Zaitun, Baju Zirah di Sekitar Bumi Palestina #Part 1 – Andai pohon zaitun itu ingat siapa penanamnya pasti minyaknya akan jadi air mata.
Andai pohon zaitun itu ingat siapa penanamnya
pasti minyaknya akan jadi air mata.
Wahai kebijakan nenek moyang
andai saja (zaitun) berasal dari daging kami,
kami berikan baju zirah
Puisi ini merupakan karya Mahmoud Darwish, salah satu penyair terbaik dari Palestina. Puisi ini ia buat ketika mengingat hutan-hutan zaitun yang ia lewati saat terpaksa mengungsi bersama keluarganya akibat pengusiran yang dilakukan Zionis pada Nakba 1948. Di dalam kalimat “pasti minyaknya akan jadi air mata”, Darwish menggambarkan kesedihan yang dirasakan oleh dirinya dan seluruh penduduk Palestina yang terpaksa pergi meninggalkan tanah airnya sendiri akibat penjajahan Zionis Israel. Zaitun memiliki kedudukan khusus di hati orang Palestina sebab itulah kenangan yang ia bisa ingat dari tanah kelahirannya. Istimewanya zaitun bagi Mahmoud Darwish membuatnya memberikan judul Daun-Daun Zaitun untuk antologi puisi pertamanya.
Zaitun adalah tanaman yang akarnya telah menyatu dengan bumi Palestina. Sudah sejak lama zaitun telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa yang terjadi di Palestina. Pohon yang sudah ada di Palestina sejak 5000 tahun yang lalu ini menjadi salah satu bukti sejarah bahwa tanah Palestina bukanlah tanah tak berpenghuni. Zaitun bukanlah pohon liar sebab pertumbuhannya membutuhkan perawatan khusus yang menjadi tanda bahwa ada penduduk yang mendiami wilayah Palestina sejak waktu yang sangat lama. Keberadaan zaitun juga membantah pernyataan yang mengatakan bahwa Palestina adalah “tanah tanpa orang untuk orang tanpa tanah (Yahudi).”[1]

Bagi penduduk Palestina, zaitun bukan sekadar tanaman. Zaitun adalah identitas, simbol dari tanah Palestina. “Zaitun itu saudara perempuan yang abadi kelembutannya dan bagaikan tetangga yang menyimpan minyak kemilau sepanjang masa,” demikian kalimat indah dari Mahmoud Darwish ketika mendefinisikan zaitun. Tanaman dari tanah yang diberkahi yang memiliki ribuan manfaat dari generasi ke generasi.
Eksistensi zaitun memiliki peran yang penting bagi penduduk Palestina. Keberadaannya mendatangkan keberkahan, menjadi sumber rezeki bagi 80.000 hingga 100.000 keluarga Palestina. Jika satu zaitun ditanam hari ini, pohonnya baru berbuah sekitar sepuluh tahun lagi, yang artinya bisa dimanfaatkan oleh generasi selanjutnya. Walaupun pertumbuhannya lambat, zaitun adalah simbol ketidakegoisan penduduk Palestina. Tanpa memedulikan proses berbuahnya yang cukup lama, penduduk Palestina tetap menanam zaitun karena memikirkan keturunan-keturunan mereka kelak. Mungkin buahnya belum bisa dirasakan sekarang, tetapi hasil perjuangan mereka bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang.[2]
Hampir setengah dari semua lahan pertanian di Gaza dan di Tepi Barat yang diduduki, ditanami sekitar 10 juta pohon zaitun yang bisa dipanen pada Oktober – November setiap tahunnya. Menurut Pusat Perdagangan Palestina, atau PalTrade, sektor zaitun bernilai antara $160 juta dan $191 juta di tahun-tahun yang baik. Kegubernuran Jenin, Tubas dan Lembah Utara adalah wilayah yang memproduksi minyak zaitun dengan jumlah tertinggi yaitu 10.442 ton, diikuti oleh Tulkarm 6.031 ton dan Gaza 5.582 ton. Pada 2019, sekitar 177.000 ton buah zaitun diperas, menghasilkan 39.600 ton minyak zaitun – kira-kira 30.000 liter (7.925 galon) menurut Biro Pusat Statistik Palestina.

Sumber : https://www.aljazeera.com/news/2021/10/14/infographic-palestines-olive-industry
[1] Notulensi International Conference on Palestine Kuala Lumpur (ICPKL) dengan tema “Palestina, Budaya dan Warisan Ribuan Tahun” pada Sabtu, 27 Maret 2012.
[2] Ibid.
Baca Zaitun, Baju Zirah di Sekitar Bumi Palestina #Part 2 disini








