Seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (26/8) memperingatkan bahwa evakuasi Kompleks Medis Nasser (NMC) di Gaza, yang diserang Israel sehari sebelumnya, akan menjadi “bencana besar” bagi sistem kesehatan yang sudah lumpuh.
“Saya tidak ingin membayangkan dampaknya jika RS Nasser tidak lagi berfungsi. Itu akan menjadi bencana di luar batas bagi sistem kesehatan yang sudah rapuh dan rakyat yang menderita,” kata Rik Peeperkorn, perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, kepada Anadolu.
Ia menegaskan bahwa tidak ada rencana evakuasi dan hal itu “tidak boleh terjadi,” mengingat RS Nasser merupakan rumah sakit rujukan terbesar di Gaza dengan peran yang sangat krusial. “Serangan terhadap RS Nasser kemarin benar-benar tidak dapat diterima,” tegasnya. Peeperkorn juga menyebut tingkat hunian rumah sakit itu telah mencapai 300%, dan WHO terus memberikan dukungan medis sebisa mungkin.
Menurut tenaga medis, sedikitnya 47 warga Palestina, termasuk enam jurnalis, terbunuh pada Senin (25/8) dalam serangan Israel terbaru di Jalur Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza awalnya melaporkan 20 korban jiwa, termasuk lima jurnalis dan seorang pemadam kebakaran, akibat serangan di RS Nasser di Khan Younis, Gaza selatan.
Militer Israel menghantam lantai empat salah satu gedung kompleks dengan dua serangan udara. Serangan kedua terjadi ketika tim penyelamat berusaha mengevakuasi korban luka dan mengevakuasi jenazah.
Beberapa jurnalis yang terbunuh antara lain Hussam al-Masri, jurnalis foto Reuters; Mohammad Salama, fotografer Al Jazeera; Mariam Abu Daqqa; Moaz Abu Taha; serta Ahmed Abu Aziz, reporter lepas untuk media Tunisia dan Maroko.
Sumber:
Anadolu Agency, MEE






