Di dalam kamp penahanan Israel, ribuan tawanan Palestina menghadapi penyiksaan setiap harinya. Bagi mereka, jeruji besi bukan hanya tempat hilangnya kebebasan, tetapi juga ruang di mana tubuh dan martabat mereka Israel rampas secara sistematis.
Salah satu kesaksian datang dari seorang mantan tawanan asal Gaza. Ia Israel tangkap tanpa surat perintah, dibelenggu dalam posisi menyakitkan selama berjam-jam, dan tidak mendapatkan air minum. “Mereka tidak memperlakukan kami sebagai manusia,” ujarnya. Kesaksian seperti ini bukan pengecualian, melainkan pola yang berulang.
Sebelum genosida, pelanggaran di dalam penjara Israel sudah kerap terjadi. Kini, skalanya jauh melampaui apa yang pernah terdokumentasi sebelumnya. Komisi Urusan Tasanan, Lembaga Tawanan Palestina, dan Al-Dameer menyebut fasilitas-fasilitas itu telah berubah menjadi mesin penyiksaan terstruktur.
Penyiksaan telah mulai sejak momen penangkapan, melalui kekerasan fisik, ancaman, dan penghilangan paksa. Di dalam penjara, metode penyiksaan semakin beragam antara lain melalui sengatan listrik, perampasan waktu tidur, kelaparan, hingga pelecehan seksual yang terdokumentasi. Kesaksian tawanan asal Jalur Gaza bahkan mengungkap amputasi anggota tubuh tanpa anestesi dan eksekusi lapangan.
Meski demikian, akses lembaga independen ke tempat penahanan tetap diblokir. ICRC dan organisasi hak asasi manusia internasional tidak mendapat izin masuk, sehingga banyak kejahatan luput dari pencatatan resmi.
Di tingkat internasional, laporan PBB sepanjang 2025–2026 menegaskan adanya pola sistematis ini. Pelapor Khusus Francesca Albanese dan Komisi Penyelidikan Independen PBB sama-sama menyimpulkan bahwa pelanggaran ini berpotensi merupakan kejahatan perang.
Sumber: Palinfo








