Upscrolled Lawan Pembungkaman Suara Palestina
Sejak pecahnya genosida Israel terhadap Jalur Gaza pada Oktober 2023, mesin kekerasan tidak hanya terbatas pada penghancuran nyawa dan rumah. Akan tetapi, kekerasan tersebut juga menargetkan kebenaran itu sendiri di ranah digital.
Warga Palestina seringkali mendokumentasikan penderitaan mereka di bawah bombardir tanpa henti. Namun melalui gambar, video, dan kesaksian langsung, mereka menghadapi perang paralel dari platform media sosial utama. Algoritma menjadi alat penghapusan, menekan konten, membatasi jangkauan, dan memberlakukan bentuk pembisuan digital. Hal ini terjadi melalui larangan terselubung dan aturan moderasi yang tidak transparan.
Pembungkaman sistematis terhadap suara-suara Palestina ini bukanlah kerusakan teknis atau kelalaian yang terisolasi, melainkan upaya sengaja untuk mengisolasi para korban dari kesadaran global. Selain itu, hal tersebut juga merampas salah satu alat paling ampuh Palestina di era modern: penyampaian cerita secara digital.
Sebagai respons terhadap bias digital yang semakin dalam, muncul kebutuhan akan platform independen. Platform tersebut harus mampu menembus blokade informasi, ruang-ruang yang tidak berada di bawah kendali kepentingan korporasi atau tekanan politik.
Di tengah pertumpahan darah yang terus berlanjut, aplikasi Upscrolled rilis pada akhir 2023 dan awal 2024. Platform ini merupakan respons teknologi terhadap pembatasan oleh platform besar seperti Meta dan TikTok pada konten Palestina.
Penggagas proyek ini merupakan seorang pengembang Palestina-Australia, Issam Hijjazi. Ia merupakan seorang ahli teknologi yang telah bekerja untuk perusahaan global termasuk IBM dan Oracle. Gagasan Hijjazi terbentuk setelah berulang kali terjadi pembatasan di akun media sosial pribadinya dan setelah puluhan anggota keluarga besarnya meninggal di Gaza. Pengalaman-pengalaman ini mendorongnya untuk menciptakan ruang digital independen yang bebas dari campur tangan politik.
Respons Teknologi terhadap Pembatasan Meta
Upscrolled berfungsi sebagai platform berbagi video berdurasi pendek. Ia memosisikan dirinya sebagai pesaing langsung TikTok dan Instagram Reels, tetapi dengan pendekatan algoritma yang pada dasarnya berbeda. Sementara platform lain menekan konten yang berlabel “sensitif” atau politis, Upscrolled mengandalkan sistem distribusi yang adil. Ia menyampaikan konten kepada pengguna berdasarkan keterlibatan dan minat yang tulus. Platform ini juga tidak memblokir kata kunci yang terkait dengan isu kemanusiaan atau politik.
Hanya dalam beberapa bulan, aplikasi ini meraih popularitas yang signifikan. Ia menduduki peringkat di antara aplikasi yang terunduh paling banyak melalui Apple Store dan Google Play. Aplikasi ini mencapai peringkat ke-11 di Amerika Serikat dan peringkat ke-12 di Inggris Raya. Peningkatan pesat ini mencerminkan meningkatnya minat global terhadap platform yang melindungi kebebasan berekspresi. Ini terjadi di saat sensor digital semakin menargetkan hak asasi manusia dan isu-isu terkait keadilan di seluruh dunia.
Upscrolled tidak hanya menampilkan dirinya sebagai platform hiburan, tetapi sebagai proyek yang berakar pada gagasan “demokrasi digital.” Hijjazi mempromosikan slogan “Suara Palestina tidak akan dibungkam,” sambil memperluas misi platform tersebut untuk menjangkau semua komunitas yang terpinggirkan dan tertindas yang menghadapi pengucilan digital.
Aplikasi ini mewakili sebuah model penggunaan sains dan teknologi sebagai alat perlawanan tanpa kekerasan. Ia bahkan mampu melintasi batas negara dan menjangkau khalayak global di luar jangkauan sensor.
Sumber: Palinfo








