“Kelaparan tidak menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun. Jika ia datang, ia akan membunuhmu dan anak-anakmu. Begitulah aku selalu membayangkannya: sebagai pembunuh yang tidak terlihat,” kata Abdullatif. “Aku mengkhawatirkan anak-anakku.”
Yaman telah berada dalam cengkeraman konflik mematikan selama delapan tahun, menyebabkan hampir 400.000 warga sipil tewas dan 4,2 juta orang mengungsi. Konflik ini juga menghancurkan infrastruktur negara–mengubah jalan, jembatan, dan rumah sakit Yaman menjadi puing-puing, merampas pekerjaan dan masa depan penduduk Yaman, serta menyebabkan kelaparan berkepanjangan. Pada akhir 2021, UNDP melaporkan bahwa dari 377.000 kasus kematian di Yaman, hampir 60% di antaranya disebabkan oleh sulitnya akses terhadap makanan, minuman, dan kesehatan.
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) melaporkan pada September 2022 bahwa kebanyakan orang Yaman bertahan hidup dengan satu kali makan dalam sehari. Tahun lalu, sebanyak 53 persen penduduk Yaman mengalami rawan pangan. Jumlah ini meningkat menjadi 63 persen pada tahun ini–atau sekitar 19 juta orang. Kenaikan jumlah penduduk Yaman yang mengalami kerawanan pangan pada tahun ini menyebabkan dilakukannya pemotongan bantuan penyediaan nutrisi harian hingga lebih dari 50 persen terhadap 5 juta orang karena bantuan yang tersedia harus didistribusikan kepada lebih banyak orang.
Program Pangan Dunia (WFP) yang merupakan cabang bantuan makanan dari PBB yang menangani kelaparan dan meningkatkan ketahanan pangan, menyatakan bahwa tingkat kekurangan gizi anak di Yaman adalah salah satu yang tertinggi di dunia dan situasi gizi mereka terus memburuk. Sebuah survei baru-baru ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga keluarga di Yaman, nyaris tidak pernah mengonsumsi makanan seperti kacang-kacangan, sayuran, buah, produk susu, atau daging. Tingkat malnutrisi di kalangan perempuan dan anak-anak di Yaman tetap termasuk yang tertinggi di dunia, dengan 1,3 juta wanita hamil atau menyusui dan 2,2 juta anak di bawah 5 tahun yang membutuhkan perawatan akibat malnutrisi akut.
Di Maghrabah, sebuah distrik terpencil di Provinsi Hajjah di Yaman utara, banyak keluarga yang terpaksa memakan daun berlapis lilin dari pohon lokal untuk dapat bertahan hidup. Mereka merebusnya untuk melunakkannya agar lebih mudah dicerna. Daun yang rasanya pahit tersebut digambarkan sebagai pilihan terakhir bagi orang-orang yang tidak memiliki akses ke makanan bergizi untuk menopang diri mereka sendiri.
Abdullatif, 35, memasak daun untuk memberi makan keluarganya di distrik Maghrabah di provinsi Hajjah. Foto: WFP/Mohammed Awadh
“Terkadang saya berpikir akan mati tanpa makanan. Terkadang, kami mendapat sedikit makanan dari tetangga, tetapi ada malam-malam yang harus kami lewati dengan rasa lapar yang luar biasa,” kata Abdullatif, seorang penduduk di Maghrabah. “Ketika ini terjadi, kami harus makan daun. Pohon itu tumbuh di desa kami dan banyak dari kami yang memakan daunnya karena kami kekurangan makanan.”
Apa yang dirasakan oleh Abdullatif, serupa dengan apa yang dirasakan oleh Umm Zakaria Al-Sharaabi di Sana’a, Ibu Kota Yaman. Dari dapurnya yang kosong, ia terus memutar otaknya untuk menemukan jawaban tentang bagaimana cara agar ia dapat memberi makan 18 anggota keluarga besarnya yang tinggal bersama. “Beginilah keadaan kami setiap hari. Dapur kami kosong. Hampir selalu seperti ini,” katanya. Umm Hani, mertuanya, menimpali bahwa jika pun mereka hanya memiliki tiga potong roti, maka itu harus dibagi dan dimakan dengan saus tomat atau apa pun yang tersedia.
Menurut Laporan Krisis Pangan Global FAO 2022, penyebab tingginya angka kelaparan adalah konflik, krisis kesehatan, dan perubahan iklim. Ketiga hal ini dialami oleh Yaman. Perang saudara yang masih berlangsung dengan intervensi koalisi militer negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi adalah salah satu episode terpahit sejarah Yaman. Sementara itu, gencatan senjata yang telah disepakati selama enam bulan, dan berakhir pada awal Oktober, belum mampu menanamkan kepercayaan di antara pihak yang bertikai untuk kembali melakukan gencatan senjata.
Kedua belah pihak yang bertikai sama-sama frustrasi dengan implementasi gencatan senjata. Pemerintah yang didukung Saudi menyalahkan Houthi karena tidak membuka kembali jalan utama di Taizz yang disengketakan. Sementara milisi Houthi yang didukung Iran menuduh koalisi Arab tidak mengirimkan kapal bahan bakar ke Hodeidah dan penerbangan dari Ibu Kota Sana’a yang disepakati sebelumnya.
Gencatan senjata berakhir pada 2 Oktober dan belum diperbarui, meskipun ada upaya oleh PBB agar pihak-pihak yang bertikai menandatangani kesepakatan baru. Impor bahan bakar ke Hodeidah, pelabuhan masuk utama untuk bahan bakar dan barang-barang lainnya ke Yaman, telah meningkat sejak dimulainya gencatan senjata pada April lalu. Hal ini secara positif mempengaruhi mata pencaharian warga Yaman dan menstabilkan harga barang-barang penting. Selama gencatan senjata, jumlah kematian warga sipil menurun 60 persen, dan jumlah orang yang mengungsi juga turun hampir setengahnya, menurut PBB.
Meskipun tidak ada peningkatan besar dalam kekerasan sejak gencatan senjata berakhir, pemberontak Houthi telah mengancam akan menyerang perusahaan minyak yang beroperasi di Arab Saudi, UEA, dan Yaman. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompok itu siap untuk pertempuran lagi. Sementara itu, pemerintah Yaman bersikeras bahwa pertempuran adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan Houthi. Harapan penduduk Yaman untuk tidak lagi mendengar letusan atau dentuman senjata, seperti berhenti di awang-awang.
Seiring dengan derita yang dialami rakyat Yaman, kondisi lingkungannya juga menghadapi situasi buruk akibat perubahan iklim dan krisis yang berkepanjangan. Yaman sudah menghadapi risiko banjir, kekeringan, dan badai pasir yang hebat, tetapi kerusakan lebih lanjut ditimbulkan oleh lonjakan deforestasi (penggundulan hutan) dan desertifikasi (penggurunan) yang didorong oleh krisis.
Kekurangan bahan bakar yang parah akibat blokade daerah yang dikuasai Houthi dan pembatasan impor ke Pelabuhan Hodeidah, sebelum diberlakukannya gencatan senjata, telah memaksa orang dan perusahaan untuk menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar. Lebih dari 5 juta pohon telah ditebang sejak 2018–dengan lebih dari 889.000 pohon ditebang setiap tahun untuk bahan bakar toko roti dan rumah makan di Ibu Kota, Sana’a, saja.
Seorang pedagang membawa kayu ke pasar kayu bakar di Sana’a dan seorang anak sedang membelah kayu dengan palu godam di Distrik Khamis Banisaad, provinsi Al-Mahweet (Reuters)
Hal tersebut memunculkan gelombang deforestasi, yang dampaknya kemungkinan besar akan menghancurkan pembangunan jangka panjang Yaman. Tuntutan tersebut, ditambah dengan tingginya angka pengangguran, membuat banyak petani yang lahannya tidak lagi dapat ditanami, beralih ke penebangan untuk menghidupi diri mereka sendiri.
“Perubahan iklim adalah salah satu masalah paling mendesak di zaman kita dan seringkali mereka yang berkontribusi paling sedikit menanggung beban terberat dari dampak buruknya. Yaman tidak terkecuali. Perubahan iklim memperburuk krisis kemanusiaan di negara ini,” kata Ammar Abdulbaset Nagi Aldumini dari Islamic Relief Yaman.
Dalam rangka menghentikan deforestasi, mengurangi dampak perubahan iklim, dan kembali memulai langkah untuk kemandirian pangan, penghentian konflik yang sedang berlangsung terlebih dahulu harus disepakati oleh semua pihak yang terlibat. Berakhirnya konflik akan memungkinkan warga Yaman untuk mengakses bahan bakar yang mereka butuhkan – hanya dengan begitu Yaman dapat berada dalam posisi untuk mengambil langkah-langkah untuk mendukung produksi pertanian, mengurangi kemiskinan, dan keluar dari bencana kelaparan.
Kelaparan memang telah menyita segalanya dari penduduk Yaman, termasuk kehidupan dan masa depan mereka. Namun, apa yang sebenarnya harus diselesaikan dan diakhiri adalah perebutan kepentingan yang pada akhirnya selalu mengorbankan warga sipil lebih banyak lagi, sebab sebelum perdamaian menyapa Yaman, ketakutan akan kelaparan akan terus mengintai keluarga di sana. (LMS)
Sumber:
Azra, Azyumardi. (2021). “Tragedi Yaman: Bagian 1 dan 2.” https://www.uinjkt.ac.id/?s=tragedi+yaman
Bryan, Elizabeth. (2022). “Yemen: Looking Beyond Today’s Hunger Crisis.”
https://www.wfp.org/stories/yemen-looking-beyond-todays-hunger-crisis
Symngton, Anabel. (2021). “Families Resort to Cooking Tree Leaves as Famine-like Conditions Grip Yemen” https://www.wfp.org/stories/famine-conditions-yemen-force-families-eat-tree-leaves
https://www.aljazeera.com/news/2022/10/7/end-yemen-truce-leaves-civilians-afraid-dark-days-back
https://www.#/20221006-in-an-empty-kitchen-yemeni-family-struggles-with-hunger/
https://news.un.org/en/story/2022/09/1126771
https://www.omct.org/site-resources/images/Torture-in-slow-motion.pdf
https://www.plenglish.com/news/2022/10/01/hunger-situation-worsens-at-alarming-rate-says-fao/
https://reliefweb.int/report/yemen/yemen-s-climate-crisis-threatening-lives-livelihoods-and-culture
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








