Sedikitnya delapan warga Palestina terbunuh dan 29 lainnya terluka dalam serangan terbaru pasukan Israel di Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Serangan ini menambah daftar pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah berlaku sejak Oktober 2025.
Tanpa merinci lokasi serangan, otoritas kesehatan menyebut Israel terus melancarkan serangan harian meski kesepakatan gencatan senjata seharusnya menghentikan ofensif militer. Sejak gencatan senjata, total korban terbunuh mencapai 765 orang, dengan lebih dari 2.100 lainnya terluka.
Secara keseluruhan, sejak Oktober 2023, jumlah korban terbunuh di Gaza telah mencapai lebih dari 72.000 orang, sementara lebih dari 172.000 lainnya mengalami luka-luka. Banyak korban dilaporkan masih tertimbun reruntuhan atau tidak dapat dijangkau tim penyelamat akibat keterbatasan akses dan kerusakan infrastruktur.
Di tengah situasi ini, Hamas mengecam pernyataan Wakil Presiden AS J.D. Vance yang menyebut pasokan bantuan ke Gaza berada pada tingkat tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pernyataan tersebut “menyesatkan” dan tidak mencerminkan kondisi di lapangan.
Baca juga : “Pakar PBB Desak Hentikan Serangan dan Pengusiran“
Menurut Hamas, Gaza justru mengalami kekurangan parah untuk pasokan bahan pokok, termasuk makanan, obat-obatan, dan bahan bakar. Mereka menegaskan bahwa Israel tidak mematuhi ketentuan gencatan senjata, terutama terkait kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan.
Kelompok tersebut juga menyerukan kepada komunitas internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel agar menghentikan taktik yang mereka sebut sebagai “kelaparan yang direkayasa” serta untuk memastikan akses bantuan tanpa hambatan.
Gencatan senjata yang diberlakukan dimaksudkan untuk mengakhiri lebih dari dua tahun serangan yang telah menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza, dengan biaya rekonstruksi diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.
Sumber:
MEMO, Palinfo







