Jakarta—Adara Relief International kembali mengadakan kajian muslimah yang mendalam dan menggugah semangat perjuangan umat Islam untuk Masjid Al-Aqsa. Kajian kali ini mengangkat tema “Kita Semua Adalah Murabithah Al-Aqsa”, menghadirkan langsung ulama asal Palestina, Dr. Muhammad Said Bakr Hasan, seorang Doktor Hadits dari Universitas Ilmu Islam Internasional Yordania yang juga dikenal sebagai penulis lebih dari 40 kitab tentang ribath.
Sambutan Direktur Utama Adara
Bertempat di Meet Her, Jagakarsa pada Selasa 1 Juli, acara dibuka oleh sambutan Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International. Maryam menegaskan bahwa perjuangan membela Masjid Al-Aqsa adalah tanggung jawab kolektif seluruh umat Islam, bukan hanya rakyat Palestina. “Kita semua adalah murabithah Al-Aqsa. Semoga melalui pertemuan ini, kita mendapatkan semangat tambahan untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa,” ujarnya.

Makna Ribath
Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad Said Bakr Hasan membahas secara komprehensif mengenai konsep ribath, sebuah istilah dalam Islam yang bermakna keteguhan dan kesabaran dalam menjaga agama dan wilayah Islam, khususnya tanah suci seperti Al-Quds dan Masjidil Aqsa. Beliau menjelaskan bahwa ribath terbagi dua, yaitu ribath khusus yang dilakukan oleh penduduk sekitar Al-Aqsa, dan ribath umum yang dapat dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia melalui amal shaleh yang konsisten seperti edukasi, infak, doa, dan menjaga ibadah.
Syarat menjadi seorang Murabith
Syarat utama untuk menjadi seorang murabith (pejuang ribath) adalah: (1) Melakukan amal kebaikan, baik dalam bentuk ibadah, dakwah, donasi, atau bentuk amal lainnya, dan (2) berdawam atau istikamah, yaitu melakukannya secara konsisten dan terus-menerus.
Baca juga Qurban dari Hati untuk Mereka yang Menanti
“Kita semua bisa menjadi murabith. Di Indonesia, ribath bisa dilakukan melalui 6 hal, yaitu; meneguhkan niat, memperkaya ilmu, memberikan edukasi, melaksanakan boikot, konsisten dalam berdoa, dan donasi kepada saudara-saudara kita di Palestina. Hal yang paling utama adalah niat yang lurus dan kesabaran yang teguh,” tutur beliau.
Dr. Said juga mengapresiasi peran Adara dan menghubungkannya dengan masyarakat Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk terus mendukung perjuangan rakyat Palestina dengan peran terbaik masing-masing.
Baca juga Global March to Gaza, Seruan Dunia untuk Keadilan dan Kemanusiaan di Palestina
Kajian muslimah ini juga menyoroti pentingnya peran perempuan dalam ribath. Disampaikan bahwa ribath yang dilakukan para ibu di Gaza, yang mendidik anak-anak mereka untuk menjadi generasi pejuang, merupakan bentuk tertinggi dari keteguhan dan kontribusi dalam jihad. Hal ini menjadi pengingat bahwa mendidik generasi dengan nilai Al-Qur’an dan semangat perjuangan adalah investasi jangka panjang bagi pembebasan Palestina.


Pemaparan ditutup dengan ajakan kepada seluruh komunitas Adara dan masyarakat Indonesia untuk terus memperkuat ribath melalui enam hal: niat, ilmu, edukasi, boikot, doa, dan donasi. Adara mengajak masyarakat untuk mendukung program-program dan strategi jangka panjang perjuangan pembebasan Al-Aqsa.
“Musuh kita melakukan ribath atas kebatilan mereka siang dan malam. Maka, sebagai umat Islam, kita tidak boleh lelah dalam melakukan ribath atas kebenaran,” pungkas Dr. Said.
Sesi tanya jawab
“Jika seorang muslim telah menyadari qadiyah ribath, namun ia ada di dalam ekosistem yang melemahkan perjuangan, sejauh mana ia harus bersabar?”. Menanggapi pertanyaan ini Dr. Said menjawabnya dengan, “Jika seorang muslim telah menyadari qadiyah ribath, namun ia ada di dalam ekosistem yang melemahkan perjuangan, sejauh mana ia harus bersabar?”.



Seorang peserta melemparkan pertanyaan kepada Dr. Said mengenai bagaimana cara mengatasi kejenuhan (apatisme) mengingat perjuangan membela Al Aqsa (ribath) merupakan perjuangan yang panjang. Beliau menjawab dengan, “Bagaimana bisa mereka di Palestina dengan segala bahaya tidak bosan berjuang? Tidak gentar dan tidak pesimis. Hadirkan perjuangan mereka dan bayangkan ganjaran yang Allah berikan kepada kita di saat kita bersabar dalam ribath terhadap perjuangan memperjuangkan Baitul Maqdis,” tutupnya.







