Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan keprihatinan mendalam atas lambatnya laju evakuasi medis bagi warga Palestina di Gaza, khususnya ribuan anak-anak yang sakit kritis. WHO memperingatkan bahwa dengan laju evakuasi seperti sekarang, akan dibutuhkan lima hingga sepuluh tahun untuk menyelesaikan penumpukan antrean pasien yang memerlukan perawatan mendesak.
Dari 12.000 pasien yang membutuhkan evakuasi segera, hanya 78 orang yang berhasil dipindahkan dalam waktu dekat ini, termasuk 2.500 anak yang menghadapi risiko kematian selama masa tunggu yang berlangsung berbulan-bulan. UNICEF mencatat beberapa anak telah meninggal dunia akibat penundaan evakuasi.
Sejak agresi dimulai pada Oktober 2023, WHO melaporkan bahwa sekitar 5.230 pasien berhasil dievakuasi. Namun, laju ini menurun drastis setelah Mei 2024 ketika Israel mengambil alih kontrol perbatasan Rafah menuju Mesir, menutup akses tersebut, dan membatasi jumlah evakuasi menjadi rata-rata kurang dari dua orang per hari.
Proses evakuasi sering kali menghadapi kendala berupa “alasan keamanan” yang tidak jelas. Médecins Sans Frontières (MSF) mengkritik taktik Israel sebagai tindakan sewenang-wenang, tanpa kriteria atau logika yang jelas. Pada Agustus 2024, MSF mengajukan permohonan untuk mengevakuasi 32 anak beserta pendampingnya, tetapi hanya enam permintaan yang disetujui.
Kasus serupa terjadi pada November 2024 ketika delapan anak diajukan untuk evakuasi, termasuk seorang anak berusia dua tahun yang telah diamputasi kakinya. Namun, hanya lima anak yang disetujui, sementara pendamping mereka ditolak karena alasan keamanan.
Pejabat Israel berdalih bahwa mereka menyaring pasien dan pendamping berdasarkan hubungan dengan aktivitas yang dianggap “terorisme”. Sementara itu, COGAT, badan militer Israel yang menangani urusan kemanusiaan Palestina, mengklaim telah berusaha memfasilitasi evakuasi sesuai dengan prosedur keamanan.
Krisis kesehatan di Gaza diperparah dengan serangan langsung terhadap fasilitas medis. Pada Jumat (06/12), salah satu dari sedikit rumah sakit yang masih berfungsi, Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara, menjadi target serangan udara Israel tanpa peringatan. Serangan tersebut membunuh empat staf medis dan melukai banyak lainnya. Menurut Direktur Rumah Sakit, Dr. Hussam Abu Safia, serangan tersebut mencakup pengeboman intens di sisi utara dan barat rumah sakit.
Serangan ini hanya menambah daftar panjang kekerasan Israel yang telah membunuh lebih dari 46.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, sejak Oktober 2023. Setidaknya 11.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang di bawah reruntuhan akibat kehancuran besar-besaran infrastruktur sipil.
Kondisi ini semakin mendesak campur tangan komunitas internasional untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia di Gaza. Namun, hingga kini, upaya untuk membuka jalur evakuasi medis yang lebih efektif tetap terhambat oleh blokade dan strategi Israel yang represif.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








