Musim terus berganti, namun penderitaan penduduk Gaza masih tak berujung. Ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi akibat genosida tidak memiliki pilihan lain selain harus tinggal di tenda-tenda darurat ataupun bangunan sementara yang rusak di tengah cuaca dingin dan hujan yang turun terus menerus. Banyak keluarga kekurangan selimut, perlengkapan pemanas, dan pakaian musim dingin, sementara suhu terus menurun. Kombinasi suhu dingin ekstrem, hujan lebat, badai, serta standar hidup yang terus memburuk akibat blokade yang terus berlanjut telah meningkatkan krisis kemanusiaan secara signifikan di seluruh Gaza.
Kenyataan pahit ini juga harus dihadapi oleh anak-anak dalam Program Dekap Yatim Palestina di Gaza. Bukan hanya menderita karena telah kehilangan sang ayah dan terdampak genosida, namun anak-anak ini kini harus berjuang di tengah badai dan kedinginan. Sejak 15 November 2025, tim lapangan Adara telah berupaya mencapai mereka guna menyalurkan bantuan rutin dari Sahabat. Meskipun harus menemui mereka dalam kondisi yang rentan, namun alhamdulillah sebanyak total 2.002 anak program DYP yang tersebar di seluruh wilayah Gaza dapat kami temui dan salurkan bantuannya.
Di Mana Mereka Bertahan? Potret Sebaran Lokasi Anak Yatim dan Kondisi Terkini di Penjuru Gaza
Memasuki bulan November dan Desember 2025, sebanyak 2.002 anak yatim di bawah naungan Program Dekap Yatim Palestina tersebar di berbagai titik pengungsian yang sangat rentan. Berikut adalah rincian sebaran lokasi dan situasi darurat yang mereka hadapi:
| Nama Lokasi | Jumlah Anak Yatim | Situasi dan Kondisi |
| Deir Balah | 335 |
|
| Gaza City | 411 |
|
| Khan Younis | 388 |
|
| Rafah | 220 |
|
| Gaza Utara | 181 |
|
| Jabalia | 163 |
|
| Beit Lahia | 67 |
|
| Nuseirat | 90 |
|
| Beit Hanoun & Al-Maghazi | 81 & 66 |
|
Realita Kehidupan di Pengungsian: Antara Krisis Kesehatan dan Harapan Hidup
Di tengah puing-puing bangunan dan tenda-tenda pengungsian yang rapuh, ribuan anak yatim di Gaza kini menjalani realita kehidupan yang amat berat. Di satu sisi, mereka terjepit dalam krisis kesehatan yang mengkhawatirkan akibat malnutrisi dan ancaman hipotermia yang kian nyata seiring datangnya musim dingin ekstrem. Namun di sisi lain, mereka tetap bermain dan belajar, meski dengan ruang dan fasilitas yang sangat terbatas. Berikut beberapa kondisi yang dapat disimpulkan terkait kondisi yatim Gaza saat ini menurut hasil pengamatan tim lapangan.
- Realita harian anak-anak masih berfokus pada keberlangsungan hidup mendasar
Anak-anak yatim di Gaza tinggal dalam kondisi yang sangat tidak stabil di kamp pengungsian atau reruntuhan bangunan, sehingga aktivitas harian mereka masih berfokus pada kelangsungan hidup dasar, seperti mencari makanan, air minum, dan bantuan penting. Anak-anak juga tetap bermain, meskipun di ruang yang terbatas dan di antara cuaca dingin, hujan dan banjir.
- Kondisi kesehatan masih genting, mengalami malnutrisi dan sering sakit, sementara akses perawatan medis terbatas.
Kondisi kesehatan anak-anak yatim di Gaza saat ini masih berada dalam status yang sangat memprihatinkan. Mereka harus berjuang melawan ancaman malnutrisi parah dan serangan berbagai penyakit yang datang silih berganti. Kurangnya asupan gizi yang memadai membuat daya tahan tubuh mereka melemah secara drastis, sementara lingkungan pengungsian yang keras kian memperburuk kondisi fisik mereka. Situasi ini menjadi semakin kritis akibat terbatasnya akses layanan perawatan medis, sehingga bantuan kesehatan yang sangat dibutuhkan sering kali tak terjangkau dan mengancam keselamatan serta perkembangan masa depan mereka secara permanen.
- Mengalami perubahan kondisi Pendidikan, Kesehatan, dan Psikologis
Di tengah hancurnya gedung-gedung sekolah yang memutus akses pendidikan formal bagi mayoritas anak, program pendidikan darurat yang ada tetap berupaya menjaga nyala literasi dengan menunjukkan kemajuan kecil pada kemampuan membaca dan menulis sebagian anak yatim. Namun, perkembangan ini dibayangi oleh krisis psikologis dan kesehatan yang mendalam. Kehilangan orang tua serta lingkungan yang tidak aman telah meninggalkan luka batin berupa stres, kecemasan, dan trauma yang sangat berat. Perubahan kondisi ini menegaskan bahwa selain pemulihan sarana belajar, dukungan kesehatan mental dan penanganan medis yang intensif menjadi kunci utama untuk menyelamatkan perkembangan jangka panjang anak-anak Gaza yang kian terhimpit oleh malnutrisi dan keterbatasan akses perawatan.
Ikhtiar Menjaga Nyala Harapan: Urgensi Pendampingan Berkelanjutan bagi Yatim Palestina
Di tengah blokade, serangan, dan cuaca ekstrem yang tak kenal ampun, upaya menyelamatkan masa depan generasi muda Palestina di Gaza kini berada pada titik krusial. Realita di lapangan menunjukkan bahwa selain bantuan darurat, anak-anak Gaza terutama para yatim membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Program Dekap Yatim Palestina hadir bukan sekadar untuk memberikan bantuan semata, melainkan sebagai benteng terakhir bagi 2.002 anak yatim untuk tetap teguh bertahan di atas tanah air tercinta.
Kehilangan sosok pelindung di tengah kecamuk perang meninggalkan luka yang sulit terlukiskan bagi anak-anak ini. Hal ini tersirat dari pengakuan Ahmed Saber Mohammed Abu Jaziya, salah satu anak yatim di Gaza yang kini berjuang di tengah keterbatasan.
“Perang mencuri kebahagiaanku bahkan sebelum aku tumbuh besar. Ayah sudah tidak ada, dan hidupku jadi sulit. Untungnya, ada bantuan dari Orangtua Asuh di Indonesia yang bantu aku supaya bisa tertawa lagi dan kasih aku selimut serta baju hangat. Kebaikan kalian benar-benar jadi penyemangat buat aku dan teman-teman di sini,” ungkap Ahmed dengan penuh haru.
Tantangan operasional memang nyata, mulai dari infrastruktur yang hancur hingga ancaman keamanan yang terus mengintai tim di garis depan. Namun, sebagaimana misi yang diemban Adara Relief International, merawat anak-anak ini adalah prioritas kemanusiaan yang mutlak. Pendampingan ini menjadi krusial karena luka yang mereka alami bukan sekadar fisik, melainkan trauma psikologis yang membutuhkan pemulihan panjang. Alma Musab Atiya Al-Huwaiti, seorang anak yatim yang juga menjadi korban luka dalam serangan, menceritakan kerinduannya yang sederhana akan kedamaian.
“Saya terluka saat perang; luka saya kecil, tapi penderitaan saya mendalam. Ayah Ibu orangtua asuh menyediakan makanan dan perlengkapan musim dingin agar kami terlindungi dari dingin. Saya berharap bisa hidup seperti anak-anak lain—bermain, tertawa, dan sekolah tanpa rasa takut,” tutur Alma, menggambarkan harapan besar yang ia gantungkan pada kebaikan Sahabat Adara.
Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa keberlanjutan dukungan Sahabat Adara para Orang Tua Asuh Dekap Yatim Palestina adalah napas bagi perjuangan mereka. Setiap kontribusi yang Sahabat berikan bukanlah sekadar bantuan finansial, melainkan investasi nyata untuk memastikan tak ada lagi tawa anak yatim yang hilang ditelan badai.
Mari terus dekap mereka, pastikan perlindungan dan harapan ini tidak terputus di tengah jalan.








