Sahabat Adara, sejak tahun 1948, Lebanon menjadi tempat bernaung bagi masyarakat Palestina yang merindukan kepulangan ke tanah air tercinta. Tragedi kelam Nakba pada tahun itu memaksa jutaan masyarakat Palestina untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka. Banyak dari mereka mencari perlindungan, termasuk di antaranya yaitu Lebanon. Selama puluhan tahun, puluhan ribu warga Palestina hidup dalam keterbatasan di sana. Mereka terperangkap dalam kemiskinan dan segala bentuk keterbatasan. Mereka tidak memiliki kewarganegaraan dan identitas yang pasti, selain sebagai “pengungsi”.
Status mereka sebagai “pengungsi” masih melekat hingga hari ini, membuat hidup penuh dengan tantangan yang sangat tidak mudah. Meskipun telah bermukim cukup lama di Lebanon, hak dasar sebagai manusia tidak terpenuhi secara utuh. Penobatan status sebagai “pengungsi” membuat mereka terisolasi dari kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Tidak sampai di situ, munculnya ketegangan antara penduduk asli Lebanon dan pengungsi Palestina juga mewarnai interaksi sosial mereka. Kehidupan sosial yang beragam di tanah Lebanon menciptakan tantangan tersendiri bagi pengungsi Palestina yang sangat memegang nilai-nilai keagamaan.
“Sebagai pengungsi, yang kami miliki hanyalah pendidikan. Dialah yang membuat hidup kami menjadi lebih layak,” ucap Alsama, seorang pemuda berdarah Palestina yang menetap di kamp pengungsian Lebanon.
Ya, pendidikan menjadi pegangan mereka selama hidup di tengah keragaman sosial dan perlakuan tidak adil. Pendidikan yang dimaksud mencakup pendidikan quran, agama, dan pendidikan umum. Orang tua mereka menanamkan nilai-nilai pendidikan yang membuat mereka teguh menjalani setiap aktivitas, meski berada dalam situasi sulit di kamp pengungsian. Proses edukasi yang mereka jalani memberikan kesempatan untuk tetap tumbuh dengan nilai-nilai yang kuat. Pendidikan ini bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga mengajarkan mereka bagaimana menciptakan kesabaran mendalam dan memupuk harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Dari berbagai aspek pendidikan, pendidikan Al Quran merupakan prioritas utama bagi para pengungsi Palestina. Al Quran adalah bahan bakar spiritual yang membantu mereka menghadapi kehidupan yang penuh tantangan di balik tenda-tenda pengungsian. Seperti tubuh yang membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, Al Quran merupakan santapan bagi jiwa, menjaga hati mereka agar tetap kuat dan teguh. Di tengah ketidakadilan yang mereka alami, para pengungsi berpegang teguh pada pendidikan Al Quran, karena mereka meyakini dengan hafalan dan pemahaman Al Quran yang baik mampu membentuk jiwa mereka yang tangguh, penuh harapan, dan memiliki arah di tengah ketidakpastian.

Sahabat Adara, berangkat dari kondisi ini, Adara Relief International mencanangkan program pendidikan Al Quran bagi anak-anak pengungsi Palestina di Lebanon, yaitu Program Hidupkan Ahlul Quran (HAQ). Program yang telah berjalan sejak awal tahun 2024 ini telah mendukung pendidikan Al Quran bagi 215 anak Palestina di pengungsian. Selain belajar membaca dan menghafal Al Quran, program ini juga menyediakan sarana untuk mereka memperdalam pemahaman agama. Melalui program ini, Adara berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif di kamp pengungsian. Di tengah keterbatasan yang ada, pendidikan Al Quran tetap menjadi pilar utama yang membantu mereka untuk bertahan dan tumbuh.
Salah satu contoh nyata manfaat dari program ini dapat kita lihat dari kisah seorang anak pengungsi Palestina di Lebanon. Namanya Malak Kurdly, seorang anak Palestina yang kini berusia 16 tahun. Sudah 4 tahun Malak bergabung dalam kelas Quran Adara. Dia mengalami kejadian yang membuat kita takjub sebab berkah Quran yang dia rasakan. Suatu ketika, kecelakaan menimpa dirinya dan menyebabkan pendarahan di kepalanya. Menurut dokter, tingkat kesembuhan setelah melalui proses operasi hanyalah 5%. Keterbatasan kondisi tersebut tidak melunturkan semangat gadis berdarah Palestina ini untuk terus dekat dengan Al Quran. Pendidikan Al Quran-lah yang membentuk dirinya menjadi sosok yang seperti ini. Hari demi hari dia lalui, keajaiban pun Malak rasakan. Kemungkinan terburuk yang Malak takuti itu tidak terjadi. Malak merasa bahwa Allah telah menyelamatkan dirinya melalui Al Quran yang terus dia hafal dan baca.
“Aku berpesan kepada teman-temanku semua untuk terus berpedoman pada Al Quran dan menghafalkannya. Al Quranl-ah yang akan menyelamatkan kita dari setiap musibah yang menimpa kita di dunia ini dan memberi syafaat bagi kita di akhirat nanti.” Ungkap Malak.
Sahabat Adara, inginkah kita memperpanjang usia kebaikan kita di dunia, meski jasad kita telah tiada?
Program Hidupkan Ahlul Quran (HAQ) untuk para pengungsi Palestina di Lebanon merupakan salah satu cara yang dapat kita lakukan. Adara mengajak seluruh Sahabat untuk memberikan manfaat jangka panjang melalui mereka yang sangat lekat dengan Quran. Setiap huruf yang mereka ucapkan menciptakan satu kebaikan bagi kita yang telah mewadahkan. Anak-anak pengungsi Palestina merupakan cikal bakal pembebas Al Aqsa, sehingga mereka menyiapkan diri dari sekarang untuk terus dekat dengan Al Quran. Sebab, hanya orang yang dekat dengan Al Quran-lah yang kelak akan menjadi generasi pembebas Al Aqsa. Melalui program pendidikan Al Quran, kita bukan hanya meringankan kehidupan mereka di pengungsian, tetapi juga turut serta dalam mempersiapkan generasi yang dekat dengan Al Quran dan siap menjadi penjaga bumi Palestina. [AM]


![Ragad Nadim Aga menerima hadiah dari program HAQ karena telah memeroleh juara pertama di sekolahnya [Dok. Penyaluran Adara 2025]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/08/L591-A-2-120x86.jpeg)
![Anak-anak di Gaza kehilangan rumah mereka dan terpaksa hidup bersama anak-anak lainnya di kamp pengungsian [Dok. UN News]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/08/1-120x86.jpg)




