Twitter telah memblokir akun jurnalis dan penulis terkemuka Palestina, Dr. Ramzy Baroud. Ini adalah contoh terbaru dari tindakan keras yang sedang berlangsung dari raksasa media sosial terhadap solidaritas Palestina. Selama beberapa tahun terakhir, media sosial telah meningkatkan penargetan kebebasan berbicara kritis terhadap Israel.
Twitter mengklaim bahwa tulisan Baroud baru-baru ini tentang perang Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza yang diblokade dan Tepi Barat, “melanggar aturan” perusahaan. Baroud adalah pengguna reguler media sosial, dan tweet terakhirnya adalah kompilasi video dari Palestine Chronicle yang menampilkan gambar dan informasi tentang tiga orang Palestina yang terbunuh di Nablus dalam serangan militer Israel pada Selasa (9/8). Padahal, video tersebut tidak menampilkan gambar kekerasan atau berdarah.
Akun Baroud kini telah aktif kembali. Ia menulis, “Saya tidak pernah melanggar ‘aturan komunitas.’ Ada yang terang-terangan membenarkan, bahkan memuji pembunuhan anak-anak di #Gaza dan Mereka tetap aktif di #Twitter dan platform media sosial lainnya.” Ini adalah pertama kalinya Baroud, seorang akademisi Palestina yang terhormat, penulis beberapa buku dan editor Palestine Chronicle, diblokir dari penggunaan platform populer.
Tindakan keras terhadap Baroud bukanlah hal yang langka atau unik. Dalam beberapa tahun terakhir, raksasa media sosial telah mempraktikkan “apartheid digital.” Dalam membela negara apartheid Israel, mereka juga telah mengadopsi kebijakan yang membungkam kebebasan berbicara yang mengungkap banyak kejahatan dan pelanggaran hak asasi manusia di negara penjajah. Perusahaan media sosial, mulai dari Zoom hingga Facebook dan Twitter, telah memperkuat penghapusan Israel atas warga Palestina, belum lagi media arus utama yang juga sering mendapat kecaman karena kemunafikan dan standar ganda mereka dalam meliput Israel dan Palestina.
Baroud sendiri telah meliput “perang melawan kebenaran” di platform media sosial. Dalam sebuah artikel, ia menyoroti, antara lain, penargetan Facebook terhadap Pusat Informasi Palestina (PIC). Raksasa media sosial itu menghapus halaman situs berita populer Palestina yang memiliki hampir lima juta pengikut. Baru-baru ini, Zoom, Facebook, dan YouTube memblokir acara akademik online “Whose Narratives? What Free Speech for Palestine?” yang disponsori bersama oleh program Studi Etnis dan Diaspora Arab dan Muslim (AMED) di Universitas Negeri San Francisco, Dewan Asosiasi Fakultas UC (CUFCA), dan Institut Penelitian Humaniora Universitas California (UCHRI).
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







