Jumat, 2 Oktober 1187, merupakan hari yang bersejarah bagi penduduk Palestina. Ketika itu, umat Islam berbahagia atas keberhasilan membebaskan Al-Quds yang telah terbelenggu di bawah pasukan Salib selama 88 tahun. Perjuangan selama tiga bulan dalam Perang Hittin akhirnya membuahkan kemenangan yang manis. Seluruh pencapaian ini tidak terlepas dari peran panglima pasukan termasyhur, Shalahuddin Al-Ayyubi.

Abul Muzhaffar Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadzi lahir pada 523 H (1137 M) di Benteng Tirkit, sebuah kota tua di tepian Sungai Tingris. Shalahuddin yang artinya ‘Keadilan Agama’ merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepadanya. Beliau merupakan keturunan suku Kurdi yang terhormat secara nasab dan klan. Ayahnya, Najmuddin Ayyub, merupakan penguasa Benteng Tirkit. Akan tetapi, ia kehilangan jabatannya tepat setelah lahirnya Shalahuddin akibat tindakan pamannya yang membunuh salah satu penjaga benteng.
Pada awalnya, kelahiran Shalahuddin dianggap membawa sial karena bertepatan dengan pengusiran Najmuddin Ayyub dari Tirkit. Najmuddin sempat memiliki niatan untuk membunuh Shalahuddin yang masih bayi, namun niat itu diurungkannya. Setelah meninggalkan Tirkit, Najmuddin tidak memiliki tempat tinggal sehingga memutuskan untuk berhenti sejenak di wilayah Mosul yang menjadi titik pertemuannya dengan Imaduddin Zanki, Sultan Mosul pada saat itu. Imaduddin Zanki menyambut baik kedatangan Najmuddin dan keluarganya karena pada masa lalu, Najmuddin pernah menolongnya dari kejaran tentara Baghdad.
Sebidang tanah dan tempat tinggal pun diberikan oleh Imaduddin Zanki kepada keluarga Najmuddin sebagai bentuk balas budi. Ia juga diberikan pekerjaan untuk membantu Imaduddin sebagai iqta’ atau pemimpin administratif. Pasca wafatnya Imaduddin, kekuasaan kemudian dialihkan ke putranya, yaitu Nuruddin Zanki. Di bawah kepemimpinan Nuruddin Zanki, Najmuddin kemudian diberikan jabatan sebagai penguasa wilayah Baalbek.
Shalahuddin mendapatkan pendidikan yang baik sejak kecil. Ia belajar ilmu agama di Baalbek, kemudian beberapa tahun setelahnya, pindah ke Damaskus mengikuti ayahnya. Di Damaskus, pendidikan yang diperoleh Shalahuddin disetarakan dengan anak raja dan bangsawan. Ia diajarkan membaca, menulis, menghafal Al-Quran, ilmu fikih, kaidah bahasa Arab (nahwu), dan sastra. Selain ilmu agama, ia juga belajar strategi perang seperti melempar tombak, menunggang kuda, dan berburu. Hal-hal yang didapatkan Shalahuddin sejak kecil inilah yang membentuk kepribadiannya hingga bisa menjadi panglima yang hebat pada masa mendatang.
Ketika perang Salib pecah dan pasukan Salib berhasil mengambil alih wilayah Al-Quds, mereka membunuh sebanyak 70.000 penduduk muslim, termasuk anak-anak. Pembantaian yang dilakukan pasukan Salib terhadap umat Islam tentunya menimbulkan perlawanan, termasuk dari Shalahuddin. Dengan gagah berani, setiap pertempuran ia ikuti demi membebaskan tanah suci Al-Quds. Hingga akhirnya, perjuangan selama bertahun-tahun terbayarkan pada 2 Oktober 1187, hari ketika Al-Quds berhasil ditaklukkan di bawah kepemimpinan Shalahuddin.
Tidak seperti pasukan Salib yang memasuki Al-Quds dengan menebar ketakutan, Shalahuddin memasuki Al-Quds dengan damai, bahkan juga melindungi pemeluk agama lain. Tidak ada penjajahan, apalagi pembantaian yang dilakukan oleh Shalahuddin. Ia justru melakukan pembaharuan di berbagai bidang. Hal pertama yang dilakukannya adalah memperbaiki akidah dan pendidikan dengan membangun masjid, madrasah, dan universitas. Mengenyam pendidikan yang baik sejak kecil membuat Shalahuddin menyadari pentingnya pendidikan demi kemajuan suatu bangsa. Setelah fondasi dasar sudah tegak, barulah Shalahuddin memperbaiki bidang lainnya, seperti ekonomi dan pembangunan.
Sejak ratusan tahun yang lalu, Al-Quds berada di bawah pemerintahan Islam dan mengalami kemajuan pesat di bawah pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi sekarang, Al-Quds kembali jatuh ke bawah belenggu penjajahan. Masjid Al-Aqsa yang suci bahkan dengan lancang dimasuki oleh para pemukim Yahudi yang melakukan ibadah talmudic dengan suara yang dinyaringkan. Rumah-rumah penduduk dihancurkan,[1] perempuan dan anak-anak ditangkap tanpa alasan,[2] jiwa-jiwa tak berdosa dibantai tanpa perasaan.[3] Jika digambarkan, sepertinya puisi karya Helvy Tiana Rosa berikut cukup mewakili apa yang kini terjadi di Al-Quds dan Palestina.
Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina?
Apakah sampai padamu berita
tentang rumahrumah yang dihancurkan
tanahtanah meratap berpindah tuan,
bahkan manusia yang dibuldoser?
Apakah sampai padamu berita
tentang airmata yang tumpah
dan menjelma minuman sehari-hari
tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali
atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari?
Apakah sampai padamu
berita tentang kanak-kanak yang tak lagi berbapak
tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara?
Para balita yang menggenggam batu
dengan dua tangan mungil mereka
menghadang tentara Zionis Israel
lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi
Apakah sampai padamu berita tentang Masjidil Aqsha
di halamannya menggenang darah
dan tubuh–tubuh yang terbongkar
Peluru yang berhamburan di udara
menyanyikan lagu kematian menyayat nadi
kekejaman yang melebihi fiksi
dan semua film yang pernah kau tonton
di bioskop dan televisi
Kebiadaban yang mahanazi
Akan tetapi, penduduk Palestina mewarisi semangat Shalahuddin. Dibantai sekali, mereka akan melawan ribuan kali. Semangat untuk merebut kembali Al-Quds tak pernah padam, tak akan sedikit pun berkurang. Pada 11 September lalu, program “Knights of Dawn” diluncurkan di Palestina. Program ini diikuti oleh anak-anak usia 10 hingga 15 tahun yang berkomitmen untuk sholat lima waktu berjamaah di masjid. Selain itu, mereka juga dibiasakan untuk zikir pagi dan sore, menghafal dan menafsirkan surat-surat pendek, berkhotbah, serta mempelajari fikih, seperti fikih wudu dan salat.
Abu Athra selaku pengawas program ini mengatakan, “Lebih dari 200 siswa berpartisipasi dalam program ini dan diawasi oleh 15 pengawas berpengalaman, serta didukung para dermawan dan keluarga masjid. Tujuan dari program ini adalah untuk menghasilkan generasi dengan pendidikan Islam yang lurus, memelihara salat berjamaah di masjid, tumbuh dengan Al-Qur’an, dan bergerak kuat dan mantap menuju masjid. Ini adalah jalan membebaskan Al-Quds dan wilayah yang diduduki.”
Kalimat Abu Athra tersebut menyiratkan harapan, bahwa suatu hari nanti akan lahir generasi Shalahuddin Al-Ayyubi yang kembali membebaskan Al-Quds. Kelahiran generasi tersebut harus diperjuangkan, sebagaimana ayah Shalahuddin berjuang memberikan pendidikan yang baik pada putranya sejak kecil. Ketika generasi tersebut sudah lahir, maka dapat dipastikan Al-Quds dan Palestina akan kembali ke tangan umat Islam. Seperti 834 tahun yang lalu, ketakutan akan berubah menjadi kebahagiaan, penjajahan akan ditumpas dengan kedamaian, sebagaimana Shalahuddin berhasil membebaskan Al-Quds di bawah komandonya.
Salsabila Safitri
Penulis merupakan anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia sedang menyelesaikan pendidikan strata 1 di Sastra Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
[1] Selengkapnya di https://adararelief.com/perang-senyap-silent-war-di-al-quds-timur-palestina/
[2] Selengkapnya di https://adararelief.com/kekerasan-terhadap-tawanan-perempuan-palestina-part-1/
[3] Selengkapnya di https://adararelief.com/zionis-mencetak-prestasi-dengan-membunuh-77-anak-dalam-setahun/
Sumber :
https://felesteen.news/post/93916/فرسان–الفجر–ووجوه–مسفرة–مشاريع–قرآنية–نحو–تحرير–القدس
https://www.republika.co.id/berita/pkyfk7313/ketika-salahudin-membebaskan-yerusalem-part4
https://spiritofaqsa.or.id/sejarah-hari-ini-shalahuddin-al-ayyubi-bebaskan-baitul-maqdis.html
https://palestineupdate.com/sejarah-palestina-pembebasan-alaqsha-oleh-sang-saladin/ :
Etmaja, Andria Tri. 2008. Arti Penting Kota Yerusalem bagi Umat Islam. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga. Diakses dari https://digilib.uinsuka.ac.id/id/eprint/2508/1/BAB%20I,V,%20DAFTAR%20PUSTAKA. pdf
Lestari, Eka Puji. 2020. Strategi Shalahuddin Al-Ayyubi dalam mengambil Alih Yerusalem 1187-1192 M. Surabaya : UIN Sunan Ampel. Diakses dari http://digilib.uinsby.ac.id/47077/2/Eka%20Puji%20Lestari_A92216119.pdf






