“Bagaimana perasaanmu jika aku mengambil kartu identitasmu, menghapus fotomu darinya, dan memasukkan foto orang lain?”
Pertanyaan retoris tersebut dilontarkan oleh Yacoub Odeh, seorang pensiunan guru yang tinggal di wilayah Shuafat di Al Quds timur. Kenangannya akan Lifta, desa tempat masa kecilnya dihabiskan, memanggilnya untuk kembali ketika usianya telah menginjak 81 tahun. Saat terjadi peristiwa Nakba, usia Odeh baru menginjak 8 tahun, tetapi ia masih mengingat setiap rumah yang ada di Lifta serta setiap pohon ara yang tumbuh di sana. Ia mengatakan bahwa ada sekitar 550 rumah pada 1948 dan terdapat sekitar 40.000 pengungsi keturunan yang tersebar di Al Quds Timur, Tepi Barat, Yordania, dan diaspora Palestina.

Odeh juga masih mengingat dengan detail detik-detik saat ia dipaksa meninggalkan desa yang ditinggalinya sejak dilahirkan. Serangan penembakan di kafe Salah Eisa pada 1947 dan pembakaran rumah menyebabkan warga diperintahkan untuk mengevakuasi diri. Ledakan dan baku tembak terus terjadi sehingga Odeh membawa putranya ke Ramallah menggunakan truk. Sementara itu, ayah Odeh memilih menetap bersama para pejuang hingga terjadi pembantaian di dekat Deir Yassin pada April 1948. Peristiwa tersebut membuat ayah Odeh tidak memiliki pilihan selain meninggalkan desanya. Kemudian setelah 15 bulan berlalu, Odeh memutuskan pindah ke Al-Quds agar lebih dekat dengan Lifta.
“Kami telah menjadi raja, lalu dalam waktu satu jam kami menjadi pengemis. Itulah kenapa saya bergabung dengan Gerakan Nasional Palestina. Sepanjang hidup saya, saya selalu bermimpi untuk bisa kembali.” Demikian Odeh menambahkan setelah bercerita.
Baca juga: Perang Senyap (Silent War) di Al-Quds Timur, Palestina
Lifta yang terletak di tepi barat Al-Quds adalah saksi bisu dari kehidupan indah yang direnggut paksa. Layaknya gadis cantik yang ditinggalkan, bangunan-bangunan dengan arsitektur yang indah di Lifta kini terbengkalai akibat ditinggalkan pemiliknya. Zionis melubangi atap-atap rumah agar tidak dapat digunakan lagi, sebuah upaya demi mencegah penghuninya untuk kembali. Administrasi Pertanahan Israel akan melakukan penawaran untuk melaksanakan pembangunan lingkungan mewah di Lifta. 250 rumah, 259 villa, sebuah hotel, dan sebuah mal direncanakan untuk dibangun di atas reruntuhan Lifta yang penuh dengan kenangan milik penduduk Palestina.
“Tidak ada yang berhak membangun lingkungan mewah di sini dan menghancurkan rumah kakek-nenek dan orang tua kami, serta kenangan kami. Saya tahu bahwa saya tidak akan bisa kembali ke rumah saya,” kata Odeh. “Tapi mari kita biarkan situasinya apa adanya. Lifta tidak hancur dalam perang. Jangan hancurkan sekarang.” Demikian curahan hati Odeh ketika mengetahui strategi Zionis yang hendak menghabisi seluruh kenangan miliknya dan milik seluruh penduduk Palestina yang pernah menetap di Lifta.

Strategi Zionis untuk melakukan pembangunan di Lifta juga mendapat penolakan keras dari Pemerintah Kota Al Quds. Gerakan Save Lifta Coalition pun dibentuk untuk memperjuangkan agar Lifta dipertahankan sebagaimana adanya. Kampanye-kampanye dilakukan untuk melestarikan segala yang ada di Lifta; tidak menyentuh apa pun, tidak menghancurkan dan tidak membangun, menstabilkan fondasi agar tidak runtuh, dan menyerahkan keputusan tentang masa depan Lifta kepada generasi mendatang.
Selain penduduk Lifta, para pecinta alam dan lingkungan juga melakukan penolakan atas pembangunan yang akan dilakukan di Lifta. Mereka ingin agar pemandangan spektakuler dan kehidupan alam bebas di Lifta tetap dilestarikan. Organisasi internasional UNESCO juga telah menempatkan Lifta dalam daftar World Heritage Site dan World Heritage Fund. UNESCO juga sedang bekerja untuk menyelamatkan Lifta karena pada 2018, Lifta termasuk ke dalam 24 situs warisan dunia yang terancam punah.
Baca juga: Gaza yang Telah Melampaui Batas-Batas Kemanusiaan
Sebuah kenangan, sepahit apa pun itu, tetaplah sebuah kenangan. Tak bisa dilupakan, tak mungkin tergantikan. Demikian pula dengan Lifta bagi para penghuni yang pernah menetap di dalamnya, makan dari hasil tanahnya, minum dari aliran airnya, menumpahkan darah demi memperjuangkannya, dan selalu setia mencintainya walaupun terpisahkan jarak dan waktu. Lifta tak akan bisa direbut dengan mudah, sebab dia akan selalu dilindungi oleh para pejuang yang mempertahankannya dengan segenap jiwa dan raga.
Reporter : Salsabila
Ed : LM
Sumber : Haaretz
***
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








