Kamis (4/8), lusinan orang Palestina diusir dari sebuah bus di Tel Aviv setelah tiga penumpang Yahudi naik dan menolak bepergian dengan penumpang non-Yahudi. Insiden tersebut merupakan yang terbaru dari banyak praktik rasis yang mengungkap kejahatan apartheid Israel.
Saksi mata mengatakan bahwa sekitar 50 pekerja Palestina berada di dalam bus ketika bus nomor 288 berhenti di daerah Bnei Brak di dalam Israel, kemudain tiga penumpang Yahudi naik. Setelah naik, mereka menolak untuk bepergian dengan orang-orang Palestina dan menuntut agar pengemudi memaksa penumpang non-Yahudi turun dari bus.
“Setelah beberapa bus lewat dan tidak berhenti, Bus 288 yang hanya untuk orang Yahudi saat itu kosong. Bus itu berhenti untuk kami kemudian kami naik,” kata M, salah satu penumpang Palestina. “Tapi tiga orang Yahudi kemudian naik ke Bnei Brak dan menuntut agar semua orang Arab turun.”
Sopir kemudian menghentikan bus di bawah jembatan dan menelepon atasannya, menurut M. Setelah panggilan itu, ia meminta semua warga Palestina untuk turun kemudian pergi hanya dengan para pemukim. Saat dikonfirmasi, perusahaan yang mengoperasikan rute bus menolak klaim bahwa mereka memiliki kebijakan diskriminasi, dan mengalihkan tanggung jawab atas praktik apartheid kepada “pengemudi baru”.
“[Rupanya] pengemudi baru di Bus 288 menjadi korban manipulasi memalukan dari seorang penumpang yang menyamar sebagai pegawai Kementerian Perhubungan,” kata perusahaan itu.
Di bawah hukum Israel, operator transportasi tidak boleh mengoperasikan layanan terpisah. Meski demikian, Israel memiliki banyak undang-undang dan praktik diskriminatif yang telah membuat kelompok-kelompok hak asasi manusia melabeli negara itu sebagai Negara Apartheid. Israel juga hampir mengadopsi kebijakan memisahkan orang Yahudi dari non-Yahudi di transportasi umum. Namun karena takut akan reaksi global, mengingat sejarah bus terpisah di AS, mereka mencegah kebijakan rasis itu untuk disahkan. Namun kemudian, mengalah pada tekanan dari pemukim Yahudi yang telah lama berkampanye untuk bepergian dengan bus khusus Yahudi, peraturan tahun 2015 muncul dari kementerian pertahanan Israel yang memisahkan penumpang berdasarkan ras.
Kebijakan itu memicu kemarahan. “Ketika sesuatu terlihat seperti apartheid dan berbau apartheid, maka itu apartheid,” kata Yariv Oppenheimer, dari kelompok kampanye Peace Now, yang merupakan salah satu dari banyak kelompok hak asasi yang menentang kebijakan rasis. Kebijakan itu akhirnya diblokir oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat itu.
Seperti yang telah ditunjukkan oleh para komentator, Israel jarang mempraktikkan ekspresi apartheid yang lebih terbuka yang dikenal sebagai apartheid kecil, seperti yang ditemukan di Afrika Selatan dan di Amerika Serikat di selatan era Jim Crow. Hal-hal seperti ruang tunggu dan kamar mandi bertanda “Hanya orang kulit hitam” dan “Hanya orang kulit putih”, dan membuat orang kulit hitam duduk di bagian belakang bus. Dengan kata lain, segregasi rasial ditegakkan pada tingkat yang paling mikro.
Namun demikian, ada peningkatan tanda-tanda bahwa Israel dapat bergerak menuju apartheid kecil tingkat mikro yang terbuka, seperti yang ditunjukkan oleh kebijakan bus terpisah dan juga langkah oleh walikota Israel untuk melarang warga Arab Palestina dari taman umum.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







