicintai, dan tidak mampu mendapatkan makanan bergizi yang mereka butuhkan.”
Sumber: Al Jazeera, MEMO, Palinfo








