Sistem kesehatan di Jalur Gaza kini berada di ambang kehancuran total. Rumah sakit kehabisan darah, pasien kritis tak mendapat penanganan, dan ribuan warga—terutama anak-anak—meninggal akibat serangan militer dan kelaparan yang disengaja. Sementara itu, blokade Israel terus menghalangi masuknya bahan bakar, pasokan medis, dan tenaga kesehatan yang sangat dibutuhkan.
Pejabat kesehatan di Gaza melaporkan bahwa bank darah hampir kosong karena banyak warga yang terlalu kekurangan gizi hingga tidak layak menjadi donor. “Kami melihat orang-orang memohon untuk menyumbangkan darah bagi orang tercinta, tetapi mereka harus ditolak karena kekurangan nutrisi dan dehidrasi,” ujar jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, dari Gaza City. Kepala bank darah di Rumah Sakit al-Shifa, Amani Abu Ouda, menambahkan bahwa donor yang kekurangan gizi dapat pingsan dalam hitungan detik setelah mendonorkan darah, sehingga membahayakan keselamatan mereka sendiri, selain juga darah yang disumbangkan menjadi tidak dapat digunakan.
Di tengah kelumpuhan sistem medis, lebih dari 14.800 pasien Gaza masih membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia di wilayah tersebut. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyerukan kepada komunitas internasional untuk mempercepat evakuasi medis ke luar negeri. WHO telah memfasilitasi evakuasi 15 anak yang sakit parah ke Yordania, tetapi jumlah itu sangat kecil dibandingkan dengan skala krisis yang ada.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 61.000 warga Palestina telah terbunuh dalam agresi Israel di Gaza. Serangan udara dan darat tidak hanya membunuh ribuan orang tetapi juga menghancurkan hampir seluruh infrastruktur sipil, termasuk pusat-pusat kesehatan, tempat pengungsian, dan fasilitas pangan. Menurut laporan gabungan FAO dan pusat satelit PBB, hanya 8,6% lahan pertanian Gaza yang masih dapat diakses, dan hanya 1,5% yang tidak mengalami kerusakan.
Krisis kelaparan pun semakin parah. Sebanyak 193 warga Palestina, termasuk lima orang dalam 24 jam terakhir, telah meninggal akibat kelaparan, dan lebih dari 1.560 orang terbunuh saat berusaha memperoleh bantuan makanan. Banyak dari mereka ditembak ketika mendekati truk-truk bantuan yang dioperasikan oleh GHF, badan yang didukung Israel dan AS. GHF dikritik oleh para pakar HAM PBB karena dinilai mengeksploitasi bantuan kemanusiaan untuk agenda militer.
Situasi semakin genting karena Israel juga terus melarang masuknya tenaga medis. Sejak Maret 2025, lebih dari 100 petugas kesehatan, termasuk ahli bedah dan staf spesialis, telah ditolak masuk ke Gaza. Blokade juga memengaruhi ketersediaan bahan bakar sehingga menghambat operasional rumah sakit. “Lebih dari 100 bayi prematur kini berada dalam kondisi sangat berisiko karena kekurangan bahan bakar,” ujar Farhan Haq, juru bicara PBB.
Sumber:
https://www.aljazeera.com/news/2025/8/6/dire-blood-shortage-in-gaza-as-deaths-from-israeli-attacks-starvation-grow#:~:text=More%20than%2014%2C800%20patients%20in,international%20community%20to%20act%20swiftly.
https://www.#/20250803-israeli-strike-on-red-crescent-headquarters-in-gaza/







