“Serupa pencuri pada malam hari, petugas datang untuk mengusir keluarga Salhiya ke jalan yang membeku. Ini adalah kehidupan warga Palestina di Al-Quds Timur.”
- Mossi Raz, seorang anggota parlemen Meretz (Parlemen Israel)
Pernahkah terbayang, hanya dalam semalam, rumah kita dihancurkan oleh sekelompok orang-orang tidak dikenal?
Bayangan itu menjelma kenyataan pahit bagi keluarga Salhiya. Pada Rabu dini hari (19/1) sekitar pukul 3 pagi waktu setempat, sekelompok besar unit polisi Israel, termasuk pasukan anti-terorisme dan polisi disertai dengan buldoser, menyerbu rumah keluarga Salhiya. Mereka menggerebek rumah, menyeret paksa 15 penghuni rumah tersebut untuk keluar, termasuk lima anak-anak.
Yasmin Salhiya (19) mengatakan bahwa pasukan Israel memutus aliran listrik ke rumah kemudian menembakkan gas air mata ketika menyerbu rumah mereka. Mereka kemudian menangkap lima anggota keluarga, termasuk kepala keluarga yaitu Mahmoud Salhiya. Pasukan Israel juga memukuli beberapa anggota keluarga Salhiya, termasuk Aya, saudara perempuan Yasmin yang masih berusia sembilan tahun. Begitu seluruh anggota keluarga Salhiya telah berada di luar rumah, pasukan Israel menembakkan peluru karet ke arah wartawan dan orang-orang yang mencegah penggusuran. Hanya dalam waktu tiga jam, buldoser dengan cepat meruntuhkan rumah keluarga Salhiya beserta seluruh isinya, menyisakan puing-puing yang hanya bisa diratapi dari kejauhan.

Potret keluarga Salhiya yang tersisa di atas puing-puing rumah mereka
Sumber : qudsnen
Polisi Israel dan petugas yang melakukan penggusuran rumah mengatakan bahwa tindakan tersebut sudah sesuai prosedur dan telah disetujui oleh pengadilan. Mereka mengatakan rumah keluarga Salhiya merupakan “bangunan ilegal yang dibangun di ruang publik” sehingga harus dihancurkan agar dapat dibangun “sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang memberikan manfaat di Sheikh Jarrah.”
Rumah yang ditempati keluarga Salhiya bukanlah bangunan baru, melainkan telah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu. Keluarga Salhiya merupakan korban Nakba. Mereka diusir dari rumah mereka di lingkungan Al Quds Barat Ein Karem pada 1948 selama pembersihan etnis yang dilakukan Zionis di desa tersebut. Mereka kemudian membeli rumah baru pada 1950-an di lingkungan Sheikh Jarrah, sekitar satu dekade sebelum Israel menduduki dan mencaplok daerah itu. Sekarang, Zionis Israel telah mengusir mereka untuk kedua kalinya dengan tindakan yang membuat mereka kehilangan tempat tinggal dan tidak bisa kembali lagi.

Peta Al Quds tahun 1935, bagian yang dilingkari adalah rumah keluarga Salhiya
Sumber : qudsnen
Segala upaya telah dilakukan keluarga Salhiya untuk mempertahankan rumah mereka. Kepala keluarga rumah tersebut, Mahmoud Salhiya, sempat mengancam pasukan Israel dengan membawa tabung gas ke atap rumah, mengatakan akan membakar dirinya beserta seluruh bangunan rumah tersebut jika pasukan Israel nekat memasuki rumahnya. “Kami tidak akan melarikan diri lagi! Kami tidak punya tempat lain untuk pergi. Anda sudah mengusir kami pada 1948. Kami akan mati di rumah kami atau kami melanjutkan hidup. Kami tidak akan pergi!” ujarnya dengan penuh keberanian.
Sayangnya, Israel tidak memiliki telinga untuk mendengarkan dan tidak memiliki hati untuk merasakan. Mereka malah menangkap Mahmoud karena dianggap mengganggu proyek mereka, kemudian melanjutkan penggusuran rumah.
Keluarga Salhiya bukanlah satu-satunya korban penggusuran rumah di Sheikh Jarrah. Sekitar 200 keluarga di Al-Quds Timur berisiko mengungsi karena perintah penggusuran. Ketegangan dipicu oleh kehadiran sekitar 200.000 pemukim Yahudi yang sekarang tinggal di daerah tersebut. Kehadiran para pemukim serta-merta menggusur penduduk yang telah menempati wilayah tersebut sejak lama, membuat mereka kehilangan tempat tinggal pada musim dingin yang ekstrem ini.

Puing-puing bangunan rumah keluarga Salhiya
Sumber : qudsnen
Menurut PBB, tingkat penghancuran rumah-rumah Palestina oleh Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Al-Quds Timur meningkat sebesar 21% pada 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sejak 2009 hingga 2022, Israel tercatat telah menghancurkan 1.621 bangunan di Al Quds Timur dan mengakibatkan 2.986 orang kehilangan tempat tinggal.
Penggusuran bukan hanya terjadi di Sheikh Jarrah, melainkan di seluruh wilayah Palestina.[1] Sepanjang 2009 hingga tahun 2022, Israel telah menghancurkan 8.211 bangunan yang mengakibatkan 12.196 orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian karena rumah dan bangunan unit bisnis milik mereka dihancurkan oleh Israel.[2]
Penggusuran serta penyerangan dengan berbagai alasan yang dilakukan oleh Israel tidak lain hanyalah bagian dari upaya mereka untuk terus melanjutkan agenda Yahudinisasi melalui pembersihan etnis terhadap penduduk Palestina. Saudara-saudara kita di Palestina tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi mereka juga membutuhkan kehadiran kita untuk bersama-sama berjuang membebaskan Palestina. Hal ini sebab sebelum Palestina merdeka, pembersihan etnis akan terus menjadi agenda turun-temurun yang dilakukan Zionis terhadap penduduk Palestina.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Staf Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
[1] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/adara-report-edisi-02-desember-2021-tanah-palestina/
[2] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/843-rumah-palestina-dihancurkan-sepanjang-tahun-2021/
Sumber :
https://www.#/20220119-israel-forces-evict-palestinian-family-from-sheikh-jarrah-home/(Video)
https://www.ochaopt.org/data/demolition
https://www.#/20220119-israel-forces-evict-palestinian-family-from-sheikh-jarrah-home/
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.








