Bagi Ezzideen Shehab, seorang penyintas genosida Jalur Gaza, keputusan untuk menyaksikan film dokumenter NAZA sama sekali bukan didasari oleh keinginan untuk mempelajari fakta peristiwa yang terjadi di tanah kelahirannya. Ia telah mengalaminya secara langsung dengan seluruh raga dan ingatan yang tersisa.
Keputusannya menonton dokumenter tersebut berasal dari dorongan untuk melakukan upaya mendalam untuk memahami bagaimana para prajurit militer Israel membenarkan setiap tindakan kekerasan yang mereka lakukan. Selain itu, ia juga ingin mengetahui bagaimana mereka dapat melanjutkan kehidupan dengan tenang setelah merenggut nyawa warga sipil Palestina.
Dalam tulisannya di Middle East Eye pada 16 Oktober 2026, Shehab menceritakan bagaimana film tersebut membawanya kembali pada pengalaman mengerikan selama perang. Pada Desember 2023, ia dan ibunya melarikan diri di tengah tembakan tanpa mengetahui tempat yang aman. Peluru yang menghantam dinding di sekitar mereka menjadi penanda arah yang boleh mereka lalui.
Pengalaman itu mengingatkannya pada kesaksian seorang tentara dalam film tentang “garis imajiner” militer. Siapa pun yang melintasi garis tak kasatmata tersebut dapat pasukan Israel tembak, meski warga tidak mengetahui lokasinya. Tentara itu mengatakan warga harus “belajar dengan cara yang sulit”, yaitu melalui darah.
Baca juga: MUI Desak Pembatalan Konser Andrea Bocelli di Borobudur dan Jakarta karena Dukung Israel
Shehab juga menyoroti kesaksian tentang seorang anak yang pasukan Israel tembak karena memasuki kawasan terlarang tanpa memahami batas yang militer tetapkan. Menurut kesaksian dalam film, tentara mengetahui warga sipil terbunuh, tetapi menganggap persoalan tersebut bukan tanggung jawab moral mereka.
Bagian paling menyakitkan bagi Shehab adalah ketika seorang tentara mengaku pernah menghancurkan sebuah bangunan, lalu pergi minum bir bersama teman-temannya pada malam yang sama. Shehab teringat rumah keluarganya yang Israel bom pada 12 Oktober 2023. Sebanyak 42 anggota keluarganya terbunuh dalam serangan tersebut.
Ia tidak mengetahui siapa yang mengebom rumah itu atau apa yang pelakunya lakukan setelahnya. Namun, kemungkinan bahwa pelaku dapat kembali menjalani kehidupan normal membuatnya terguncang.
Setelah meninggalkan Gaza dan menonton film tersebut di Madrid, Shehab berjalan selama lebih dari lima jam. Ia berjalan sambil mengingat agresi, kelaparan, pasien yang tak berhasil selamat, dan keluarganya yang telah pasukan Israel bunuh.
Baginya, kesaksian pelaku tidak lebih penting daripada kesaksian korban. Namun, kesaksian itu dapat memperlihatkan bagaimana kekerasan telah Israel benarkan dan tanggung jawab moral mereka abaikan. Meski selamat dan telah meninggalkan Gaza, Shehab merasa sebagian dirinya masih tertinggal di sana, bersama orang-orang yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
Sumber: MEE








