Organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan serangan baru ke Jalur Gaza, tim MSF dan Kementerian Kesehatan Palestina menerima ratusan korban luka.
Menurut laporan, serangan udara Israel yang terjadi di tengah gencatan senjata telah membunuh sedikitnya 104 orang, termasuk 46 anak-anak dan 20 perempuan serta melukai 253 orang lainnya, di antaranya 78 anak-anak. MSF menegaskan bahwa pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata ini memperpanjang genosida yang sedang berlangsung di Gaza.
“Kami telah berulang kali menyerukan gencatan senjata yang berkelanjutan untuk menghentikan tingkat kematian dan cedera yang sangat besar di kalangan warga sipil. Namun hingga kini, kami justru menyaksikan akibat dari pelanggaran berulang yang terus memperparah situasi kemanusiaan,” ujar MSF melalui pernyataannya di media sosial X (Twitter).
Tim MSF di berbagai wilayah Jalur Gaza, termasuk di Rumah Sakit Al-Aqsa, Nasser, dan Al-Shifa telah merawat banyak pasien dengan luka perang yang parah akibat serangan Israel. “Ketika saya tiba di ruang gawat darurat pagi ini, situasinya benar-benar putus asa. Tidak ada keraguan bahwa ini adalah serangan terhadap warga sipil, dengan begitu banyak anak-anak yang terluka dan terbunuh,” ungkap Dr. Morten Rostrup, dokter MSF di Rumah Sakit Al-Aqsa.
Ia menuturkan bahwa pada pukul 5 pagi, sebuah ledakan besar mengguncang wilayah sekitar rumah sakit. Saat tiba di ruang gawat darurat, terdapat 77 pasien yang dirawat, termasuk 31 anak-anak, sementara 15 orang meninggal dunia.
“Saya benar-benar terkejut melihat apa yang terjadi. Ini adalah serangan yang disengaja terhadap warga sipil. Sama sekali tidak dapat diterima. Apakah ini yang disebut gencatan senjata? Bagaimana mungkin sebuah gencatan senjata disertai serangan terhadap warga sipil? Ini sungguh tidak masuk akal,” kata Dr. Rostrup.
Karena kapasitas Rumah Sakit Al-Aqsa tidak mencukupi, banyak pasien yang harus dipindahkan ke rumah sakit lapangan MSF lainnya untuk distabilkan dan mendapatkan transfusi darah.
MSF menambahkan bahwa sejak gencatan senjata diumumkan pada awal Oktober, setidaknya 211 warga Palestina telah terbunuh akibat pelanggaran yang terus dilakukan oleh pasukan Israel.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, total korban jiwa di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai lebih dari 68.000 orang, sementara ribuan lainnya masih tertimbun reruntuhan. Gencatan senjata yang didasarkan pada rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump disepakati pada 10 Oktober 2023, namun Israel telah berulang kali melanggarnya—terbaru, dalam pekan ini.
“Sulit dipercaya bahwa dunia masih menyebut ini sebagai gencatan senjata, padahal warga sipil terus dibombardir,” pungkas Dr. Rostrup dengan nada marah.
Sumber:
Doctor Without Borders, MEMO








