JAKARTA — Dalam rangka memperingati International Day of Solidarity with the Palestinian People yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Adara Relief International menyelenggarakan sebuah malam budaya bertajuk “Layali Filastin: The Taste of Authenticity” berkolaborasi dengan Hava Restaurant & Cafe Mampang, Gerai Adara, dan Friends of Palestine (30/11).

Acara ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman kuliner, seni, dan warisan budaya Palestina kepada masyarakat Indonesia, sekaligus memperkuat solidaritas kemanusiaan bagi rakyat Palestina. Lebih dari sekadar makan malam, Layali Filastin hadir sebagai wadah untuk mengenal Palestina melalui lensa yang jarang terlihat: kehangatan budaya, kekayaan rasa, seni ketangguhan, dan kisah keteguhan yang diwariskan lintas generasi.

Menghadirkan Palestina Melalui Cita Rasa dan Budaya

Acara dibuka dengan sambutan dari Direktur Utama Adara Relief International, Ibu Maryam Rachmayani, yang menegaskan komitmen Adara dalam mendampingi perempuan dan anak-anak Palestina sejak lembaga ini berdiri pada tahun 2008.
“Malam ini kita berusaha menghadirkan Palestina melalui cara yang lembut, yaitu budaya, rasa, nasyid, dan kisah. Kita ingin menghadirkan sisi Palestina yang jarang terlihat di layar berita—Palestina yang hangat, kaya rasa, sarat seni, dan penuh cinta akan kehidupan.” ujar Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International.
Layali Filastin menyajikan tiga hidangan utama khas Palestina–Sup Lentil, Maqluba, dan Kunafa yang disiapkan langsung oleh chef asal Gaza. Setiap hidangan tidak hanya dikenalkan melalui cita rasa otentiknya, tetapi juga melalui filosofi dan kisah budaya dibaliknya, menghadirkan pengalaman yang mendalam bagi para peserta. Para hadirin juga menikmati prosesi membalikkan Maqluba dan sesi live cooking Kunafa yang disambut hangat oleh para tamu, termasuk tamu istimewa, Chef Michelle Santoso.
Seni Ketangguhan: Nasheed & Tatreez

Selain kuliner, Layali Filastin memperkenalkan dua warisan budaya penting Palestina. Mulai dari nasyid yang ditampilkan oleh Brother Mohammad Fayez. Para tamu disuguhkan nasyid yang sarat pesan ketabahan dan harapan. Salah satu nasyid yang ditampilkan adalah Saufa Nabqa Huna, yang berarti “Kami akan terus berada di sini”. Nasyid telah lama menjadi bagian dari wujud ketangguhan Palestina, lahir bersama revolusi dan bentuk perjuangan yang menyuarakan martabat, kemerdekaan, dan keteguhan iman.

Acara dilanjutkan dengan Tatreez Sharing Session bersama Sister Rawda Mohammad, dari Friends of Palestine memperkenalkan praktik pencaplokan budaya Palestina yang dilakukan Israel, melalui kuliner, tarian, hingga pakaian tradisional. Rawda menjelaskan, “Penjajahan tidak hanya menyerang orang-orang Palestina secara fisik. Penjajahan juga menyasar kepada warisan budaya Palestina. Identitas Palestina itu sendiri adalah bukti kuat bahwa tanah itu memang milik mereka sejak lama. Sehingga selama identitas Palestina masih hidup, keberadaan para penjajah jadi terus dipertanyakan.”

Adara turut mengajak peserta memberikan dukungan kepada perempuan Palestina melalui Program Pemberdayaan Perempuan dengan ikut bundling donasi berbagai produk-produk asli Palestina, seperti thobe, syal, dan berbagai merchandise Palestina. Setiap pembelian bundling tidak hanya mendukung keluarga Palestina untuk bertahan hidup, tetapi juga membantu menjaga budaya dan identitas mereka tetap hidup.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Brother Mohammad Fayez, sekaligus memohon keselamatan bagi masyarakat Indonesia yang tengah terdampak bencana. Adara Relief International juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, kolaborator, dan donatur yang telah mendukung terselenggaranya Layali Filastin. Semoga acara ini menjadi pengingat bahwa solidaritas tidak mengenal batas, dan bahwa setiap dukungan, sekecil apapun, memiliki arti besar bagi masa depan rakyat Palestina.





![Konferensi pers Palestine Festival yang diselenggarakan di Gudskul, Jagakarsa, pada Ahad [30/11] sebagai rangkaian menuju event kemanusiaan akhir tahun 2025. Acara ini memperkenalkan teater bertema keteguhan rakyat Gaza dalam menghadapi genosida. Konferensi pers turut dihadiri para pemain teater: David Chalik, Bella Fawzi, Robert Chaniago, dan Cholidi Asadil Alam.](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/12/DSC00773-120x86.jpg)

![Kerabat berduka di dekat jenazah jurnalis Palestina Mahmoud Wadi yang tewas akibat serangan pesawat tak berawak Israel di Khan Yunis, Gaza, pada 2 Desember 2025. [Abed Rahim Khatib – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/12/AA-20251202-39869978-39869962-ANOTHER_PALESTINIAN_JOURNALIST_KILLED_IN_ISRAELI_ATTACK_ON_GAZA-1-75x75.webp)
