Seorang dokter Palestina yang diculik oleh pasukan Israel dari Rumah Sakit al-Shifa Kota Gaza telah meninggal dalam tahanan, kata Kementerian Kesehatan Palestina pada Rabu (18/9).
Ziad Mohammed al-Dalou, seorang dokter penyakit dalam, adalah dokter ketiga yang meninggal di penjara Israel, tempat penyiksaan dilakukan secara luas dan menewaskan sedikitnya 60 tawanan Palestina selama 11 bulan terakhir.
Dalou ditahan pada 18 Maret dari Rumah Sakit al-Shifa, bersama dengan puluhan pekerja kesehatan lainnya, ketika pasukan Israel menyerbu fasilitas tersebut dalam serangan selama dua pekan.
Serangan mematikan itu menghancurkan rumah sakit, yang sebelumnya merupakan fasilitas medis terbesar dan terlengkap di Jalur Gaza. Setelah pasukan Israel mundur, puluhan mayat ditemukan terkubur di kuburan massal di halaman rumah sakit.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, Dalou ditangkap saat menjalankan tugasnya di rumah sakit.
“Kementerian mengutuk kejahatan keji terhadap petugas kesehatan Palestina ini,” kata kementerian tersebut.
“Menargetkan petugas kesehatan saat menjalankan tugas kemanusiaan merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.”
Beberapa hari lalu, Kementerian Kesehatan menerima informasi bahwa seorang paramedis bernama Hamdan Annaba tewas pada hari yang sama saat ia diculik dari Gaza. Ia ditahan di pos pemeriksaan Netzarim di Gaza pada 2 Desember 2023 saat mengawal warga yang sakit dan terluka.
Pada April, terungkap kabar bahwa Adnan al-Bursh, seorang dokter bedah Palestina dan profesor kedokteran ortopedi, telah dibunuh melalui penyiksaan saat berada dalam penahanan Israel.
Bursh, yang mengepalai kedokteran ortopedi di Rumah Sakit al-Shifa, ditangkap pada Desember dari Rumah Sakit al-Awda di Gaza utara setelah menolak meninggalkan pasien yang terluka dalam pengeboman Israel.
Dua bulan kemudian, dipastikan bahwa dokter lain, Iyad al-Rantisi, juga meninggal karena penyiksaan oleh penjaga Israel. Rantisi, yang merupakan direktur departemen bersalin di Rumah Sakit Kamal Adwan, meninggal tak lama setelah ia ditahan oleh pasukan penyerang pada November. Dia ditangkap saat bepergian dari Gaza utara ke selatan bersama keluarganya, dalam keadaan mengenakan pakaian operasi, dan mematuhi “koridor aman” yang ditetapkan Israel.
Pasukan Israel telah menculik lebih dari 300 dokter dan tenaga kesehatan lainnya dari seluruh Jalur Gaza sejak 7 Oktober tahun lalu. Seperti ribuan warga sipil Palestina lainnya yang diculik dari Gaza, mereka telah dihilangkan secara paksa dan otoritas Israel gagal mengungkapkan keberadaan mereka.
Mantan tawanan Palestina melaporkan bahwa pasukan Israel secara khusus menargetkan dokter untuk mendapatkan perlakuan kejam di tahanan.
Selain penahanan sewenang-wenang dan penyiksaan terhadap para dokter, pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 1.151 pekerja kesehatan sejak agresi di Gaza dimulai, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Korban tewas meliputi sedikitnya 165 dokter, 260 perawat, 300 personel manajemen dan pendukung, 184 profesional asosiasi kesehatan, 76 apoteker, dan 12 pekerja kesehatan lainnya.
Militer Israel juga dituding sengaja menghancurkan sistem kesehatan Gaza melalui serangan terus-menerus terhadap rumah sakit, ambulans, dan dokter. Ini termasuk serangan udara, penahanan, dan penolakan peralatan medis, menyusul serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








