Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Selasa menyatakan bahwa anak-anak merupakan separuh dari total populasi Jalur Gaza yang berjumlah 2,4 juta jiwa, dan kehidupan mereka dibentuk oleh “perang dan kehancuran”.
“Anak-anak merupakan setengah dari penduduk Gaza. Hidup mereka diwarnai oleh perang dan kehancuran,” demikian pernyataan resmi UNRWA. Lembaga tersebut menambahkan bahwa anak-anak Gaza kini tidak lagi bersekolah, terus-menerus mengungsi, dan hampir tidak mendapatkan makanan.
“Ada satu juta anak-anak di Gaza,” tegas UNRWA, sambil menyerukan gencatan senjata segera demi masa depan anak-anak dan kawasan secara keseluruhan. Laporan-laporan hak asasi manusia juga menunjukkan bahwa anak-anak dan perempuan merupakan kelompok yang paling terdampak dalam agresi genosida yang sedang berlangsung ini, yang telah menghancurkan hampir seluruh aspek kehidupan dan infrastruktur dasar di Gaza.
Untuk tahun kedua berturut-turut, anak-anak Gaza tidak dapat mengakses ruang kelas karena sebagian besar sekolah telah dihancurkan oleh pasukan Israel. Beberapa sekolah yang masih berdiri pun kini telah diubah menjadi tempat pengungsian yang sesak bagi keluarga-keluarga yang terpaksa mengungsi.
Anak-anak Gaza tengah menjalani kenyataan yang sangat memilukan—kelaparan, kehausan, dan kehilangan rasa aman—akibat taktik Israel yang secara sistematis menghancurkan sumber pangan dan air, serta menutup rapat-rapat perlintasan perbatasan.
Pada akhir Juni, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa sejak awal 2024, sekitar 112 anak Palestina dirawat di rumah sakit setiap hari karena malnutrisi yang disebabkan oleh blokade ketat Israel.
Hingga saat ini, genosida tersebut telah menyebabkan lebih dari 194.000 warga Palestina menjadi korban, baik terbunuh maupun terluka—mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 11.000 orang dilaporkan hilang dan ratusan ribu lainnya mengungsi. Kelaparan akibat blokade juga telah merenggut nyawa banyak orang, termasuk puluhan anak-anak.
Sumber:
https://english.palinfo.com/news/2025/07/09/342884/








