
Tepi Barat atau Al-Quds di Palestina tidak seperti Gaza yang mengalami blokade secara terang-terangan atau agresi terus-menerus yang menelan ratusan hingga ribuan korban wafat dan cedera, serta kerusakan infrastruktur yang parah, dalam satu waktu. Namun, beratnya derita yang ditanggung rakyat Gaza nyatanya tidak mampu mengalihkan mata dunia untuk memberikan tekanan kepada Israel agar menghentikan blokade, apalagi memberikan sanksi di hadapan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel sepanjang waktu.
Maka, tidak heran jika apa yang terjadi di Tepi Barat dan Al-Quds selama hampir dua pekan ini, belum dapat menyadarkan dunia bahwa kejahatan Israel terhadap Palestina terus berlangsung setiap saat. Memang tidak ada blokade dan agresi sebagaimana di Gaza, tetapi apa yang terjadi di Tepi Barat dan Al-Quds, pada hakikatnya tidak jauh berbeda.
Penduduk Palestina di Kamp Pengungsi Shuafat dan kota terdekat, Anata, di pinggiran Al-Quds menghadapi kesulitan yang semakin besar setelah otoritas militer Israel memberlakukan pengepungan di daerah tersebut. Tindakan keras itu menyusul insiden penembakan di sebuah pos pemeriksaan tentara Israel pada Sabtu (8/10) yang menewaskan seorang tentara Israel dan melukai dua tentara lainnya. Sebelumnya, militer Israel telah melakukan intensifikasi penyerangan terhadap warga sipil Palestina, di mana-mana; rumah, sekolah, lahan pertanian, peternakan, jalan, terlebih lagi di pos pemeriksaan, hingga menyebabkan naiknya ketegangan di Tepi Barat secara signifikan.
Dalam perburuan untuk menemukan Udai Tamimi, pelaku penembakan, pada Minggu pagi (9/10), militer Israel menutup semua pintu masuk ke Kamp Pengungsi Shuafat, Kota Anata, Qalandiya, dan pinggiran Kota Al-Salam, timur laut Al-Quds. Pasukan militer melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah dan menangkap kerabat dari orang yang diduga memimpin serangan tersebut. Dalam skala yang lebih luas, militer Israel menutup semua akses keluar dari Nablus, salah satu distrik terbesar di Tepi Barat.
Sementara itu, di tengah ketegangan dan jatuhnya korban, Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) mengatakan bahwa pasukan Israel mencegah kru ambulans memasuki Kamp Shuafat dan Anata. Pasukan Israel telah memblokir akses ke layanan darurat dan mencegah staf medis melakukan tugas kemanusiaan mereka.
Ibrahim Mohammed (53), seorang penduduk Kamp Shuafat, menggambarkan pengepungan yang dilakukan oleh militer Israel sebagai “hukuman kolektif” bagi 150.000 penduduk Kamp Shuafat dan kota tetangga. “Ini adalah hukuman kolektif yang tidak dapat diterima, dan Israel menghukum penduduk yang tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi,” kata Mohammed kepada Arab News. Pengepungan tersebut mencegah dokter, siswa, guru, pedagang, dan pekerja kebersihan memasuki atau meninggalkan area tersebut, dan juga menghentikan pasokan barang-barang penting.
Militer Israel menutup jalan-jalan di Kamp Shuafat dan mendirikan banyak pos pemeriksaan
Sumber: Middle East Monitor
Menurut Dr. Guy Shalev dari Physician for Human rights-Israel (PHRI), situasi di kamp pengungsian Tepi Barat sangat mempengaruhi psikologis anak-anak, terutama ketakutan ketika hendak tidur dengan adanya serangan malam yang digencarkan Israel. Terlebih, jika melihat kisaran usia korban pembunuhan di Tepi Barat selama sepekan terakhir, banyak di antara mereka adalah anak-anak. Dengan adanya serbuan yang terus-menerus ini, tidaklah heran jika banyak penghuni kamp pengungsian menganggap bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan untuk menunjukkan penolakan mereka terhadap serangan yang berkelanjutan.
Operasi Break the Wave dan tahun paling mematikan
Tahun 2022 digambarkan sebagai tahun paling mematikan bagi penduduk Palestina di Tepi Barat sejak 2015. Menurut laporan PBB, setidaknya 120 orang Palestina telah terbunuh sejak awal tahun, dengan 1/5 di antaranya adalah anak-anak. Kebanyakan dari mereka berasal dari Nablus dan Jenin di Tepi Barat yang diduduki. Sementara itu, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan bahwa hingga 10 Oktober di Tepi Barat, jumlah total yang terluka mencapai 433 warga Palestina, termasuk setidaknya 45 anak-anak, dan 65 yang terkena peluru tajam.
“Tidak ada yang lebih murah di Israel selain nyawa orang Palestina,” kata Aviv Gideon Levy, seorang kolumnis media Israel, Haaretz, ketika diwawancara oleh Al-Jazeera. Ia mengatakan bahwa ungkapan tersebut dapat dibuktikan dengan keributan selama 24 jam yang diciptakan oleh Israel soal terbunuhnya seorang tentara Israel, tetapi melupakan bahwa 24 jam sebelumnya, Israel telah merenggut 4 nyawa Palestina.
“Ini ada hubungannya dengan kepemimpinan di Israel yang dijalankan oleh sayap kiri yang cenderung lebih keras terhadap warga Palestina, dan militer Israel pun dengan senang hati menjalankan kekerasan tersebut, tanpa pandang bulu, entah dia seorang tua berusia 80 tahun, atau anak-anak belasan tahun,” katanya.
Serangan-serangan tersebut bukan terjadi secara acak, melainkan bagian dari rancangan operasi militer Break the Wave yang dipelopori oleh Kepala Staf Militer Israel Aviv Kochavi bersama dengan PM Israel Yair Lapid. Operasi ini diluncurkan militer Israel pada Maret 2022 untuk memadamkan perlawanan yang berkembang, terutama di kota-kota seperti Nablus dan Jenin, selain juga sebagai kelanjutan dari operasi militer “Law and Order” di wilayah jajahan 1948 dan operasi “Breaking Dawn” di Gaza.
Tentara Israel melakukan serangan malam di Tepi Barat (9—10 Oktober) sebagai bagian dari operasi “Break the Wave”. (sumber: i24news)
Operasi “Law and Order” yang diluncurkan pada Mei 2021 merupakan gelombang penangkapan massal yang diberlakukan untuk menghukum mereka yang mengambil bagian dalam demonstrasi menentang kekerasan pemukim di Sheikh Jarrah (Al-Quds Timur), tindakan keras pasukan Israel terhadap kompleks Masjid Al-Aqsa, dan kampanye pengeboman 11 hari militer Israel di Gaza, yang menewaskan 248 orang. Sementara itu, operasi “Breaking Dawn” di Gaza merupakan serangan 3 hari pada awal Agustus 2022 yang menewaskan 49 orang, termasuk 17 anak-anak.
Sepanjang diberlakukannya operasi Break the Wave dalam serangan harian di kota-kota Palestina, pasukan Israel telah menangkap lebih dari 1.500 warga Palestina, menurut kepala militer Israel. “Kami akan menjangkau setiap kota, lingkungan, gang, rumah, atau ruang bawah tanah untuk tujuan itu,” kata Kochavi pada September. Operasi tersebut menyebabkan serangan sistematis terhadap stabilitas dan keamanan Palestina, karena menargetkan semua orang.
Dalam rangka memperluas jangkauan operasi, angkatan bersenjata Israel menggunakan drone pengintai sebagai bagian dari operasi pencarian, setelah Kochavi memberikan lampu hijau pada September. Penggunaan drone bersenjata oleh tentara Israel di Tepi Barat merupakan perkembangan baru dalam serangan mematikan terhadap para aktivis, seperti yang terjadi di Jalur Gaza.
Menurut militer Israel, setiap bulannya, Israel menggunakan drone di atas Gaza selama 4.000 jam terbang. “Drone (membantu) mengumpulkan data intelijen selama 24 jam sehari”, kata Omri Dror, seorang komandan dari pangkalan udara Palmachim, Israel.
Iman Hijjo, psikiater yang merawat warga Palestina yang mengalami trauma akibat terus-menerus diteror suara drone Israel mengatakan bahwa keberadaan drone telah menyelipkan rasa ketidakberdayaan. “Drone telah merampas cakrawala dan harapan dari langit Gaza,” katanya. Anak-anak juga menderita “ketakutan dan kecemasan” sebagai akibat langsung dari drone yang tingkat kehadirannya terhitung intensif.

Sementara itu, di Tepi Barat, warga Palestina khawatir penggunaan drone di daerah permukiman yang penuh sesak, seperti Kamp Jenin dan Kota Tua Nablus, dapat meningkatkan jumlah korban sipil. Gubernur Jenin, Akram Rajoub, pada Minggu (9/10) menggambarkan penggunaan drone sebagai “eskalasi berbahaya yang bertujuan merugikan warga Palestina.” Tahseen Alian, ahli hukum Palestina mengatakan bahwa pengalaman di negara lain menunjukkan bahwa drone lebih sering menembak warga sipil, dibandingkan orang yang ditargetkan.
Intensifikasi serangan pemukim
Kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa di samping meningkatnya serangan militer di Tepi Barat, serangan pemukim terhadap penduduk Palestina telah meningkat dalam dua minggu terakhir. Munir Kadous, seorang peneliti lapangan di organisasi hak asasi manusia Israel Yesh Din, mengatakan kepada Arab News bahwa serangan pemukim baru-baru ini terhadap warga Palestina meningkat di bawah dukungan tentara, penjaga perbatasan, dan polisi Israel.
Seperti yang terjadi pada Jumat (14/10), puluhan pemukim Israel melakukan perjalanan ke Kota Huwwara untuk menyerang warga Palestina dengan tongkat, menghancurkan toko dan rumah, serta membakar kebun zaitun—semua dengan bantuan tentara Israel, yang siap menembak siapa pun yang berani membela diri. Lebih dari 40 warga Palestina dilaporkan terluka.
Kota Huwwara dianggap sebagai titik nyala antara pemukim Israel, tentara pendudukan, dan warga Palestina. Terletak di dua sisi jalan utama ke kota Nablus dari arah selatan—dikenal sebagai Rute 60 —yang digunakan oleh pemukim Israel dan Palestina. Huwwara merupakan rumah bagi 9.000 warga Palestina, yang dikelilingi oleh empat permukiman ilegal Israel, salah satunya adalah Yitzhar. Pemukim Yitzhar dikenal sebagai pemukim paling kejam di Tepi Barat yang sering melakukan penyerangan atas nama price tag.
Tentara Israel berjaga saat pemukim Israel melempari warga Palestina dengan batu selama bentrokan di kota Huwwara di Tepi Barat pada 13 Oktober 2022. (Oren ZIV / AFP)
Harian Haaretz melaporkan ada lebih dari 100 kasus kejahatan dalam 10 hari terakhir yang dilakukan oleh pemukim Yahudi, sebagian besar di Tepi Barat utara. “Dalam beberapa pekan terakhir, lembaga keamanan telah mengidentifikasi peningkatan yang mengkhawatirkan dalam tindakan kekerasan oleh pemukim di seluruh Tepi Barat,” kata laporan itu.
Haaretz juga mengutip pejabat di Komando Pusat militer, yang mengklaim serangan baru-baru ini adalah bagian dari kampanye oleh para pemimpin pemukim untuk menciptakan perasaan bahwa tentara kehilangan kendali di Tepi Barat, ketika Israel mendekati pemilihan pada November mendatang.
“Setiap hari para pemukim menjadi lebih berani dan lebih agresif dalam menyerang kami,” kata Abdullah Odeh, seorang penduduk Huwwara. “Dan mereka melakukan ini karena tentara dan pemerintah Israel memberi mereka lampu hijau untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan.” Odeh mengatakan bahwa sekalipun dia telah mengajukan puluhan keluhan kepada polisi dan pihak berwenang Israel tentang serangan pemukim di tanah dan bisnisnya, tetapi ia tidak pernah menerima jawaban atas keluhannya.
“Kami tidak memiliki siapa pun untuk melindungi kami dari pemukim atau tentara karena mereka saling melindungi. Itulah realitas kami di Palestina.”
Serangan pemukim merupakan ancaman besar bagi kehidupan dan harta benda penduduk Palestina dan memiliki implikasi luas terhadap kondisi kehidupan di Wilayah Pendudukan,terutama karena merusak fondasi kehidupan komunitas Palestina dan mengurangi pendapatan mereka. Penduduk menggambarkan bagaimana tanpa perlindungan, di bawah tekanan kekerasan dan ketakutan, dan tanpa pilihan lain, mereka harus meninggalkan atau mengurangi pekerjaan tradisional seperti peternakan domba dan kambing, atau berbagai tanaman musiman, yang memungkinkan mereka untuk mencari nafkah yang bermartabat dan hidup nyaman.
Misalnya yang terjadi pada Rabu (12/10), ketika pemukim Yahudi membakar tiga bangunan pertanian dan satu mobil di Desa Qusra, selatan Kota Nablus, Tepi Barat, di bawah perlindungan militer. Pertahanan sipil Palestina mengatakan bahwa insiden pembakaran itu juga membunuh 30.000 ekor ayam yang berada di tiga peternakan tersebut.
Ayam di dalam peternakan Palestina habis terbakar oleh pemukim Yahudi (sumber: QudsNen)
Serangan pemukim juga membuat penduduk Palestina menjauh dari padang rumput dan sumber air yang pernah melayani komunitas mereka, serta membatasi budidaya lahan pertanian. Pada musim panen zaitun, penduduk Palestina menghadapi puncak serangan. Pada Rabu (19/10), di Desa Kisan, timur Betlehem, pemukim menikam seorang sukarelawan asing, kantor berita resmi Palestina WAFA melaporkan.
Ibrahim Ibayyat, pemilik tanah, mengatakan bahwa para pemukim menyerang para sukarelawan, baik lokal maupun asing, yang datang untuk membantu memanen tanaman zaitunnya. Pemukim bahkan menikam punggung seorang sukarelawan asing dan mematahkan kakinya. Para pemukim mencabut lebih dari 300 pohon zaitun yang telah ditanam di tanahnya yang berukuran 90 dunum dan menyemprot pohon zaitun dengan pestisida kimia pembakar. Sementara itu, di desa Jamaeen, selatan Nablus, para pemukim menyerang pemanen zaitun, melempari mereka dengan batu dan memaksa mereka meninggalkan tanah mereka.
Petani Palestina memeriksa pohon-pohon zaitun mereka yang ditebang dan dicabut oleh pemukim di Tepi Barat (Issam Rimawi/Anadolu Agency)
Di bawah pemerintahan rezim apartheid, Palestina terus dihadapkan pada kekerasan sistematis dan terorganisasi yang dilakukan oleh banyak agen: pemerintah, militer, Administrasi Sipil, Mahkamah Agung, Polisi Israel, Badan Keamanan Israel, Layanan Penjara Israel, Otoritas Alam dan Taman Israel, termasuk pemukim. Seperti kekerasan negara, kekerasan pemukim juga diatur, dilembagakan, dilengkapi dengan baik dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan strategis yang ditentukan.
Pada Jumat (21/10), Parlemen Arab mendesak masyarakat internasional untuk campur tangan mengakhiri pengepungan Israel yang “tidak manusiawi” di Provinsi Nablus, Tepi Barat, selama hampir dua pekan. Dalam pernyataan persnya, masyarakat internasional, khususnya Dewan Hak Asasi Manusia PBB dan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, agar memikul tanggung jawab mereka dalam hal ini dan campur tangan untuk mengakhiri praktik tidak manusiawi Israel di Nablus.
Gelombang serangan terbaru Israel terbaru ini seharusnya membuat dunia khawatir. Namun, Israel terus menikmati impunitasnya. Eskalasi seperti ini akan tetap tidak terelakkan selama dunia masih memalingkan wajah, atau langkah terjauh yang dapat dilakukan sebatas menggertak, tanpa adanya kemauan dan kemampuan untuk memajukan dan mengadili kekerasan serta pelanggaran yang dilakukan Israel ke Mahkamah Internasional. (LMS)
Sumber:
https://www.arabnews.jp/en/middle-east/article_81984/
https://www.btselem.org/settler_violence
https://english.alaraby.co.uk/analysis/israels-new-policy-armed-drones-west-bank
https://english.wafa.ps/Pages/Details/107990https://www.middleeasteye.net/news/palestine-israel-settler-attacks-documented
https://english.wafa.ps/Pages/Details/131391
https://www.gov.il/en/departments/news/police-restoring-order-030621
https://www.middleeasteye.net/news/palestine-israel-settler-attacks-documented
https://mondoweiss.net/2022/10/what-is-happening-in-the-west-bank-right-now-a-full-breakdown/
https://maktoobmedia.com/2021/05/26/mass-arrests-palestinians-decry-operation-law-and-order/
https://www.timesofisrael.com/idf-preparing-to-use-armed-drones-in-west-bank-operations/
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







