Warga desa Palestina Susiya kembali menjadi sasaran kekerasan pemukim Israel yang didukung militer. Setelah bertahun-tahun menyaksikan pohon zaitun mereka ditebang dan ladang dirusak, warga kini menghadapi serangan langsung ke sumber air dan listrik—upaya sistematis yang diduga bertujuan untuk memaksa mereka angkat kaki dari tanah mereka sendiri.
“Mereka ingin kami hidup tanpa air, dan sekarang mereka juga memotong kabel listrik,” ujar Mousa Mughnem (67), warga Susiya yang tinggal bersama istrinya, Najah. Desa ini terletak di dekat kota Hebron, di Tepi Barat yang telah diduduki Israel sejak 1967. Aksi ini merupakan bagian dari gelombang kekerasan pemukim Israel yang meningkat sejak agresi pada 7 Oktober 2023.
Otoritas Palestina menyatakan bahwa para pemukim, yang mendapat dorongan dari menteri-menteri sayap kanan Israel, tengah berupaya memaksa warga Palestina meninggalkan tanah mereka agar dapat merebutnya. Tindakan ini termasuk pemukulan terhadap petani, pembakaran kebun zaitun, perusakan saluran air dan listrik, serta larangan penggembalaan ternak.
Jihad Al-Nawajaa, kepala dewan desa Susiya, menyebut kekurangan air telah mencapai titik yang tak tertahankan. “Mereka membuat kami kehausan agar kami pergi. Laporan organisasi HAM Israel, B’Tselem, mencatat lebih dari 50 insiden kekerasan pemukim di Susiya sejak Oktober 2023. Militer Israel mengklaim telah mengintervensi, meskipun pernyataan mereka menyebut bahwa “tidak ada luka-luka” dalam insiden terbaru pada Senin (28 Juli). Bagi warga Susiya, pohon zaitun bukan sekadar tanaman, tapi bagian dari sejarah dan identitas. “Meskipun mereka membakar atau menebang pohon-pohon itu, kami tidak akan pergi,” tegas Najah Mughnem.
Fawziyeh Al-Nawajaa, warga berusia 58 tahun, menggambarkan ketegangan harian yang mereka hadapi, “Kami hidup dalam ketakutan.Kami tidak bisa tidur dengan tenang, siang atau malam.”
Susiya telah menghadapi ancaman pembongkaran selama puluhan tahun. Pada tahun 1986, warga dipaksa keluar dari gua-gua tempat tinggal mereka karena alasan ditemukannya situs arkeologi. Kini mereka hidup di tenda dan bangunan darurat, terjepit antara permukiman ilegal Yahudi di selatan dan situs arkeologi yang dikontrol Israel di utara.—semuanya adalah wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak Perang 1967.
Sumber:
https://www.reuters.com/world/middle-east/palestinians-west-bank-village-face-new-crisis-settlers-cut-off-water-2025-07-30/
https://www.newarab.com/news/west-bank-village-faces-new-crisis-settlers-cut-water








