Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) mengumumkan bahwa mereka telah menjangkau sekitar 1 juta warga di Jalur Gaza dengan paket bantuan pangan selama tiga setengah pekan sejak gencatan senjata dimulai. Namun, badan pangan PBB tersebut menegaskan bahwa jumlah itu masih jauh dari cukup untuk mengatasi kelaparan yang meluas tanpa adanya akses yang lebih besar dan pembukaan lebih banyak jalur perbatasan.
“Selama tiga setengah pekan masa gencatan senjata di Gaza, kami telah menyalurkan paket bantuan pangan kepada sekitar 1 juta orang di seluruh Jalur Gaza,” ujar juru bicara WFP, Abeer Etefa, dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa angka tersebut masih di bawah target 1,6 juta penerima bantuan. “Pasokan masih sangat terbatas, sehingga setiap keluarga hanya menerima satu paket bantuan yang hanya cukup untuk kebutuhan pangan selama sepuluh hari,” jelasnya. Etefa menambahkan bahwa ini merupakan putaran distribusi rutin pertama sejak bulan April.
Menurut keterangan WFP, saat ini terdapat 44 titik distribusi aktif dari total target 145 titik di seluruh Gaza. Sementara itu, sekitar 700.000 orang menerima roti segar setiap hari melalui 17 toko roti yang didukung WFP — sembilan di Gaza bagian selatan dan tengah, serta delapan di wilayah utara.
Selain bantuan pangan langsung, WFP juga menyalurkan bantuan tunai digital kepada sekitar 200.000 orang, yang telah memenuhi target bulanan.
Meski demikian, keterbatasan akses masih menjadi hambatan utama. “Kami sangat membutuhkan lebih banyak akses, lebih banyak perbatasan yang dibuka, dan lebih banyak jalur utama di dalam Gaza yang bisa dilalui,” tegas Etefa. Ia menjelaskan bahwa hanya dua jalur perbatasan yang beroperasi saat ini, sementara pengiriman bantuan ke wilayah utara harus melewati jalur panjang yang rusak akibat serangan.
Sejak dimulainya gencatan senjata, WFP telah berhasil membawa masuk sekitar 20.000 metrik ton makanan — jumlah yang baru mencapai setengah dari kebutuhan sebenarnya. Meski terdapat sedikit perbaikan, sebagian besar keluarga di Gaza masih bertahan hanya dengan mengonsumsi sereal, kacang-kacangan, dan bahan makanan kering.
Sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh hampir 69.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 170.000 lainnya dalam serangan di Jalur Gaza. Blokade Israel terhadap wilayah yang dihuni hampir 2,4 juta penduduk ini telah berlangsung hampir 18 tahun, dan diperketat pada Maret lalu dengan menutup perbatasan serta menghalangi masuknya makanan dan obat-obatan, yang mendorong Gaza ke ambang kelaparan.
Masuknya bantuan ke Gaza baru dimulai setelah tercapainya gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hamas pada 10 Oktober, berdasarkan rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Namun, Israel telah berulang kali melanggar kesepakatan tersebut dengan melanjutkan serangan di berbagai wilayah.
Sumber: MEMO, AA
![konvoi truk bermuatan bantuan kemanusiaan melintasi zona penyangga dari Perlintasan Perbatasan Rafah Mesir untuk mencapai Gaza setelah kesepakatan gencatan senjata pada 28 Oktober 2025. [Ahmed Sayed – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/AA-20251028-39547151-39547147-AID_CONVOY_ENTERS_BUFFER_ZONE_FROM_RAFAH_CROSSING_FOLLOWING_GAZA_CEASEFIRE-750x375.webp)







