• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

42 Tahun Pembantaian Sabra Shatila: Memori Kelam yang Menghantui Ingatan Pengungsi Palestina

by Adara Relief International
September 16, 2024
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 11 mins read
0 0
0
42 Tahun Pembantaian Sabra Shatila: Memori Kelam yang Menghantui Ingatan Pengungsi Palestina

Seorang anak Palestina mengangkat tulisan "Jangan lupakan Pembantaian Sabra dan Shatila" (The New Arab)

419
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

“Gadis-gadis muda diperkosa dengan botol kaca Pepsi, dan para pemuda dipotong-potong dengan parang,” ujar seorang perempuan ketika menceritakan pembantaian Sabra dan Shatila yang terjadi 42 tahun yang lalu. Itu adalah kalimat terakhir yang didengar oleh Amena al-Ashkar, seorang jurnalis Mondoweiss yang tumbuh di Lebanon, sebelum ia menutup telinganya karena tak sanggup untuk mendengar lebih banyak. Amena adalah pengungsi Palestina yang tinggal di Kamp Pengungsi Bourj El Barajneh, hanya sekitar 1 km dari Sabra dan Shatila. Tumbuh dengan mendengar kisah-kisah mengerikan tentang pembantaian Shabra dan Shatila-meski tanpa sengaja- telah membuat Amena memutuskan untuk tidak menulis tentang pembantaian tersebut.

Akan tetapi, dua tahun lalu, Amena membuat keputusan untuk mengunjungi Kamp Sabra dan Shatila sebagai jurnalis pada peringatan 40 tahun pembantaian Sabra dan Shatila. Setelah bertahun-tahun menolak untuk menulis tentang pembantaian Sabra dan Shatila, untuk pertama kalinya, pada 2022, Amena merasa bahwa ia perlu membahasnya.

Ketika memasuki kamp Sabra, ia mendekati dua perempuan yang sedang duduk di depan rumah mereka dan bertanya, “Bolehkah saya bertanya tentang pembantaian itu?” Sebagai jawaban, kedua perempuan tersebut justru meminta Amena untuk pergi.

“Kami sudah membicarakan ini sejak lama, tetapi tidak ada yang peduli bahwa kami dibantai seperti ayam,” kata salah seorang perempuan dengan nada frustrasi. Perempuan satu lagi menambahkan, “satu-satunya hal yang bisa saya katakan adalah saya mengingat semua detailnya. Saya menangis karena mengingat memori yang mengerikan itu, saya hidup dengan rasa sakit ini selama berhari-hari, dan terkadang berbulan-bulan.” “Saya tidak akan membahas ini sekarang, atau selamanya,” kata perempuan yang pertama. Maka Amena memutuskan melanjutkan perjalanannya, hingga akhirnya menemukan beberapa pengungsi yang bersedia diwawancarai. Dan akhirnya ia tahu, mengapa kedua perempuan tersebut enggan mengingat kembali tragedi mengerikan tersebut untuk selamanya.

Tragedi Sabra Shatila 1982

Dua petugas mengangkat jenazah korban Pembantaian Sabra dan Shatila (Al Jazeera)

Sejak Israel memulai penjajahannya atas Palestina pada 1948, penduduk Palestina yang terusir dari tanah air mereka terpaksa berdiaspora mencari tempat tinggal baru. Sebagian dari mereka mengungsi ke Lebanon Selatan kemudian menetap di kamp pengungsi yang bernama Sabra dan Shatila. Sebuah pilihan yang tak mereka sangka akan berbuah kematian. 

Asal-usul kamp Sabra dan Shatila bermula pada 1949, ketika sekelompok pengungsi Palestina mendirikan tenda mereka di sebidang tanah kosong di pinggiran Beirut. Dalam hitungan pekan, lebih banyak keluarga, terutama dari Al-Jalil (Galilea), ikut menetap di sana, hingga akhirnya membuat Komite Internasional Palang Merah mengakui Sabra dan Shatila sebagai dua kamp di antara 17 kamp yang menampung sekitar 100.000 pengungsi Palestina yang telah melarikan diri ke Lebanon, melewati desa-desa di selatan atau tiba dengan perahu di Beirut.

Peristiwa Sabra Shatila tidak terlepas dari serangan pada Juni 1982 ketika pasukan militer Israel menyerang Lebanon Selatan dan mengepung Beirut karena Israel menuduh PLO mencoba melakukan upaya pembunuhan terhadap Duta Besar Israel untuk Inggris, Shlomo Argov. Sejatinya, serangan tersebut diizinkan dengan syarat pasukan Israel tidak boleh maju lebih dari 40 kilometer dari perbatasan Lebanon. Akan tetapi, mereka melanggar aturan yang disampaikan oleh kabinet Israel melalui Menteri Menachem Begin. Di bawah komando Menteri Perang Ariel Sharon, pasukan Israel menyerang hingga ke Beirut, Ibu Kota Lebanon; jelas-jelas melewati batas 40 kilometer yang ditetapkan.

Pada Agustus 1982, Bachir Gemayel dari Partai Falangis yang berisi orang-orang Kristen Maronit terpilih menjadi Presiden Lebanon. Akan tetapi, pada 14 September 1982 atau hanya berselang beberapa pekan setelah pengangkatannya, Gemayel tewas akibat bom yang diledakkan di markasnya yang berada di Beirut. Pembunuhan Gemayel memicu kemarahan dari orang-orang Lebanon, terutama dari kalangan Kristen Maronit Partai Falangis yang sama dengan Gemayel. Dalam situasi yang memanas ini, Israel melalui Ariel Sharon bergerak menyusun ‘skenario’ dengan tujuan menambah penderitaan warga Palestina.

Pasca-terbunuhnya Presiden Bachir Gemayel, pengungsi Palestina menjadi sasaran kecurigaan tanpa dasar dari orang-orang Lebanon. Mereka menuduh bahwa pelaku pembunuhan Gemayel merupakan salah seorang muslim Palestina. Warga Palestina mendapatkan stigma buruk dari orang-orang Lebanon karena posisi mereka sebagai pengungsi. Situasi ini semakin mempermudah Ariel Sharon untuk ambil bagian dalam ‘menyutradarai’ rencana kejamnya dan menggunakan Partai Falangis Lebanon sebagai ‘eksekutor’ aksinya.

Meskipun pada akhirnya terbukti bahwa pelaku pembunuhan Gemayel adalah seorang Kristen Maronit asli Lebanon yang bernama Tanious Sharthouni, Sharon tidak peduli dan tetap menjalankan rencana yang telah disusunnya. Tujuannya tak lain adalah untuk menghabisi warga Palestina dan memperluas wilayah penjajahan Israel.

Darah Membanjiri Sabra Shatila

Proses evakuasi korban Pembantaian Sabra dan Shatila (Mondoweiss)

Pasukan Israel mengepung kamp Sabra dan Shatila pada 15 September 1982. Pintu keluar dan masuk dijaga ketat sehingga tidak ada yang bisa keluar atau masuk dari Sabra dan Shatila. Warga Palestina dan Lebanon yang tinggal di sana sempurna terkurung tanpa celah untuk melarikan diri. Tindakan ini merupakan persiapan untuk eksekusi yang akan dilaksanakan keesokan harinya oleh orang-orang Falangis Lebanon.

Pada 16 September 1982, milisi Falangis Lebanon memasuki kamp Sabra dan Shatila atas ‘restu’ dari Ariel Sharon. Di sana, para milisi Falangis menyiksa, membunuh, memerkosa, bahkan memutilasi warga sipil, tak terkecuali perempuan dan anak-anak. Di balik aksi keji Falangis, terdapat andil militer Israel yang membantu dengan cara melepaskan tembakan ke langit untuk menerangi orang-orang Falangis yang sedang melancarkan aksi biadab mereka. Dalam sekejap, Sabra Shatila dipenuhi teriakan kesakitan, jeritan meminta tolong, dan digenangi lautan darah.

Jurnalis Amerika Janet Lee Stevens yang menyaksikan tragedi tersebut menggambarkan kengerian yang ia saksikan, “Saya melihat perempuan mati di rumah mereka dengan rok tersingkap sampai ke pinggang dan kaki mereka terbentang. Puluhan pemuda ditembak setelah berbaris di dinding gang; anak-anak dengan leher yang digorok, seorang perempuan hamil dengan perutnya yang dibelah, matanya masih terbuka lebar, wajahnya menghitam, tanpa suara berteriak ngeri. Banyak bayi dan balita yang ditikam atau dicabik-cabik dan yang dibuang ke tumpukan sampah.”

Ribuan pengungsi Palestina menjadi korban jiwa dalam pembantaian brutal ini. Banyaknya korban dengan kondisi yang mengenaskan dan tidak lagi utuh membuat data spesifik yang dilaporkan berbeda-beda. Anadolu Agency pada 2020 menyebutkan bahwa jumlah korban mencapai 3000 jiwa yang terdiri atas warga Palestina dan Lebanon yang mayoritas merupakan penganut Syiah. Sementara itu, TRT World pada 2019 menyebutkan korban tewas dalam peristiwa ini berjumlah 3500 jiwa.

Milisi Falangis baru meninggalkan Sabra dan Shatila pada 18 September 1982, dua hari setelah pembantaian dimulai. Mereka meninggalkan kamp pengungsi yang penuh darah dan potongan-potongan tubuh setelah membuang mayat-mayat penduduk sipil dengan menggunakan buldoser. Para pemuda yang ditemukan dalam keadaan hidup, dibawa untuk diinterogasi oleh intelijen Israel. Di antara tawanan-tawanan ini kemudian ada yang dikembalikan kepada Falangis, beberapa di antaranya dieksekusi mati.

Ariel Sharon, Sang Jagal dari Beirut

Ariel Sharon (baju putih), Sang “Jagal dari Beirut” (Al Jazeera)

Ariel Scheinerman atau lebih dikenal dengan sebutan Ariel Sharon, merupakan dalang di balik tragedi pembantaian Sabra Shatila yang menewaskan ribuan pengungsi Palestina. Ia dibesarkan dalam keluarga imigran Rusia di Palestina yang saat itu dikuasai Inggris dan bergabung dengan gerakan Zionis pada usia 14 tahun. Ia menjadi tentara pada 1947 saat usianya 19 tahun dan mulai ikut dalam pertempuran melawan tentara Yordania dalam pertempuran Latm pada 1948. Pada tahun 1953, Sharon mendapat jabatan sebagai kepala unit 101, sebuah kelompok komando yang ditugaskan untuk melakukan serangan balasan terhadap desa-desa di perbatasan Yordania.

Sharon melancarkan pembantaian pertamanya pada Oktober 1953, ketika ia menyerang Desa Qibyā di Tepi Barat yang menewaskan 69 warga sipil, mayoritas perempuan dan anak-anak. Dua tahun berselang, yaitu pada 1955, Sharon memimpin serangan terhadap pasukan Mesir yang menduduki Jalur Gaza. Serangan itu menewaskan 38 orang Mesir dan meningkatkan ketegangan antara Israel dan Mesir. Tragedi tersebut juga membuat Sharon mendapat julukan “Sang Buldozer”.

Sharon memulai karir politiknya pada 1973 dengan memutuskan bergabung dengan Partai Likud pimpinan Menachem Begin dan terpilih menjadi anggota Knesset (parlemen Israel). Pada Mei 1977 ia membentuk partai kecilnya sendiri, Partai Shlomzion yang berarti “Perdamaian di Sion”, kemudian diangkat menjadi menteri pertanian yang mensponsori pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina yang terjajah.

Dalam pembantaian Sabra Shatila tahun 1982, Sharon duduk di kursi “sutradara” yang menyusun skenario pembantaian dengan memanfaatkan stigma negatif kelompok Falangis Lebanon terhadap pengungsi Palestina. Wafatnya Presiden Lebanon Bachir Gemayel yang tewas dibunuh menjadi ajang Sharon untuk melancarkan aksinya dalam menghasut kelompok Falangis agar “membalaskan dendam kematian Gemayel” dengan membantai pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, yang sebenarnya sama sekali tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut. Rencana Sharon mendapat respon positif dari kelompok Falangis yang merasa mendapat dukungan untuk melancarkan aksinya. Dalam sekejap, Sabra Shatila berubah menjadi genangan darah, sehingga Sharon kemudian mendapat julukan “Sang Jagal dari Beirut”.

Terungkapnya bukti yang menunjukkan bahwa Sharon adalah dalang tragedi Sabra Shatila tidak serta merta membuatnya hengkang dari dunia politik. Mengejutkannya, meskipun dunia mengecam Ariel Sharon atas tindakan tidak berperikemanusiaannya dan menuntut agar Sharon dicopot dari jabatannya, kenyataan yang terjadi justru berbanding terbalik. Sharon masih tetap berkarir di pemerintahan, bahkan menjadi anggota kabinet selama periode 1984—2001. Lebih mengejutkan lagi, pada 2001, Sharon memenangkan pemilihan khusus yang menempatkannya menjadi Perdana Menteri Israel hingga ia mengalami koma pada 2006 dan meninggal pada 2014.

Kabar kematian Sharon disambut sukacita oleh para penghuni kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Mereka membagikan permen untuk ‘merayakan’ wafatnya pembunuh yang telah membantai keluarga dan kerabat mereka. “Saya ingin melihatnya diadili di hadapan dunia sebelum Tuhan mengadilinya,” kata Mirvat al-Amine, seorang pemilik toko di Shatila.

Kondisi Kamp Sabra dan Shatila Saat Ini

Pemandangan kamp Shatila, dipenuhi bangunan yang rapat dan meninggi (The Guardian)

Empat dekade telah berlalu, namun bekas luka pembantaian Sabra dan Shatila di masa lalu masih dapat dilihat di setiap jalan – dari lengan yang hilang dari seorang pejuang tua yang menjual tomat hingga fasad bangunan yang hancur oleh tembakan senjata api. Bekas luka ini tidak pernah sembuh, dan trauma para pengungsi Palestina tidak pernah bisa teratasi. Sebaliknya, trauma tersebut terus muncul kembali dan diturunkan dari generasi ke generasi, yang menghadapi lebih banyak kekejaman dan lebih banyak penindasan

Saat ini tidak ada tembok yang mengelilingi kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Tidak ada kawat berduri, menara pengawas, atau pos pemeriksaan, atau setidaknya tidak ada lagi bangunan fisik yang menghalangi orang-orang untuk masuk atau keluar dari kamp pengungsian. Namun, aturan hukum yang kejam, diskriminasi, dan prasangka, ditambah dengan masalah kemiskinan, minimnya akses pendidikan, serta narkoba telah membuat Sabra dan Shatila terasa sesak seperti kamp yang dikelilingi tembok beton tinggi yang tidak bisa ditembus oleh manusia mana pun.

Shatila, khususnya, dengan populasi lebih dari 14.000 jiwa – beberapa perkiraan menyebutkan hingga 30.000 jiwa – lebih seperti kota kecil di dalam kota. Dalam beberapa dekade terakhir, populasinya telah meroket. Warga Suriah yang melarikan diri dari perang saudara, serta pekerja migran Lebanon, Ethiopia, Eritrea, dan Bangladesh yang dilanda kemiskinan semuanya melarikan diri ke kamp tersebut, membuatnya menjadi daerah kumuh yang padat penduduk. 

Terjepit di antara jalan raya utama dan stadion yang tidak jauh dari pusat kota Beirut, Shatila tidak memiliki tempat untuk berkembang kecuali secara vertikal. Flat-flat baru telah ditumpuk secara tidak stabil di atas satu sama lain, masing-masing sedikit lebih besar dari yang di bawahnya, membentuk bangunan bertingkat yang jendela-jendela di lantai atasnya, hingga bersentuhan dengan jendela-jendela di sisi lain gang. Tangga-tangga muncul dari balkon, dan balok-balok menjulur keluar, menciptakan lorong-lorong bawah tanah.

Sebagian besar pengungsi Palestina di Lebanon tinggal di gubuk-gubuk batu dan papan kayu yang kumuh, dengan lembaran seng bergelombang dan atap kanvas. Awalnya beberapa pengungsi curiga terhadap bangunan permanen yang dibangun oleh badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), karena mereka memiliki keyakinan bahwa mereka hanya akan mengungsi untuk sementara. Namun, bahkan ketika mereka telah menghilangkan gagasan tersebut, otoritas Lebanon membuat peraturan yang melarang bahan bangunan penting, seperti semen, memasuki kamp-kamp pengungsian. Mereka tidak mengizinkan para pengungsi membangun bangunan apa pun yang “tampak terlalu permanen.” Aturan ini seolah-olah dimaksudkan untuk “mendorong para pengungsi untuk kembali” – seolah-olah para pengungsi dapat mewujudkan keinginan mereka untuk kembali ke kampung halaman mereka di Palestina.

Selain aturan mengenai bangunan, Lebanon juga memberlakukan pembatasan ketat terhadap hak dasar para pengungsi Palestina untuk bekerja. Satu-satunya pekerjaan yang tersedia di luar kamp adalah buruh kasar. Krisis ekonomi yang terjadi baru-baru ini di Lebanon juga sangat berpengaruh terhadap perekonomian di Shatila. Di jalan raya utama Shatila, kios-kios menjual buah dan sayur, sepatu, pakaian, serta peralatan dapur dengan harga yang lebih murah dibandingkan tempat lain di Beirut. Setiap sudut yang tersedia di antara gedung-gedung di permukaan jalan telah diubah menjadi toko kelontong atau tempat gerobak yang menjual permen kepada anak-anak sekolah. Demikianlah cara penduduk Shatila berusaha mencari penghasilan untuk melanjutkan hidup mereka, meski barang-barang dagangan mereka dijual dengan harga sangat rendah.

Pasar di Shatila, dengan barang-barang yang dijual dengan harga sangat murah (The Guardian)

Layaknya luka terbuka yang dibungkus dengan kain basah, perihnya trauma penduduk Sabra dan Shatila seperti tidak pernah sembuh, bahkan terus membekas hingga generasi-generasi selanjutnya. “Orang-orang tua terus berbicara tentang sejarah pembantaian. Baiklah, mereka menderita, tetapi apa yang terjadi sekarang di kamp lebih buruk daripada pembantaian apa pun. Anak-anak muda meninggal karena narkoba. Satu generasi menyia-nyiakan hidup mereka karena narkoba dan kemiskinan,” kata seorang pemuda usia 20-an yang tidak disebutkan namanya. Tubuhnya kurus dengan mata yang selalu terlihat lelah. Ia mengatakan bahwa ia menghabiskan hari-harinya dengan melakukan tiga pekerjaan kasar, dan tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya di kamp.

“Kami bisa memberi Anda berbagai jenis narkoba di kamp ini ​​dan harganya jauh lebih murah daripada di Beirut,” kata pria tua yang mencari penghasilan dengan menjadi pengedar narkoba di Kamp Shatila. “Ada kokain, MDMA, heroin, ganja, dan segala jenis pil. Jenis yang lebih mahal diperuntukkan bagi orang-orang yang tinggal di kota. Anak-anak miskin di kamp membatasi diri pada sintetis yang lebih murah dan lebih manjur. Apa lagi yang bisa kami lakukan? Tidak ada pekerjaan di sini. Lihat anak-anak itu – begitu mereka meninggalkan kamp, ​​mereka akan diganggu oleh tentara dan polisi, jadi kami hanya duduk di sini,” kata pengedar itu. Wajahnya pucat di bawah cahaya neon yang terang. Sebagian besar giginya hilang, dan sisanya hitam dan busuk. “Kami punya ganja sebanyak yang Anda inginkan,” katanya. Dari saku di dalam jaketnya, dia mengeluarkan kerucut kertas kecil, membukanya untuk memperlihatkan sedikit obat herbal berwarna hijau pucat yang disebut salvia, dan mulai melinting ganja. “Itulah yang kami hisap di sini – murah dan membuat Anda lupa segala hal yang berada di sekitar Anda.”

Akan tetapi, di tengah kesedihan dan kesengsaraan kamp yang terlihat seperti tidak memiliki masa depan tersebut, tetap selalu ada secercah harapan. Di salah satu ruang bawah tanah, seorang gadis muda dengan rambut disanggul berdiri berjalan di antara barisan dua puluhan anak, sambil memeriksa pekerjaan rumah mereka. “Sekolah-sekolah UNRWA begitu padat sehingga anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Kami menjadi relawan di sini untuk membantu mereka belajar,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia tengah berada di tahun terakhirnya sebagai mahasiswa ilmu sosial di universitas. “Di sini, kami tidak punya pilihan selain belajar.”

Kata Penyintas Pembantaian Sabra-Shatila tentang Gaza: Gaza Lebih Buruk

Dua perempuan memeriksa jenazah korban Pembantaian Sabra dan Shatila (The Guardian)

Zaineb Saab mengunci pintu rumahnya dan tidak berani bersuara ketika pembantaian dimulai di Sabra dan Shatila. Saab mengatakan bahwa selama pembantaian, yang berlangsung selama tiga hari, dia mendengar tetangganya berteriak tetapi tidak ada suara tembakan. Sebagian besar korban dibantai dengan pisau. Lebih dari empat dekade kemudian, Saab dan para penyintas lainnya mengatakan pengeboman berkelanjutan Israel di Gaza telah memicu kembali munculnya kenangan terburuk mereka, menghidupkan kembali tragedi mengerikan di Sabra dan Shatila saat itu.

Pembantaian Sabra dan Shatila dianggap sebagai salah satu episode pembantaian paling mengerikan terhadap pengungsi Palestina sejak mereka diusir dari tanah air mereka pada tahun 1948. Namun, penduduk Sabra dan Shatila mengatakan bahwa apa yang mereka alami saat itu tidak sebanding dengan genosida yang terjadi di Gaza sekarang. Puluhan ribu nyawa dihabisi dalam waktu nyaris setahun, membuat lebih dari separuh penduduk Gaza mengungsi, meski tidak ada lagi tempat yang aman di Gaza. Sebagian besar rumah dan infrastruktur — sekolah, universitas, dan rumah sakit — telah rusak atau hancur total akibat pengeboman Israel sejak 7 Oktober. “Saat kami menyaksikan apa yang terjadi di Gaza, kami mengingat pembantaian di sini (Sabra dan Shatila). Namun, itu tidak sama. Gaza lebih buruk,” kata Saab.

Seorang penyintas Palestina lainnya, Abou Ahmed, mengatakan bahwa ia masih ingat dengan jelas mayat-mayat yang menumpuk di jalan-jalan sempit dan berliku di kamp Sabra dan Shatila. Ia menambahkan bahwa ia mempertaruhkan nyawanya untuk membawa para korban luka dengan tandu ke Dahiya, lingkungan terdekat di Beirut selatan. “Mereka membunuh semua orang dan melakukannya secara acak,” katanya kepada Al Jazeera dari rumahnya di Shatila. Abou Ahmed menambahkan bahwa jika bukan karena beberapa wartawan yang berani bersuara, maka tidak akan ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di Sabra dan Shatila.

Ia selalu percaya bahwa dengan lebih banyak orang mengetahui pembantaian sedang terjadi secara langsung, maka dunia akan campur tangan untuk berusaha menghentikannya. Namun, genosida yang sedang berlangsung di Gaza telah mengubah pikirannya, katanya. “Seluruh dunia memprotes, tetapi tidak ada yang menanggapi atau melakukan apa pun,” katanya kepada Al Jazeera. “Ini bukan pembantaian di Gaza. Ini adalah genosida,” kata Abou Ahmed, dari rumahnya di Shatila. “Ini adalah kekerasan terburuk yang pernah kita lihat dalam sejarah Palestina.”

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.

Sumber: 

https://www.aljazeera.com/news/2022/9/16/sabra-and-shatila-massacre-40-years-on-explainer

https://www.aljazeera.com/features/2023/10/24/israels-war-in-gaza-revives-sabra-and-shatila-massacre-memories-in-lebanon 

https://mondoweiss.net/2022/09/40-years-after-the-massacre-my-trip-to-sabra-shatila/ 

https://www.newarab.com/opinion/sabra-shatila-echoes-past-ongoing-palestinian-suffering

https://www.theguardian.com/world/2024/jan/18/shatila-refugee-camp-lebanon-generations-of-palestinians-lost-their-futures

https://adararelief.com/41-tahun-pembantaian-sabra-shatila-luka-lama-yang-tak-pernah-mengering/ 

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

ShareTweetSendShare
Previous Post

Adara Salurkan Bantuan Panel Surya: Solusi Energi Terbarukan untuk Menyediakan Akses Air Bersih di Gaza

Next Post

Otopsi Ungkap Penyebab Kematian Aktivis Turki Aysenur Eygi

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
21

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
15
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
19
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
24
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Otopsi Ungkap Penyebab Kematian Aktivis Turki Aysenur Eygi

Otopsi Ungkap Penyebab Kematian Aktivis Turki Aysenur Eygi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630