Jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal hingga Selasa (13/6) pukul 11.00 waktu Arab Saudi telah mencapai 57 orang. Berdasarkan data Pusat Kesehatan Haji Kementerian kesehatan (Kemenkes) RI, penyebab kematian pada jemaah haji ini terbanyak dipicu Infark Miokard Akut.
Adapun berdasarkan data Penyelenggaran Kesehatan Haji di Arab Saudi, terdapat tiga penyakit penyebab banyaknya jemaah haji wafat. Penyakit itu adalah infark miokard akut (17 kasus kematian), syok kardiogenik (12 kasus kematian), dan strok (3 kasus kematian) dari total 53 kematian per 12 Juni 2023.
Infark miokard akut adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh sumbatan pada arteri koroner. Syok kardiogenik adalah suatu kondisi ketika jantung tidak dapat memompa darah untuk mencukupi kebutuhan tubuh. Kondisi ini sering kali dipicu oleh serangan jantung berat. Strok adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak mengalami gangguan atau berkurang akibat penyumbatan (strok iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (strok hemoragik).
Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Makkah, Andi Ardjuna Sakti, menyampaikan, terkait dengan tingginya angka kematian jemaah haji bukan karena satu faktor, tapi ada beberapa faktor. Di antaranya karena faktor komorbid jemaah haji dan faktor aktivitas fisik yang dilakukan jemaah haji.
Mengenai langkah antisipasi yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kematian, Ardjuna mengatakan, ada beberapa upaya yang dilakukan Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Di antaranya melakukan pemeriksaan kembali jemaah haji yang berisiko tinggi (risti).
Sehubungan dengan itu, Kepala KKHI Makkah, Dokter Edi Supriyatna juga menyarankan kepada jemaah haji yang rentan terkena penyakit jantung untuk menjaga kesehatan menjelang puncak ibadah haji. Jemaah haji lansia yang berusia di atas 60 tahun agar tidak memaksakan diri melaksanakan salat dan umrah di Masjidil Haram. “Salat lima waktu dapat dilakukan di musala hotelnya, dan umrah sunnah memerlukan persiapan fisik dan merupakan aktivitas ibadah yang berat,” katanya.
Edi mengingatkan bahwa aktivitas fisik yang berat dapat mengakibatkan kelelahan dan memicu kekambuhan dan komplikasi dari penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan strok. Oleh karena itu, jemaah haji lansia atau yang memiliki riwayat penyakit kronis diimbau untuk menahan diri dari aktivitas ibadah yang berat di luar ruangan, seperti umrah sunah dan salat di Masjidil Haram.
“Jemaah haji diharapkan mematuhi arahan petugas dalam menjaga kesehatan sehingga dapat mengikuti prosesi puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Semoga menjadi haji yang mabrur dan sehat sampai kembali ke Tanah Air bersama keluarga,” kata Edi.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








