Laporan terbaru UNCTAD mengungkap bahwa dua tahun agresi Israel telah menghancurkan fondasi pembangunan Gaza, memicu krisis ekonomi, sosial, dan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sejak Oktober 2023, agresi dan blokade menyebabkan keruntuhan total layanan dasar—mulai dari kesehatan, pendidikan, perbankan, hingga infrastruktur vital.
Ekonomi Gaza runtuh 87% pada 2023–2024, sementara GDP per kapita merosot menjadi US$161, salah satu yang terendah di dunia. Lebih dari 174.500 bangunan, termasuk rumah, sekolah, universitas, dan jaringan air-listrik, hancur. Seluruh penduduk Gaza kini terperosok dalam kemiskinan multidimensi dan sangat bergantung pada bantuan.
Krisis ini termasuk dalam sepuluh bencana ekonomi terburuk di dunia sejak 1960, dan Gaza menjadi kasus paling parah dalam catatan modern. Di Tepi Barat, pembatasan, penutupan wilayah, dan perluasan permukiman ilegal mendorong ekonomi ke titik terendah dalam sejarah, memperburuk pengangguran, kemiskinan, dan kehilangan akses layanan.
Sementara itu, Israel menahan dana lebih dari US$1,76 miliar milik pemerintah Palestina sejak 2019, menyebabkan layanan publik lumpuh dan anggaran negara mendekati kolaps. UNCTAD menegaskan bahwa rekonstruksi Gaza akan membutuhkan biaya lebih dari US$70 miliar dan memakan waktu puluhan tahun.
UNCTAD mendesak komunitas internasional untuk segera mencabut pembatasan ekonomi, memulihkan transfer fiskal, mempercepat bantuan kemanusiaan, serta menjamin gencatan senjata yang berkelanjutan. Hanya dengan langkah terpadu, proses pemulihan dan pembangunan Palestina bisa dimulai kembali.
Sumber: UNCTAD, Qudsnen







