Kekejaman Zionis Israel terhadap warga Gaza ketika serangan pada bulan Mei lalu terus terungkap. Seorang bayi berusia sembilan bulan, seorang gadis berusia 17 tahun, tiga orang wanita, dan seorang pria tewas akibat tembakan artileri pada serangan 11 hari tersebut. Kejadian ini tidak dipublikasikan, namun diketahui oleh pasukan penjajah yang memutuskan untuk menyelidikinya.
Kantor Berita Palestina memperoleh kesaksian yang menunjukkan pengakuan permainan kotor tentara Zionis Israel yang enggan diakui secara terbuka. Dikatakan bahwa beberapa prajurit berpangkat rendah diskors untuk waktu yang terbatas dan kemudian kembali ke posisi mereka, sementara seorang perwira batalion dipindahkan ke posisi pelatihan. Tidak ada perwira senior Zionis Israel yang dihukum, apalagi dipecat.
Baca juga: Tentara Zionis Menutupi Pembunuhan terhadap Keluarga Palestina selama Serangan Gaza pada Mei
Insiden ini terjadi pada tanggal 13 Mei, tak lama sebelum serangan untuk menghancurkan terowongan Hamas di Jalur Gaza Utara diluncurkan. Para tentara diperintahkan untuk menjebak pasukan Hamas agar mengira bahwa pasukan Zionis akan meluncurkan serangan darat ke Jalur Gaza. Hal ini bertujuan agar pasukan Hamas berlindung di dalam terowongan, yang akan menjadi target pengeboman.
Sebagai bagian dari strategi pengalihan, pasukan Zionis menembakkan artileri berat ke area terbuka di Jalur Utara. Sekitar 500 peluru ditembakkan, namun beberapa “secara tidak sengaja” diarahkan ke kompleks Al-Karya, sebuah situs pertanian yang berada di dekat Beit Lahia. Warga Palestina yang menetap di wilayah ini merupakan warga sipil yang nahasnya harus kehilangan anggota keluarga dan rumah mereka akibat serangan tersebut.
Seperti serangan-serangan lainnya yang dilakukan oleh Zionis, mereka sama sekali tidak mengevakuasi warga agar mengosongkan rumah mereka. Juga tidak ada peringatan yang diberikan mengenai serangan yang akan dijatuhkan. Tindakan tersebut menjadi bukti bahwa Zionis memang bertujuan untuk membunuh sebanyak mungkin warga Palestina, tidak peduli itu warga sipil maupun anak-anak. Mereka melakukan kejahatan perang yang sangat nyata.
Sekitar pukul 18.30, Zionis mulai menembaki rumah-rumah warga. Nasser Abu Fares Abu Daya (50) adalah salah satu warga yang rumahnya terkena tembakan. “Saya sedang duduk di rumah tetangga ketika tiba-tiba saya mendengar dua bom jatuh.” Melihat rumahnya dipenuhi asap dan debu, Abu Fares segera berlari ke rumahnya untuk menyelamatkan keluarganya. Saat itulah bom ketiga dijatuhkan. Kepada B’Tselem, Abu Fares mengatakan dia mencari anggota keluarganya ‘ditemani’ ledakan bom di sekelilingnya.
Abu Fares baru bisa menemukan anggota keluarganya saat debu dan asap telah memudar. “Saya menemukan anak-anak perempuan saya, tubuh beberapa dari mereka terpisah-pisah. Anak-anak saya terluka dan seluruh tempat itu penuh dengan darah.” Malam itu, tiga putrinya yaitu Fawziya (17), Nisrin (26), Sabrine (28) terbunuh. Putra Sabrine yang baru berusia sembilan bulan, Mohammed Salama, juga tewas dalam serangan tersebut.
Anak-anak Abu Fares lainnya yang terluka segera dibawa ke rumah sakit. Ketika dalam perjalanan ke rumah sakit pun, mobil mereka tetap diserang dengan tembakan oleh pasukan Zionis. Di rumah sakit, selagi anak-anaknya diobati, Abu Fares harus mengidentifikasi jenazah putri dan cucunya. “Ahli patologi memperlihatkan bagian tubuh mereka sehingga saya bisa mengidentifikasi mereka. Itu tak tertahankan. Saya tidak tahan,” katanya. Betapa tersiksanya batin Abu Fares saat harus melihat putri dan cucunya yang dibunuh secara brutal oleh Zionis hingga tubuh mereka hancur.
Abu Fares bukanlah satu-satunya korban dalam serangan tersebut. Tetangganya, keluarga Ayash, juga merasakan hal yang sama. Niama Saleh Salama Ayash (47) dan Hashem Mohammed Ayad Ali a-Zagheibi (20) tewas dalam serangan tersebut. Mereka terbunuh ketika sedang berkumpul bersama keluarga dan tetangga mereka untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Akan tetapi, dalam beberapa detik saja, Zionis mengacaukan rutinitas mereka dan menghabisi nyawa anggota keluarga mereka.
Saudara Niama, Ismail Ayash (50), mengatakan, “Saat itu saya tidak melihat saudara perempuan saya, Niama. Saya mengira dia sudah melarikan diri. Saya melihat saudara perempuan saya, Sara, bersama tetangga kami Jamila dan menantu perempuannya, menyelamatkan diri mereka. Saya melihat rumah Abu Fares yang posisinya tepat di samping rumah kami hancur total. Saya melihat mereka mencoba mengeluarkan jenazah dari reruntuhan.”
Ayash baru menemukan saudara perempuannya ketika dia dan keluarganya dirawat di rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza Utara. “Saya sedang mencari saudara perempuan saya, Niama. Saya melewati semua bangsal dan setelah satu setengah jam, saya menemukannya di dalam pendingin. Dia meninggal karena terkena pecahan peluru ketika berada di tangga. Saya mendengar bahwa Hashem a-Zagheibi, yang terkena pecahan dari bom yang jatuh di dekat pintu depan kami, juga terbunuh. Kemudian saya mendengar Abu Fares kehilangan tiga putri dan cucunya.”
Semua korban yang selamat kemudian dikirim ke sebuah sekolah di Beit Lahia setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Sekolah dijadikan tempat berlindung dan penampungan sementara untuk para korban. “Kami datang ke tempat penampungan tanpa membawa apa-apa, hanya pakaian yang kami kenakan. Kami ditinggalkan dalam kondisi yang sangat sulit. Kami duduk dan tidur di lantai. Setelah tiga atau empat hari beberapa orang menyumbangkan kasur dan selimut. Kami tidak punya apa-apa untuk dimakan atau diminum dan itu benar-benar kacau,” kata Ayash.
Sehari setelah serangan tersebut, juru bicara pasukan pendudukan Zionis Israel saat itu, Brig. Jenderal Hidai Zilberman, mengumumkan ‘pencapaian’ mereka pada serangan yang dilancarkan malam sebelumnya. “Sekitar 450 amunisi ditembakkan ke 150 sasaran dalam 35 menit,” katanya dengan penuh kebanggaan. Akan tetapi, Zilberman sama sekali tidak menyinggung apa yang terjadi di daerah pertanian Beit Lahia dan perbatasan. Sebuah cara untuk menutupi kekotoran perbuatan mereka terhadap warga sipil Palestina yang seharusnya tidak terlibat dalam pertempuran. Mereka mengenakan ‘topeng’, namun sayangnya mereka lupa bahwa busuknya perilaku mereka tidak bisa ditutupi.
Dari berbagai sumber.
***
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







