Sejak Iduladha dimulai, korban di Gaza terus bertambah akibat serangan Israel. Hingga hari keempat perayaan, korban di Gaza mencapai 33 orang terbunuh dan lebih dari 130 orang terluka. Angka ini menunjukkan situasi yang masih memburuk meski gencatan senjata berlaku. Selain itu, peningkatan korban terjadi hampir setiap hari sehingga hal ini kembali menjadi sorotan berbagai pihak.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan satu warga Palestina terbunuh dan delapan lainnya terluka dalam 24 jam terakhir. Serangan tersebut terjadi meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah berlangsung sejak 10 Oktober 2025.
Sementara itu, seorang pria Palestina meninggal dunia pada Ahad (31/05) dini hari akibat luka parah yang ia derita setelah serangan Israel di Kota Gaza sehari sebelumnya.
Di sisi lain, krisis kemanusiaan semakin memburuk. Direktur Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah menyatakan ruang operasi rumah sakit terpaksa berhenti beroperasi. Kerusakan generator listrik akibat blokade berkepanjangan menjadi penyebab utama kondisi tersebut.
Selain ruang operasi, unit perawatan intensif, layanan cuci darah, dan perawatan bayi baru lahir juga terancam berhenti berfungsi. Direktur rumah sakit, Riad Hussein, memperingatkan bahwa rumah sakit dapat mengalami penutupan total dalam waktu dekat jika situasi tidak berubah.
Menurut Kantor Media Gaza, sejak gencatan senjata berlaku, serangan Israel telah membunuh lebih dari 925 warga Palestina dan melukai lebih dari 2.810 lainnya. Adapun perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah membunuh hampir 73.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.








