Mantan tawanan Palestina mengungkap kondisi memilukan dari Hussam Abu Safiya, Direktur RS Kamal Adwan, yang Israel tahan sejak Desember 2024. Ahmad Qaddas mengaku hampir tidak mengenalinya lagi karena kondisi fisik yang sangat melemah dan perubahan drastis akibat penyiksaan, yang ia sebut sebagai “penghapusan identitas”.
Menurut kesaksian, Abu Safiya mengalami kelelahan ekstrem, sering duduk linglung, dan hanya mampu berbisik. Para tawanan juga mendengar teriakannya saat penyiksaan, tanpa bisa menolong karena takut hukuman tambahan. Qaddas menyebut kondisi dokter tersebut sangat memprihatinkan: tubuh lemah, berat badan turun drastis, pakaian kotor, serta minim perawatan medis. Ia memperingatkan bahwa Abu Safiya terancam meninggal jika tetap Israel tahan dalam kondisi tersebut.
Baca juga : “71 Tahun Setelah KAA: Masih Relevankah Sikap Indonesia terhadap Palestina?”
Kesaksian lain dari Hamza Abu Omeira menyebut Abu Safiya mendapat perlakuan lebih keras dibanding tawanan lain, termasuk penyiksaan fisik, penghinaan, dan interogasi berulang. Ia bahkan Israel paksa untuk menghina dirinya sendiri di bawah tekanan. Kondisi kesehatannya juga memburuk, dengan muntah terus-menerus dan tidak mampu menelan makanan.
Rami Abu Omeira menambahkan bahwa Israel menggunakan anjing polisi saat interogasi untuk meneror dan menyerangnya, menyebabkan luka di tubuhnya. Ia juga mengalami pemborgolan berhari-hari serta serangan gas air mata dan granat kejut di dalam sel. Abu Safiya terkenal sebagai dokter yang tetap bertugas meski kehilangan anaknya dan mengalami cedera. Ia kini termasuk ratusan tenaga medis Gaza yang Israel tahan, di tengah laporan luas tentang penyiksaan dalam penjara Israel.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)