Lebih dari 5.000 anak Gaza telah kehilangan anggota tubuh sejak Oktober 2023. Mereka menghadapi komplikasi luar biasa saat menunggu luka amputasi mereka sembuh, termasuk mengalami infeksi, cedera akibat serpihan, dan rasa sakit yang terus berlanjut.
Sembilan bulan genosida di Gaza yang terus berlanjut, ada ribuan anak Palestina yang hidup dengan setidaknya satu anggota tubuh yang diamputasi dan tidak menerima perawatan medis yang mereka butuhkan.
Dr. Ghassan Abu Sittah, ahli bedah plastik Inggris-Palestina yang telah melakukan operasi pada banyak warga Palestina yang terluka di Gaza, memperkirakan sekarang ada sekitar 5.000 anak yang telah diamputasi.
Angka ini meningkat tajam dibandingkan akhir tahun lalu, ketika sekitar 1.000 anak Palestina di Gaza terpaksa menjalani amputasi untuk satu atau kedua kaki mereka, menurut UNICEF.
“Ini merupakan bentuk amputasi pediatrik terbesar dalam sejarah,” kata Abu Sittah pada bulan Maret.
Pasukan Israel terus menyerang warga Palestina di Gaza dari udara, darat, dan laut. Pada saat bersamaan, otoritas Israel juga membatasi dan menghalangi bantuan dan barang-barang penting masuk ke Gaza. Hampir tidak ada sistem perawatan kesehatan yang tersisa untuk memberikan perawatan medis bagi anak-anak di Gaza.
Salah seorang anak yang menjadi korban, Ghazal yang berusia empat tahun dan keluarganya terkena peluru yang ditembakkan dari tank Israel. Hal itu terjadi saat mereka mencoba mengungsi ke selatan Gaza pada November 2023.
“Tank itu membuat putri saya kehilangan kakinya,” kata ibu Ghazal kepada seorang peneliti lapangan dari Defense for Children International – Palestine (DCIP). “Dokter harus menindak kakinya tanpa anestesi. Ada beberapa pisau di apartemen. Mereka membawa tabung gas untuk memanaskan pisau dan memulai mengamputasi kaki putri saya. Ia menjerit.”
Rasa Sakit yang Tak Terbayangkan
Ghazal tidak sendirian dalam penderitaannya. Banyak kasus amputasi di Gaza yang dilakukan selama berjam-jam tanpa anestesi. Tak terbayangkan bagaimana rasa sakit yang tak tertahankan harus ditanggung seorang anak.
Dokter dan staf medis mengamputasi anggota tubuh anak-anak di rumah sakit yang penuh sesak, tempat puluhan ribu warga Palestina yang terlantar mengungsi untuk mencari perlindungan. Sementara itu, ruang operasi gelap tanpa listrik, tanpa obat pereda nyeri, antibiotik, atau persediaan yang steril. Itu semua terjadi saat RS berada di bawah pengepungan pasukan Israel.
Kampanye genosida Israel telah membuat sistem perawatan kesehatan Gaza lumpuh. Tidak ada perawatan lanjutan atau terapi fisik, juga tidak ada alat buatan (prostetik) yang digunakan untuk menggantikan bagian tubuh yang hilang
Seorang anak yang bagian tubuhnya diamputasi menggunakan anggota tubuh prostetik membutuhkan alat baru sekitar setahun sekali, dan kadang lebih sering, tergantung pada pertumbuhan mereka. Seiring pertumbuhan anak, mereka membutuhkan perawatan berkelanjutan dari spesialis.
Anak-anak yang diamputasi dari Gaza dapat menghadapi komplikasi luar biasa saat amputasi mereka sembuh, termasuk infeksi, cedera akibat serpihan, dan rasa sakit yang terus berlanjut.
Ritaj yang berusia delapan tahun, seorang anak perempuan Palestina dari Juhr Al-Deek, selatan Kota Gaza, selamat dari serangan udara Israel yang membunuh keluarganya.
Setelah dua hari berada di bawah puing-puing, Ritaj diselamatkan. Dokter terpaksa mengamputasi kakinya setelah melalui beberapa operasi, dan sekarang dia berjuang untuk sembuh dalam kondisi mengungsi di tempat penampungan sekolah UNRWA.
“Dokter memeriksa kaki saya, dan ulat-ulat kecil keluar!”, kata Ritaj kepada seorang peneliti lapangan DCIP yang mengunjunginya di tempat penampungan sekolah UNRWA tempat dia tinggal bersama bibinya.
“Setiap hari, saya tidak bisa tidur karena suara pengeboman meskipun saya ingin tidur karena kaki saya sakit. Namun, saya bertahan.”
Sementara sejumlah anak Palestina yang terluka di Gaza berhasil mempertahankan anggota tubuh mereka, lebih banyak anak yang harus menghadapi kelumpuhan dan komplikasi yang menyertainya.
Kelompok Rentan
Dunya yang berusia dua belas tahun selamat dari serangan Israel yang membunuh orang tua dan saudara-saudaranya–ia juga harus merelakan kakinya.
“Darah mengalir dan saya tidak punya kaki,” kata Dunya kepada seorang peneliti lapangan DCIP pada bulan November. “Saya mencoba menggerakkannya, tapi tidak bisa.”
Serangan Israel menggusur Dunya dan keluarganya, mengubur mereka di bawah puing-puing, membuat Dunya menjadi yatim piatu, dan menghancurkan kakinya. Ketika Dunya sedang memulihkan diri di Rumah Sakit Naser di Khan Younis pada Desember 2023, sebuah peluru yang ditembakkan dari tank Israel mengenai dirinya saat dia berbaring di tempat tidur rumah sakitnya. Dunya tewas seketika.
Pasukan Israel melancarkan kekejaman terhadap anak-anak Palestina di Gaza pada setiap kesempatan. Jumlah kematian anak-anak di Gaza telah melampaui 15.000, dan semakin banyak anak-anak yang terluka akibat serangan Israel. Sudah waktunya bagi komunitas internasional untuk bertindak.
Negara-negara harus menghentikan aliran senjata ke militer Israel karena anak-anak di Gaza membutuhkan gencatan senjata hari ini. Anak-anak Palestina yang cacat berhak untuk hidup dan sembuh dari luka-luka mereka.
Kewajiban Hukum
Memastikan anak-anak Palestina yang cacat di Gaza seperti Ghazal, Ritaj, Mohammad, dan ribuan anak lainnya untuk memiliki akses ke perawatan medis, pendidikan, dan rehabilitasi bukan sekadar hal yang benar untuk dilakukan, tetapi merupakan kewajiban hukum.
Israel meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak pada tahun 1991, dan setuju untuk menegakkan hak-hak anak yang ditentukan. Pasal 23 dari CRC berfokus pada hak-hak khusus anak-anak penyandang disabilitas.
Nyatanya, genosida Israel di Gaza justru menargetkan anak-anak Palestina yang cacat yang tidak bisa melarikan diri dari serangan udara, mendengar tembakan, atau memahami mengapa keluarga mereka terusir berulang kali. Komunitas internasional harus memberlakukan embargo senjata dan bekerja untuk menuntut pertanggungjawaban otoritas Israel atas kejahatan mereka.
Anak-anak itu seharusnya menerima perawatan dan pendidikan khusus untuk memfasilitasi integrasi sosial dan perkembangan pribadi mereka secara lengkap, serta mendapatkan hak mereka untuk pendidikan, pelatihan, pelayanan kesehatan, rehabilitasi, dan kesempatan rekreasi.
Sumber: https://www.trtworld.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








