Israel bertanggung jawab atas kematian sekitar dua pertiga dari semua jurnalis dan pekerja media yang terbunuh di seluruh dunia pada tahun 2025. Komite Perlindungan Jurnalis (CJP) mengatakan pernyataan itu dalam sebuah laporan pada Rabu (25/02).
Kematian itu mendorong jumlah korban global ke rekor 129 jurnalis pada tahun lalu. Angka ini menjadikan 2025 sebagai tahun paling mematikan bagi pekerja media. Ini terhitung sejak organisasi yang berbasis di AS itu mulai menyimpan catatan lebih dari tiga dekade lalu.
“Laporan ini menandai catatan tahunan untuk kematian jurnalis akibat penyerangan Israel terhadap jurnalis yang terus berlanjut dan belum pernah terjadi sebelumnya,” kata CJP.
“Lebih dari 60 persen dari 86 anggota pers yang terbunuh oleh tembakan Israel pada 2025 adalah warga Palestina yang melaporkan dari Gaza. Di sana, kelompok-kelompok hak asasi manusia dan para ahli PBB menyetujui bahwa genosida sedang berlangsung,” lanjut pengawas kebebasan pers.
Sepanjang 2025, Israel telah membunuh 86 pekerja media. Ini menjadi angka terbanyak pembunuhan terhadap anggota pers, disusul Sudan (90), Meksiko (6), Rusia (4), dan Filipina (3).
Serangan paling mematikan terjadi pada 25 Agustus 2025. Ketika itu Israel membunuh sedikitnya 20 orang, termasuk lima staf media, dua di antaranya wartawan Middle East Eye. Israel menargetkan mereka dalam serangan udara “double-tap” di rumah sakit Nasser di Gaza selatan.
CJP juga mengatakan bahwa serangan pesawat tak berawak terhadap pekerja media secara global telah meningkat. Israel paling banyak menggunakannya sepanjang tahun lalu. Dari 39 kematian yang melibatkan drone dan terdokumentasi oleh organisasi pada 2025, sebanyak 28 kematian terjadi akibat serangan militer Israel di Gaza.
Sementara itu, menurut Himpunan Jurnalis Palestina, militer Israel juga telah membunuh lebih dari 700 anggota keluarga jurnalis sejak Oktober 2023.
Sumber: Palinfo, The Palestine Chronicle, Middle East Eye








