Dwikorita Karnawati Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, fenomena El Nino memicu kekeringan di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena itu juga yang membuat cuaca di Jakarta serta sejumlah kota lainnya terasa lebih panas dalam beberapa pekan belakangan. Fenomena ini juga membuat berkurangnya hujan atau udara basah yang dibawa ke wilayah Indonesia. Akibatnya, udara yang terasa di wilayah Indonesia relatif kering dan memiliki suhu yang semakin tinggi.
Menurutnya, cuaca panas dan kekeringan akibat El Nino akan terus terjadi beberapa bulan ke depan sampai November 2023. Sementara, puncak musim kemarau yang kering diperkirakan terjadi sampai pekan terakhir bulan Agustus. Namun demikian, Dwikorita sempat mengungkapkan bahwa El Nino tahun ini sebetulnya datang dengan intensitas lemah, level El Nino di Indonesia masih rendah dibandingkan negara lain seperti di India, Thailand, Vietnam. Bahkan Dwikorita menyebut intensitas di Indonesia paling rendah dibandingkan negara lain, namun tetap perlu kewaspadaan.
“El Nino ini intensitasnya lemah hingga moderat, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ketersediaan air atau kekeringan, juga produktivitas pangan atau berdampak terhadap ketahanan pangan,” kata Dwikorita beberapa waktu lalu.
Masyarakat di daerah terdampak terancam mengalami krisis ketersediaan air bersih yang berkepanjangan, risiko kebakaran hutan dan lahan, serta kelaparan berpotensi meningkat di daerah bersangkutan. Hasil pemetaan BMKG per 8 Agustus 2023 menyatakan, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam zona merah atau sangat mudah terjadi kebakaran lahan.

BMKG menyebutkan, wilayah-wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan rata-rata berada di Indonesia bagian selatan. Daerah rawan tersebut meliputi seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, serta bagian selatan Sumatera, Kalimantan, Makassar, dan Papua. Curah hujan di daerah ini diperkirakan di bawah 50 milimeter per 10 hari (dasarian) selama sebulan ke depan.
Data pemetaan bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, pada tahun ini setidaknya telah terjadi 45 kejadian bencana kekeringan hingga 2 Agustus 2023. Dari jumlah itu, 30 kejadian atau 66,7 persen terjadi pada Juli-Agustus. Jumlah ini jauh lebih tinggi daripada tiga tahun sebelumnya, yakni 43 kejadian pada 2022, sebanyak 15 kejadian pada 2021, dan 26 kejadian pada 2020.
Peningkatan intensitas tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi masih terus bertambah. Bahkan, kekeringan ini kemungkinan akan berkepanjangan hingga tahun berikutnya. BNPB mencatat, Indonesia pernah mengalami rentetan bencana kekeringan pada medio 2003–2008. Sepanjang lima tahun itu, tercatat setidaknya terjadi 1.147 bencana kekeringan selama lima tahun atau rata-rata 191 kejadian per tahun.
Pemerintah sudah mulai berusaha menyiapkan bantuan di daerah-daerah dengan risiko tinggi kekeringan dan cuaca ekstrem. Hal ini juga disertai dengan pendirian lumbung-lumbung pangan dan posko karhutla di lokasi rawan untuk mengantisipasi kebakaran lahan akibat kekeringan. Namun, upaya penanggulangan ini perlu dibarengi dengan keseriusan masyarakat dalam ikut ambil pencegahan yang bersifat jangka panjang. BNPB mengimbau warga untuk bijak menggunakan air bersih.
Sejumlah contoh yang telah terbukti efektif adalah dengan membudayakan hidup hemat air, membuat wadah penampung hujan, dan melakukan konservasi lingkungan di sekitar mata air. Selain itu juga dapat dilakukan cara preventif dengan menanam pohon, menghentikan alih fungsi lahan hutan, dan menjaga kebersihan sungai.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








