Commission of Detainees Affairs, Qadri Abu Bakar, mengumumkan bahwa terdapat empat kasus baru penderita kanker di antara tawanan. Ia mengumumkan hal tersebut pada jumpa pers di Ramallah hari Kamis (23/6) bersama Kementerian Kesehatan. Dengan penambahan empat kasus baru ini, jumlah tawanan pengidap kanker yaitu menjadi total 27 orang.
Meski demikian, Komisi menunjukkan bahwa perawatan di dalam penjara hampir tidak ada. Otoritas penjara bahkan mengusulkan kepada Knesset sebuah proyek yang menyerukan perawatan tawanan agar dilakukan dengan biaya sendiri. Fakta inilah yang terjadi dengan tawanan Israa Jaabis, yang harus menjalani operasi. Kurangnya pengobatan dan penolakan perizinan operasi pada akhirnya mengakibatkan penyebaran penyakit di antara para tawanan, seperti yang terjadi pada tawanan Nasser Abu Hamid.
Baca juga “Kondisi Kesehatan Tawanan yang Terkena Kanker, Memburuk” di sini
Sementara itu, kebijakan penambahan waktu kurungan/isolasi dan berbagai metode penyiksaan yang Israel terapkan, antara lain: pemukulan, sabotase bahan makanan, dan lain sebagainya, juga sangat mempengaruhi psikologi tawanan, terlebih bagi yang sakit.
Menteri Kesehatan, Mai Kaila, mengatakan jumlah tawanan yang sakit mencapai lebih dari 500 orang. Dari jumlah tersebut, diantaranya yaitu: 27 pasien kanker yang membutuhkan perawatan intensif dan tindak lanjut, 11 pasien penyakit ginjal, 8 orang cacat, dan puluhan orang dengan penyakit kronis.
Menteri Mai Kaila juga menjelaskan bahwa tawanan Israa Jaabis membutuhkan beberapa kali operasi berturut-turut dan Fouad Shobaki yang menderita kanker prostat. Ratusan tawanan telah menderita kelalaian medis dengan unsur kesengajaan, dengan tujuan secara perlahan untuk membunuh mereka. Ini adalah kejahatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan dapat dihukum oleh hukum internasional. Ia menuntut agar dokter Palestina Israel izinkan untuk memeriksa para tawanan di dalam penjara karena kesengajaan kelalaian tadi. Dengan demikian, staf medis juga dapat menyediakan obat-obatan untuk mengobati mereka.
Namun hingga saat ini, otoritas penjara masih terus menolak permintaan Palestina untuk perizinan masuk dokter yang akan memeriksa dan memberikan perawatan pada tawanan.
Sumber:
https://www.palinfo.com/308552
https://www.alaraby.co.uk/society/الاحتلال–يواصل–رفض–دخول–أطباء–إلى–السجون–لفحص–الأسرى–المرضى
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








